Gluttony Versus Puasa

7 Penyakit Hati

3. Lust X Nikah

Penyakit hati yang ketiga adalah Lust atau nafsu. Hawa nafsu adalah sebuah kekuatan emosional yang langsung berkaitan dengan pemikiran atau fantasi tentang hasrat seseorang, biasanya berkenaan dengan seks. Hawa nafsu terdiri dari dua kata: hawa (الهوى) dan nafsu (النفس). Dalam bahasa Melayu, ‘nafsu’ bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (=hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan makanan. Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan bersetubuh.

Ketiga perkataan ini (hawa, nafsu dan syahwat) berasal dari bahasa Arab:

  • Hawa (الهوى) :  sangat cinta, kehendak
  • Nafsu (النفس) :  roh, nyawa, jiwa, tubuh, diri seseorang, kehendak, niat, selera, usaha
  • Syahwat (الشهوة) :  keinginan untuk mendapatkan yang lezat, berahi.

Sahabat Viewers, mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal daripada kenikmatan yang didapatkan. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan dapat merusak potensi diri seseorang. Setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi tersebut. Potensi yang dimaksud adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul ke dalam realita kehidupan. Oleh karena itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi seseorang yang mendambakan keseimbangan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Karena hanya dengan berjalan di jalur yang benar, manusia dapat mencapai hal tersebut.

Sebagai manusia normal baik laki-laki maupun perempuan memiliki kebutuhan biologis dasar yaitu kebutuhan akan hubungan seks. Untuk yang sudah dewasa dan sudah menikah, hal ini terasa mudah karena sudah memiliki pasangan. Salah satu keunggulan orang yang sudah menikah dengan orang lajang adalah ia bisa memenuhi kebutuhan seksualnya kapan pun dan dimana pun karena ia sudah halal melakukannya dengan pasangannya. Akan tetapi untuk yang masih ABG (Anak Baru Gede) dan remaja akan sangat berbahaya apabila tidak mampu mengendalikan nafsu birahi yang menggelora yang siap meledak kapan saja.

Laki-laki dan perempuan yang belum menikah harus mengetahui bagaimana cara untuk mengendalikan nafsu seksualnya agar terhindar dari berbagai dampak buruk ketidakmampuan menahan nafsu birahi. Banyak yang telah terjerumus dalam kehancuran akibat dari gagal menahan nafsu yang harus ditanggung seumur hidup. Sangat disarankan bagi orang-orang yang sudah cukup umur bersegera untuk menikah sah secara agama dan hukum pemerintah.

Berikut ini adalah beberapa cara untuk menghilangkan atau mengendalikan hawa nafsu seks seseorang apabila tidak punya pasangan yang sah :

  1. Hilangkan/Singkirkan Pikiran Kotor
    Jangan suka melamun memikirkan yang tidak-tidak dengan lawan jenis. Pikiran yang kotor dapat membangkitkan gairah seksual kita walaupun hanya dengan membayangkan sesuatu. Ubah pikiran yang mulai kotor dengan memikirkan sesuatu yang lain yang lebih penting dan serius.
  2. Hindari Menikmati/Melihat Yang Porno dan Vulgar
    Jangan sampai kita memiliki materi-materi atau pun berusaha mengakses hal-hal yang cabul, vulgar, porno, dan lain sebagainya seperti membaca cerita panas, melihat gambar telanjang, nonton film porno, dan lain-lain.
  3. Batasi Hubungan Dengan Lawan Jenis
    Jangan terlalu banyak berkomunikasi dengan lawan jenis. Terutama lawan jenis dengan penampilan fisik dan gayanya dapat membangunkan nafsu untuk memiliki atau sekedar merasakan kehangatan dari dirinya. Terlalu dekat dengan lawan jenis bisa memicu pikiran kotor.
  4. Perbanyak Kegiatan Yang Menguras Tenaga dan Waktu
    Ikutlah ekstrakurikuler, kursus, bimbingan belajar, les, kelompok olahraga, club bikers, pekerjaan sambilan, pekerjaan tambahan dan lain-lain. Dengan sibuk dengan berbagai aktivitas dapat menyebabkan kita lelah untuk berpikir kotor.
  5. Rajin Puasa dan Ibadah
    Dengan taat beribadah dan rajin puasa maka otomatis kita akan sangat terlarang untuk melakukan hal yang melanggar kesusilaan. Berpikir kotor saja tidak apalagi melakukan hal-hal yang dilarang agama yang dosa besar apabila dikerjakan.
  6. Tidak Pacaran
    Pacaran sangat mengundang untuk melakukan kontak fisik baik laki-laki maupun perempuan. Mungkin awalnya hanya berpegangan tangan lalu menjadi hubungan fisik yang lebih parah. Sebaiknya jangan pacaran dulu jika tujuannya hanya untuk iseng-iseng saja.
  7. Rajin Bersosialisasi Dengan Teman dan Keluarga
    Memiliki hubungan yang sehat dan dekat dengan teman-teman dan keluarga besar kita akan membuat kita bisa meredakan birahi hanya dengan berkomunikasi dengan mereka. Apalagi dengan yang masih anak-anak atau ABG, pasti lebih sibuk lagi.
  8. Selalu Berpikir Efek Dampak Buruknya
    Apabila kita mengetahui keburukan-keburukan dari hubungan seks bebas tanpa ikatan pernikahan maka kita akan merasa takut untuk melakukannya. Berhubungan intim dengan pasangan yang tidak halal itu penuh resiko, merupakan dosa yang besar, dapat merusak rumah tangga orang lain dan berpotensi merusak nasib diri sendiri dan orang lain.
  9. Membuat Prinsip
    Dengan prinsip hidup yang bersih, tidak mau melakukan hal-hal yang memanjakan hawa nafsu akan memperkuat benteng pertahanan kita dalam meredakan syahwat yang ada pada diri kita. Tetap konsisten dalam menjaga prinsip hidup kita dan jangan mudah terpancing untuk melanggarnya.
  10. Main Sendiri (Sangat Tidak Direkomendasikan)
    Onani atau masturbasi merupakan jalan pintas terbaik bagi yang tidak bisa menahan nafsu pribadi dengan jalan memberi kepuasan bagi diri sendiri. Cara ini dilarang agama, membuat kecanduan, solusi jangka pendek dan bisa merusak hubungan dengan pasangan yang sah di kemudian hari.

