Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 2 – BX Corp

Leave a comment

Tokoh : AL

Pagi yang cerah dan menyejukkan. Semilir angin pagi ramah menyapa hari. Kicauan burung-burung meriahkan suasana. Udara segar berisi oksigen murni dari tumbuh-tumbuhan membuat badan terasa segar kembali. Memberi nafas baru untuk mengawali hari.

Ayah Rega bercerita kepadaku. Kota Nicnic terkenal sebagai kota penghasil ikan di wilayah timur Retne Island. Setiap harinya berton-ton ikan ditangkap dari laut dan dijual di pasar setempat. Tidak hanya ikan dari laut tetapi ikan air tawar dari Nailreb River dapat ditemukan dengan mudah di pasar ikan tersebut. Sebagian besar penduduk lokal bekerja sebagai nelayan, sedangkan sisanya bekerja sebagai petani dan buruh pabrik. Penghasilan tiap tahun dari hasil penjualan ikan membantu meningkatkan taraf hidup penduduk lokal dan membuat bangunan-bangunan di Kota Nicnic menjadi lebih cantik dan menarik namun tetap tidak meninggalkan ciri khas dari warisan leluhur mereka. Setiap bangunan memiliki atap dengan bentuk yang unik, yaitu berbentuk ikan marlin. Bentuk atap ini dapat terlihat dengan jelas jika dilihat dari atas. Konon dahulu kala nenek moyang mereka pernah diselamatkan oleh ikan marlin raksasa ketika perahu mereka terguling di tengah laut saat sedang menangkap ikan. Untuk mengenang peristiwa tersebut para penduduk lokal membuat atap rumah mereka dengan bentuk ikan marlin.

Dari tahun ke tahun Kota Nicnic semakin terkenal. Para wisatawan berdatangan, para investor mulai melirik potensi Kota Nicnic dan pembangunan pun kian meningkat. Hal ini juga yang membuat sebuah perusahaan terkenal bernama BOB X Corporation yang mendirikan cabang usahanya di Kota Nicnic. BOB X Corporation atau lebih dikenal dengan sebutan BX Corp adalah perusahaan tekstil yang memproduksi segala jenis pakaian. Perusahaan ini cepat sekali menarik minat penduduk lokal dan wisatawan untuk berbelanja disana karena BX Corp mendirikan sebuah toko pakaian tepat di depan pabrik pembuatan pakaian.

Seperti sebuah koin yang mempunyai dua sisi, Kota Nicnic ibarat sebuah magnet yang menarik perhatian semua orang. Banyak orang baik datang kesana dan tak sedikit orang dengan niat buruk ikut ke dalam tarikan magnet pesona Kota Nicnic.

BX Corp Logo

BX Corp Logo

Setahun setelah berdirinya BX Corp masalah mulai hinggap di kota ikan tersebut. Sungai dan laut yang menjadi tumpuan penghasilan para nelayan kini sedikit demi sedikit menjadi tidak produktif. Ternyata BX Corp dengan sengaja membuang limbah pabrik ke sungai dan laut. Penduduk lokal tahu akan hal ini tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Pejabat dan polisi setempat telah menjadi kaki tangan BX Corp. Perut-perut mereka sudah buncit dengan uang hasil suap. Bob, sang bos besar BX Corp telah menyuap mereka agar bisnisnya selalu lancar. Bahkan hampir 50% bisnis di Kota Nicnic telah menjadi milik BX Corp.

Dampak buruk yang paling besar dirasakan oleh para nelayan, seperti Tuan Marlo, ayahnya Rega. Ia dan ratusan nelayan lainnya kini sering menganggur. Hanya sesekali ia memancing di sungai agar bisa bertahan hidup. Kapal-kapal yang biasa ia gunakan bersama nelayan lainnya telah dibeli secara paksa oleh BX Corp. Kini ia hanya bisa makan dengan sayuran seadanya. Sungguh ironis, penduduk asli dari sebuah kota ikan yang melimpah ruah hanya bisa makan dengan sayur-sayuran bukan dengan ikan yang biasa ia makan sebelumnya.

Ketika menceritakan hal ini, Tuan Marlo hanya tersenyum. Ia berusaha memperlihatkan dirinya kuat. Tak ada air mata yang jatuh di pipinya. Sungguh seorang pria yang tegar. Dia tak pernah mengeluh akan nasibnya. Mungkin karena ia sudah bosan mengeluh. Mengeluh terhadap nasib tidak akan mengubah nasib tersebut.

Dari wajahnya dapat kulihat guratan penuh perjuangan dan kerja keras. Di usianya yang senja, Tuan Marlo terlihat kuat tapi di dalamnya ada jiwa yang rapuh. Semakin hari semakin melemah. Tapi pria tua yang tegar ini selalu melawan rasa sakitnya sendiri. Ia juga sering pergi bekerja walau badannya sudah semakin tua. Memang tak ada pilihan yang enak untuk Tuan Marlo. Berdiam diri di rumah sama saja dengan mengundang malaikat kematian datang lebih cepat. Jika ia tak bekerja maka tak ada uang dan tak ada makanan yang bisa dibeli. Tak ada makanan berarti tak ada jaminan sampai kapan ia bisa bertahan hidup. Jika Tuan Marlo bekerja maka cobaan yang datang jauh lebih berat. Ada banyak nelayan yang berebutan naik kapal penangkap ikan. Kapalnya hanya ada dua. Yang bisa naik adalah nelayan yang bisa membayar sewa kapal. Kapal yang ada bukanlah kapal yang kuat tapi masih layak untuk berlayar. Kedua kapal ini adalah kapal yang dapat nelayan selamatkan dari BX Corp. Kondisi kapal yang sudah tua dan peralatan penangkap ikan yang kuno membuat hidup nelayan lebih sulit. Apalagi cuaca bulan ini tidak baik untuk melaut. Badai dan gelombamg besar adalah rintangan lain yang siap menghadang mereka. Tapi mereka harus tetap bekerja untuk menghidupi anak dan istri. Sungguh tak ada pilihan lain. Mereka berada dalam dilema. Diam berarti mengundang kematian secara perlahan. Pergi berarti menyerahkan jiwa kepada kematian.

Tuan Marlo menghisap kembali rokoknya. Kemudian ia mengeluarkan asapnya secara perlahan.

“Aku tak peduli lagi dengan apa yang sudah terjadi padaku. Mungkin ini teguran dari Tuhan kepada kami agar tidak menyia-nyiakan karunia dan nikmat dari-Nya. Dulu, kami para nelayan terlalu sombong. Kami buang ikan-ikan kecil yang tak ada artinya bagi kami karena ada begitu banyak ikan yang kami dapatkan setiap hari. Kini datang Bob dan pekerjanya. Ikan yang dulu kami buang kini kami perebutkan sebagai makanan utama setiap hari. Bahkan seringkali kami tidak makan ikan. Yang penting sekarang aku harus tetap berusaha agar Rega bisa memiliki masa depan yang cemerlang. