Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Satu Tenggelam, Yang Lain Menyelam

1 Comment

“Di lautan nikmat dua makhluk terpisah. Yang satu tenggelam, yang lain menyelam. Kau tahu apa bedanya?”

Laut, penuh air dan hewan. Berombak dan dalam. Manusia sangat menyukai laut. Mereka selalu penasaran dengan kehidupan di dalam laut. Mereka berbondong-bondong mencari berbagai hal. Ada yang menyelam jauh ke dalam dengan berbagai alat selam yang lengkap.

Namun tak sedikit orang yang tenggelam di laut akibat tidak sengaja atau memang ia tenggelam karena ulahnya sendiri.

Jika keduanya berada di tempat dan waktu yang bersamaan, terlihat jelas perbedaannya. Si penyelam aman di baju selamnya. Ia bebas kesana-kemari selama tabung oksigennya masih ada. Sedangkan orang yang tenggelam meronta-ronta berusaha naik ke permukaan namun ia tetap tidak bisa. Kejadiannya sangat cepat. Ia sampai tidak sempat mengambil nafas. Ia tenggelam ke dalam lautan yang dalam, gelap dan mengerikan. Ia tenggelam karena kecerobohannya terjatuh dari ‘Perahu Kehidupan’. Ia tidak memakai ‘Pelampung Iman’ yang diberikan oleh ‘Sang Kapten’. Yang lainnya tenggelam karena kebodohannya sendiri. Ia sengaja menenggelamkan diri untuk bunuh diri. Ia bosan hidup di Bumi. Ia adalah pecundang yang malang. Hidup tidak bersyukur. Mati diazab kubur kemudian masuk neraka Jahannam dengan api yang menyala-nyala siap melebur setiap jiwa yang takabur dan kufur.

Seperti itulah hidup. Akan selalu ada pilihan yang harus diambil. Apakah kamu akan mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam menyelami lautan kehidupan atau malah mengabaikan-Nya?

Dalam lautan nikmat pun selalu ada pilihan. Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat tersebut. Nikmat bisa menjadi anugerah, bisa juga menjadi cobaan atau ujian. Misalnya, Nabi Sulaiman. Beliau diuji dengan harta yang melimpah ruah. Separuh Bumi ia miliki. Beliau juga mempunyai kerajaan yang besar nan megah dan para jin yang patuh kepadanya. Tapi beliau sanggup menjalaninya. Beliau tidak lantas menjadi sombong, kikir atau merasa memiliki segalanya. Beliau kuat dalam menghadapi semuanya dan tak lupa untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Asy-Syakur. Jadi apa yang akan kau pilih, Kawan? Mau menyelam aman atau tenggelam menuju kematian?

Temukan Keindahan Pearl di sini.

Advertisements

One thought on “Satu Tenggelam, Yang Lain Menyelam