Lust Versus Nikah

Sahabat Viewers, obat untuk memerangi nafsu syahwat adalah dengan menikah. Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri dalam ikatan perkawinan.

Akad Nikah di dalam Islam tidaklah seperti akad biasa. Al-Quran mengungkapkan pernikahan ini dengan tiga sebutan. Pernikahan adalah âyat (tanda kekuasaan Allah) sekaligus ‘uqdah (simpul ikatan) dan mîtsâqun ghalîzh (janji yang berat). Akad Nikah dalam Islam adalah ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT). Al-Quran banyak berbicara tentang ayat-ayat kekuasaan Allah SWT, dan seringkali kemudian diawali atau diakhiri dengan puji-pujian kepada Allah SWT. Hal ini mengisyaratkan bahwa Al-Quran mengajarkan kita untuk selalu mensyukuri ayat-ayat Allah itu dengan banyak beribadah dan melantunkan puji-pujian kepada-Nya. Karena semua itu adalah nikmat Allah bagi kita. Di dalam surat Ar-Rûm disebutkan bahwa Nikah adalah salah satu ayat Allah SWT. Ayat, karena Allah menciptakan mahluk secara berpasang-pasangan. Ayat, karena Allah telah meletakkan kedamaian, cinta dan kasih sayang di antara pasangan suami dan istri, dan ayat ini tentunya harus disyukuri karena merupakan nikmat yang sangat agung.

Akad dalam bahasa Arab berarti ikatan janji. Di dalam Islam janji adalah sesuatu yang wajib ditepati, sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 1, “Wahai orang-orang yang beriman penuhilah janji-janjimu.” Setiap ikatan janji tentunya akan melahirkan hak-hak dan kewajiban di antara kedua belah pihak yang berjanji. Akad juga berarti mengikat atau menyimpulkan. Maka laki-laki dan perempuan yang melakukan akad nikah berarti keduanya telah mengikat simpul ikatan hidup bersama. Ikatan kebersamaan yang harmoni dan langgeng. Ikatan hubungan yang akan diteruskan kelak di surga Allah SWT.

Jika menepati konsekuensi akad secara umum diwajibkan, maka memenuhi hak dan kewajiban yang terlahir dari akad nikah tentunya lebih diwajibkan. Sebab akad nikah adalah sebuah ikatan perjanjian yang suci dan agung antara suami dan istri, bukan sekedar janji biasa. Karena ia marupakan ikatan janji yang suci dan mulia. Akad ini akan melahirkan hak dan kewajiban yang suci dan mulia. Jika hak dan kewajiban tersebut tidak ditepati dan dilaksanakan maka akan berakibat kebalikan dari suci dan agung bagi pelaku akad ini, yaitu kenajisan dan kehinaan.

