Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

PEJABAT LAKNAT

Leave a comment

Jutaan rakyat tengah berdemo hebat

Menagih janji pejabat yang jadi kandidat

Pada saat pemilihan rakyat

Dan kini mereka sedang curhat

.

“Kami hidup di negara yang konon kaya dan bermartabat

Tapi hidup kami kian hari kian melarat

Tinggal berdesakan di pemukiman padat

Karena tanah negara banyak dibangun gedung-gedung bertingkat

.

Apa anda tahu, Wahai Pak Pejabat ?

Anak kami sekolah tak pernah sampai tamat

Sehari kami makan, sehari tidak, itu pun jika sempat

Wahai wakil rakyat yang katanya terhormat

Bukankah engkau itu wakil kami, para rakyat

Mengapa tak kau tuntaskan cepat-cepat masalah rakyat

Mengapa tak pernah kau dengar kami, Pak Pejabat

Apa engkau kesambat jin penunggu kuburan keramat

Hingga buta tuli akan kami yang sekarat”

.

Kini suara mereka mulai serak dan tersendat

Mereka sudah bosan memaksa wakilnya sadar dan jadi ingat

Ingin sekali masuk ke gedung mewah berpagar besi dan kawat

Tapi aparat selalu berjaga ketat

Membawa tongkat dan berbagai macam alat

.

Tak lama satu persatu pejabat datang walau  sudah sangat terlambat

Si aparat mengecek surat undangan rapat

Dengan senyuman tepat mereka buka tutup sumbat

Menyilakan pejabat lewat dengan penuh hormat

Si pejabat mengangguk dan berjanji akan menaikkan pangkat si aparat

.

Para pejabat hadiri rapat atas nama rakyat

Beradu pendapat, saling utarakan hasrat

Setelah musyawarah mufakat dan sepakat

Ramai-ramai mengatur siasat

Berlomba-lomba mengejar dunia, melupakan akhirat

.

Selesai rapat pejabat pergi melawat

Ke luar negeri atau melancong ke daerah setempat

Mamakai jas rapi dan mengkilat

Naik mobil bercat hitam pekat

Dapat jatah kupu-kupu pendamping empat

Kiri kanan para ahli silat dan gulat

Tangannya erat menenteng koper rupiah bernominal kali-kali lipat

.

Ia hamburkan uang dengan cepat

Seakan uang itu ia sendiri yang buat

Tak ada kamus hemat, tak ada namanya zakat

Itu semua adalah jimat pejabat

Ditambah seperangkat kekuasaan guna hidup enak dan nikmat

.

Ia tak puas dengan hanya satu atau dua jimat

Ia berangkat bergerak secepat kilat

Melumat bulat-bulat hak rakyat

Bagai ulat yang terus menggeliat

Memakan semua buah tomat

Tak ada yang tak lezat, tak ada yang tak nikmat

Semuanya halal, tak ada haram tak ada syubhat

.

Seperti nasihat Tuan Lalat

“Sikat apa saja yang kau lihat

Tak peduli itu haram, syubhat, sesat bahkan yang cacat

Yang penting perut terus termuat

Setiap hari dari Sabtu sampai Jum’at

Jangan sampai telat

Itu semua adalah obat yang berkhasiat

Bermanfaat untuk nutrisi zat-zat

Membuat tubuh sehat dan kuat

Santai sajalah, senikmat engkau makan cokelat

Jangan lupakan itu, Wahai Pejabat !”

.

Karir  si pejabat terus bersinar dengan cepat

Kian hari kian mantap dan dahsyat

Jika rakyat menagih janji si pejabat

Ia pun tangkas meralat sebelum jadi tergugat

.

“Oh, kami ini tentu membela rakyat,

Tak ada yang tak kami dengar, tak ada yang tak kami lihat,

Aspirasi saudara akan kami tampung dan catat,

Lalu kami diskusikan di ruang rapat,

Tunggulah dua atau empat tahun lagi, sobat !

Niscaya saudara akan sejahtera dan senatiasa sehat”

.

Namun naas menimpa si pejabat

Belum sempat penuhi janji kepada rakyat

Dirinya tergeletak di kamar mayat

Otaknya muncrat terlindas truk beroda empat

.

Lihat…! Si pejabat laknat diarak ke liang lahat

Karma akibat jadi pengkhianat amanat rakyat

Ia kualat telah membuat umat melarat dan sekarat

Dengan berbagai tipu muslihat yang luar biasa jahat

Ia tidak sadar ada malaikat yang cermat mencatat

Semua hal bejat yang ia anggap hebat

.

Kini ia sendirian di liang lahat

Tak ada teman sejawat

Tak ada aroma sayur dan ketupat

Tak ada sanak famili yang melayat

Yang ada hanya seonggok mayat

Terbujur kaku terlipat

.

Perlahan makhluk-makhluk seram mulai mendekat

Menjilat tetesan darah saat malaikat menyiksanya dengan dahsyat

Menyayat badannya sampai terlihat tulang belikat

Terus menyiksa bagai psikopat

Ia menjerit keras dengan amat sangat

.

Di hari kiamat bukan lagi tempat bermunajat

Memohon selamat, meminta syafaat

Salah siapa ia tidak mendirikan sholat

Salah siapa ia tidak pernah bersholawat

Salah siapa ia tidak pernah mau bertaubat

Kini pejabat serakah, laknat dan tamak pun akhirnya tamat

Kenali lebih dekat para tokoh lainnya di sini.

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s