Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Pemimpin dan Serigala

Leave a comment

Di suatu senja berangkatlah seorang pemimpin bersama dengan seorang asistennya menuju ke suatu desa untuk membawa berita penting. Pada zaman itu belum ada alat komunikasi yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain kecuali diantar oleh kurir. Berhubung informasi yang disampaikan ini sangat penting menyangkut kelangsungan hidup orang banyak sedangkan kondisi saat itu sedang perang dan tidak ada yang bisa pergi untuk menyampaikan informasi tersebut maka mau tidak mau pemimpin itu yang berangkat. Ia mengendarai kereta kuda dengan lima ekor kuda yang gagah dan bisa berlari dengan kecepatan tinggi.

Sang Pemimpin

Jalan menuju desa yang dituju bukanlah jalan yang lurus dan mulus. Untuk sampai ke desa tersebut harus melalui hutan bambu yang lebat. Pemimpin dan asistennya itu hanya membawa sebuah obor kecil yang dipasang di kereta sehingga cahaya yang dihasilkan kurang terang untuk menerangi perjalanan mereka. Mereka juga telah mempersiapkan diri untuk berbagai hal yang bisa terjadi kepada mereka. Salah satunya adalah ancaman yang datang dari balik hutan bambu. Hutan yang mereka lalui adalah sarang serigala yang buas. Namun sang pemimpin itu tidak gentar. Informasi yang harus ia sampaikan jauh lebih penting karena menyangkut keselamatan semua orang di desa yang akan ia tuju.

Hari sudah semakin senja. Matahari sudah terbenam. Kini siang akan berganti malam. Ketika mereka melewati rimbunan pohon bambu yang pertama, mereka melihat beberapa pasang mata yang bercahaya yang mengawasi mereka dengan seksama. Ada kerlap-kerlip yang terlihat namun bukanlah kunang-kunang melainkan segerombolan serigala. Hewan-hewan itu sudah mencium bau manusia dari kejauhan dan kini semakin mendekat. Mereka juga mencium bau hewan lain yaitu kuda penarik kereta.

Asisten sang pemimpin terlihat ketakutan.

“Pimpinan, lihat ada banyak serigala disana. Anda bisa melihat mata mereka begitu bersinar. Apa yang harus kita lakukan, pimpinan?”

Dengan sikap tenang, sang pemimpin itu menjawab,

“Tenang. Kita akan melakukan yang terbaik supaya kita bisa selamat.”

Sang pemimpin berdiri dan mengambil sebuah pisau besar dan memotong tali kekang seekor kuda. Kuda itu pun lepas dan lari dengan cepat tetapi gerombolan serigala mengejarnya. Perjalanan pun berlanjut. Kini kereta itu hanya ditarik oleh empat ekor kuda.

Sampai di rimbunan pohon bambu yang kedua, asisten itu melihat kembali ada gerombolan serigala yang mendekat. Ia menanyakan hal yang sama pada pimpinannya. Dan sama seperti sebelumnya sang pemimpin memotong tali kekang kuda. Kuda itu lepas dan dikejar oleh serigala. Kini kereta itu hanya ditarik oleh tiga ekor kuda.

Masuk ke rimbunan pohon bambu ketiga, hal sama terjadi lagi.

“Pimpinan, apakah kita harus melepas lagi kuda kita?”

Sang pemimpin mengangguk dan mengatakan ini adalah jalan terbaik. Dan kini kereta tersebut hanya ditarik oleh dua ekor kuda.

Perjalanan terus berlanjut. Malam semakin larut dan gelap tapi tekad sang pemimpin terus berkobar. Hanya ada satu misi yang ia emban sekarang. INFORMASI INI HARUS SAMPAI KE DESA ITU, pikirnya dalam hati.

Sampai ke rimbunan yang keempat mereka sudah dicegat oleh gerombolan serigala yang lebih banyak. Serigala-serigala itu siap menyerang. Namun dengan sigap, sang pemimpin menghentakkan tali kemudinya dan membuat gerakan kuda menjadi lebih cepat dan serigala itu berlari menghindar.

“Pimpinan sebaiknya kita lepas satu ekor lagi!”

Asisten itu menyarankan hal yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Sang pemimpin menyetujuinya.

“Ya, memang ini adalah jalan terbaik.”

Kemudian hanya tersisa satu ekor kuda yang menarik kereta tersebut.

Serigala

Perjalanan terus berlanjut. Jalan yang mereka lalui lebih buruk dari jalan sebelumnya. Dan mereka semakin mendekati rimbunan kelima. Dan disana telah menunggu gerombolan serigala yang buas dan kelaparan. Matanya tajam melihat sang pemimpin. Lidahnya keluar. Nafasnya tersengal-sengal. Darah segar bercucuran dari mulutnya.

“Apa lagi yang harus kita lakukan, Pimpinan?”

Asisten itu sangat ketakutan. Wajahnya pucat. Badannya gemetaran.

“Hanya tinggal satu kuda yang tersisa. Jika kuda ini dilepas maka tamatlah kita, Pimpinan,” lanjutnya.

Sang pemimpin itu melihat asistennya kemudian ia memeluknya.

“Kamu harus menyampaikan informasi ini ke desa itu. Harus. Jalanlah lurus ke depan. Pacu kuda ini sekencang mungkin. Dan berjanjilah kamu akan selamat dan bisa menyampaikan informasi ini.”

Belum sempat asisten itu berkata, sang pemimpin itu berdiri kemudian melompat ke gerombolan serigala dan tanpa ada komando lagi serigala-serigala itu langsung menerkam sang pemimpin.

Dengan hati yang tak tentu antara sedih, takut, menyesal dan senang, asisten itu memacu kudanya dengan kencang. Dan beberapa menit kemudian ia sampai di desa dan menyampaikan informasi tersebut. Asisten tersebut bersyukur ia selamat dan ia juga sedih karena pimpinannya meninggal untuk menyelamatkan dirinya dan misi yang mereka emban.

Saudaraku, kepemimpinan tanpa pengorbanan bagaikan sebuah pidato tanpa makna. Kepemimpinan tanpa upaya untuk membayar harga tidak mencerminkan perubahan perilaku yang baik. Itu sebabnya ketika kita memegang sebuah jabatan, ketika kita mengemban sebuah amanah sebagai seorang pemimpin, pada saat itu kita memikul sebuah tanggung jawab untuk berani berkorban kepada seluruh pengikut kita  dan memberi contoh yang baik agar mereka bisa menjalankan tugasnya dengan lebih baik. Berani berkorban berarti berani membayar harga. Dan disitulah nilai kepemimpinan yang sejati.

Download : Pemimpin dan Serigala

 

Temukan kisah inspiratif lainnya di sini.

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s