Di dalam Al-Quran Allah SWT menyatakan Akad Nikah dengan sebutan mîtsâqun ghalîzh (janji yang berat). Kata mîtsâqun ghalîz ini hanya disebutkan tiga kali di dalam Al-Quran. Pertama, untuk akad pernikahan (An-Nisâ: 21). Kedua, perjanjian antara para nabi dengan Tuhan mereka, untuk menyampaikan risalah Allah, seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al-Ahzâb ayat tujuh. Kemudian dalam ayat kedelapan Allah menjelaskan bahwa janji ini adalah untuk menguji siapa yang sungguh-sungguh dalam menepatinya. Ketiga, janji Bani Israil terhadap Allah SWT. untuk mengemban risalah tauhid di atas dunia. Janji yang karenanya Allah mengangkat gunung untuk ditimpakan di atas kepala Bani Israil sebagai ancaman bagi mereka yang tidak mau menepati janji. Namun mereka kemudian tidak menepati janji, sehingga mendapatkan laknat dari Allah SWT.

Pernyataan bahwa akad nikah adalah mîtsâqun ghalîzh, mengisyaratkan bahwa hubungan suami istri merupakan hubungan yang berkonsekuensi besar seperti konsekuensi janji para nabi dan bani Israel di atas. Siapa saja yang menepati janji itu, maka dia tergolong orang yang jujur dan benar serta berada dalam jalan yang lurus. Sedangkan siapa yang tidak menepatinya, dengan tidak menjalankan hak dan kewajiban maka ia akan mendapatkan laknat dari Allah SWT.

Suami memiliki hak terhadap istrinya. Hak suami adalah kewajiban istri. Hak istri adalah kewajiban suami. Oleh karena itu suami dan istri harus mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing. Di antara hak yang paling dibutuhkan oleh suami dari istrinya adalah sikap menghormati dan mengakui kebaikan suami. Di dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa salah satu di antara sebab utama yang menjadikan sebagian besar isi neraka adalah perempuan karena mereka tidak pandai berterimakasih dan sering mengingkari kebaikan suaminya. Hak suami yang juga sangat dibutuhkan dari istri adalah mengemban tanggung jawab sebagai istri dengan baik, seperti mengatur rumah tangga dengan baik, mengungkapkan perasaan cinta dan saling mempercayai, bertukar pembicaraan, perkataan yang indah, membantu menanggung beban keluarga, menyiapkan makanan dan amanah terhadap harta suaminya.

Istri sebagai teman hidup suami juga memiliki hak-hak yang menjadi kewajiban bagi suami. Sebagai suami ia harus mengetahui dengan baik hak-hak istrinya. Ia harus memahami untuk apa ia menikah. Ia harus mengetahui kekhususan dan fitrah yang Allah ciptakan bagi perempuan yang banyak berpengaruh terhadap sikap dan tindakannya, sehingga dengan demikian seorang suami dapat berlapang dada dan mengerti bagaimana harus bersikap terhadap istrinya dan tidak gegabah dalam bertindak. Sebagai suami ia harus mengetahui kriteria suami sukses dan kriteria suami yang gagal. Sebagai suami yang mencintai istri, ia harus menghormati dan tidak merendahkan istrinya.

 Tujuan Pernikahan Dalam Islam

 Berikut ini adalah beberapa tujuan dari pernikahan menurut Islam :

  1. Tuntutan Naluri Manusia
    Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan akad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang amat kotor dan menjijikkan, seperti cara-cara orang sekarang ini; dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.
  2. Benteng Akhlaq
    Pernikahan berfungsi untuk membentengi manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabatnya. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.
    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.”
  3. Ibadah
    Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadahan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain, bahkan berhubungan suami isteri pun termasuk ibadah (sedekah).
    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Seseorang di antara kalian bersetubuh dengan isterinya adalah sedekah!” (Mendengar sabda Rasulullah, para Sahabat keheranan) lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya terhadap isterinya akan mendapat pahala?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika ia (seorang suami) bersetubuh dengan selain isterinya, bukankah ia berdosa? Begitu pula jika ia bersetubuh dengan isterinya (di tempat yang halal), dia akan memperoleh pahala.”
  4. Keturunan Yang Shalih
    Tujuan pernikahan di antaranya adalah untuk memperoleh keturunan yang shalih, untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
     “Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” [An-Nahl : 72]

Sahabat Viewers, pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mendidik anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah. Tentang tujuan pernikahan, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam. Sahabat, jadilah laki-laki baik dan sholeh. Untuk Sahabat muslimah, jadilah baik dan sholehah. Karena lelaki baik untuk perempuan baik dan sebaliknya. Mari jadi baik dan sholeh/sholehah yuk ! Dan temukan kebahagiaan dengan pernikahan.

–>>4. Greed X Qona’ah

About these ads

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s