Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Cinta

Leave a comment

“Cinta, ruh yang mengalir lembut, menyenangkan, bersinar, jernih dan ceria. Cinta, luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderas, jerih dan badai. Sulitkah mencinta?”

Kalimat ini aku dapat dari sebuah buku, sayangnya aku lupa lagi buku apa. Tapi aku akan menjelaskannya menurut pemahamanku sendiri.

Cinta, ruh yang mengalir lembut, menyenangkan. Cinta bisa membuat orang bergembira, bersuka ria, bisa dekat dengan kekasih tercinta, bercanda tawa, saling menebar senyum dan sapa. Cinta, bersinar. Menyinari setiap inchi ruang di relung hati, rasa yang berbunga-bunga. Sepanjang jalan adalah jalan cahaya, jalan yang disinari oleh cinta. Cinta, jernih. Bening sebening embun, putih seputih salju, apa yang kita lakukan karena cinta dilakukan dengan hati yang tulus ikhlas untuk memberi, untuk saling berbagi. Cinta, ceria. Tak ada yang lebih bahagia, jika hati sedang ceria, senantiasa bersanding dengan orang yang kita cinta, selalu bersama saat duka maupun lara.

Cinta, luh yang mengalir lembut, menyesakkan. (Luh ? Sampai saat ini saya belum mengetahui apa artinya, tapi mungkin maknanya tak jauh beda dengan ruh, atau mungkin penulis buku itu salah ketik, ah… tak apalah, yang penting kita lanjutkan saja). Cinta, menyesakkan. Sesak dada ini ketika sakit hati, patah hati atau putus cinta. Sakit bukan main. Sakit yang menyamai virus (merusak, mengacaukan, menghapus, membingungkan). Cinta, berderai. Derai air mata seakan air terjun Niagara, terus mengalir tanpa henti saat kepedihan dan kesedihan hinggapi diri, masalah dengan si jantung hati dan saat rasa hampa menyelimuti diri ditinggal sang pujaan hati. Cinta, jerih. Jerih payah berusaha mendapatkan cinta, memperbaiki cinta atau saat menghadapi situasi yang tak berdaya. Cinta, badai. Badai yang menerpa dan menghempaskan jiwa raga dari nalar, rasa serta sukma. Membuat diri ini sampai tak berdaya menghadapi ujian cinta dan ribuan masalah yang menyertainya. Badai cinta ini mengikis habis segalanya. Kepercayaan, kasih sayang, rasa untuk saling melindungi dan mengikis cinta itu sendiri.

Sulitkah mencinta?

Tidak sulit namun tidak mudah. Segala sesuatu mempunyai dua sisi. Untuk cinta, ada cinta yang jernih, ada cinta yang jerih. Seperti putaran roda. Kadang di atas kadang di bawah. Kita bisa mengalami keduanya. Yang terpenting adalah walau seberapa besar badai menghadang ingatlah selalu asalnya cinta. Cinta itu putih, tulus dan lembut. Janganlah kamu dibutakan karena cinta. Kita mencinta seseorang tapi hati, pikiran dan rasa harus tetap terbuka. Berpikirlah, berpikirlah dan berpikirlah dalam mengambil suatu tindakan atas nama cinta, agama, negara, adat, moral dan etika. Siapa yang berbuat dialah yang bertanggung jawab.

Intinya adalah pengendalian diri. Cinta bisa nyaman jika kita menyetirnya di jalur aman. Cinta pun bisa sangat mengerikan jika kita menyetirnya di jalur larangan. Semuanya tetap kembali kepada diri sendiri. Pilihan akan selalu ada menunggu dirimu untuk memilih. Jadi pilihlah jalan hidup yang baik. Hidup dengan penuh cinta kasih dan sayang kepada sesama. Hidup ini hanya satu kali, bukan? Maka jangan biarkan menjadi tidak berarti. Selamat mencinta. Curahkanlah segala kasih sayangmu terhadap semua orang yang kamu cintai dan sayangi. Kamu tidak akan merasakan betapa berartinya seseorang kecuali saat kamu kehilangan mereka. Lakukanlah yang terbaik untuk mereka sebelum kamu kehilangan mereka. Sebelum kamu menyesalinya. Salam hangat dariku untuk semua orang yang kamu cintai dan terutama untukmu.

Sekali lagi, selamat mencinta…!

Temukan keindahan Pearl di sini.

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s