Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 1 – Pria Tepi Sungai

Leave a comment

Tokoh : AL

Seekor elang terbang berputar-putar di atas Lembah Atlas. Elang itu bertubuh besar dengan paruh yang kukuh, sayap yang terbentang lebar dan gagah serta sepasang cakar yang kuat. Matanya lincah menyapu semua pandangan di sekitar lembah. Lengkingan suaranya nyaring hingga terdengar sampai kejauhan. Sang Elang turun menukik dengan cepat. Seekor kelinci yang sedang makan rumput di bawah kaki lembah, lari tunggang langgang secepat yang ia bisa. Sementara di atasnya elang itu terus mengejar mangsa yang sudah ia intai sejak tadi. Kelinci itu terus berlari. Melompat-lompat. Lari kesana kemari sebelum akhirnya kelinci itu memutuskan untuk segera masuk ke sebuah lubang tempat ia bersarang di pelataran hutan. Namun, empat kaki yang dimiliki Sang Kelinci, mata yang selalu waspada dengan penglihatan 360 derajat dan kuping yang tajam mendengar ternyata belum bisa mengalahkan kecepatan Sang Elang. Dengan tangkas dan prediksi yang tepat Sang Elang berhasil menangkap Sang Kelinci tepat sebelum ia akan masuk ke dalam lubangnya. Kelinci itu meronta-ronta di dalam cengkeraman cakar elang yang kuat dan tajam. Tak ayal darah keluar sedikit demi sedikit akibat tekanan cakar terhadap tubuhnya. Sang Elang mengepak-ngepakkan sayapnya lalu terbang ke atas menuju sarangnya di sebuah pohon di atas Lembah Atlas. Segera setelah sampai di sarang, Sang Elang mencabik-cabik tubuh kelinci malang tersebut. Dan ia pun makan dengan lahapnya hingga tiada yang tersisa kecuali bulu-bulu putih dengan bercak darah yang masih segar.

Sementara itu di pinggiran sungai di samping Lembah Atlas tergeletak seorang pria. Tubuhnya terlihat lemas. Wajahnya pucat seperti mayat. Badannya kaku tak bergerak sedikit pun. Wak..Wak…Wak .! Suara elang kembali terdengar. Ia turun dari singgasananya menuju tepi sungai. Ia bertengger tepat di atas dada pria tersebut. Kemudian ia mematuki dada pria itu. Beberapa saat kemudian pria itu membuka mata.

Cahaya. Putih. Ow sungguh menyilaukan. Dimana aku ini? Oh tubuh ini berat sekali. Hey ada apa di atas dadaku ini? Elang?Aku melihat lurus ke mata Sang Elang. Sang Elang balik menatapku kemudian ia terbang menjauh memberiku ruang. Ia hinggap di atas dahan sebuah pohon tak jauh dari tempatku berbaring. Sedikit demi sedikit aku mencoba untuk mengumpulkan tenaga yang tersisa. Aku bangun sambil memegangi kepala. Sakit sekali kepalaku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku?

Dari kejauhan seorang anak berlari. Ia melambai-lambaikan tangan kepada ayahnya yang tertinggal jauh di belakang. “Ayo Ayah cepat ! Orang itu sudah bangun.” Orang yang dipanggil ayah berhasil mengejar anaknya. Masih dengan nafas yang tersengal-sengal ia menegur anaknya. “Rega, kau ini cepat sekali. Ayah sampai tidak kuat mengejarmu.”

Sementara ayahnya mengatur nafas, Rega mendekati pria tersebut. Sudah tiga hari berturut-turut ia dan ayahnya mengunjungi Pria Tepi Sungai, sebutan yang Rega buat sendiri. Rega masih ingat tiga hari yang lalu ketika ia dan ayahnya memancing di sungai tiba-tiba saja ada sebuah benda yang jatuh dari langit dengan kecepatan tinggi mengarah kepada mereka berdua. Spontan mereka menghindar untuk menyelamatkan diri. Jika saja tidak lari maka nasib mereka sama dengan pepohonan yang hancur tetapi bukan karena api dari sebuah meteorit melainkan hancur setelah membeku akibat dari tabrakan benda tak dikenal tersebut. Rega dan ayahnya berjalan perlahan mendekati benda tak dikenal. Dengan perasaan takut sekaligus penasaran mereka terus mendekati benda tersebut. Semakin dekat mereka bisa mengetahui bahwa benda yang jatuh dari langit itu adalah sebuah bongkahan es yang sangat besar dan samar-samar terlihat di dalamnya terdapat seseorang.

Kini ia melihat orang yang berada di dalam bongkahan es tempo hari. Rega yakin ia menemukan sesuatu yang sangat menarik. Berbeda dengan ayahnya yang sedikit waspada. Ayahnya hanya melihat dari kejauhan.

“Hai, namaku Rega.” Ia menjulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambut tangan kecilnya. “Al. Namaku Al.” Rega tersenyum kemudian menarik tanganku untuk membantuku berdiri.

“Dimana aku?”

Rega dan ayahnya memapahku ke rumahnya. “Kau ada di Kota Nicnic. Dan sungai ini bernama Nailreb River. Mari ikut kami.”

Kami berjalan menuju sebuah desa tak jauh dari Nailreb River. Aku masih bingung dengan apa yang aku alami sekarang. Tapi hatiku berkata aku harus ikut kedua orang ini. Apalagi dalam kondisiku sekarang aku sangat lemah dan tak berdaya. Aku akan temukan jawabanku nanti. Pasti.

Baca cerita selanjutnya —->

Chapter 2 – BX Corp

Daftar Isi : First Battle

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s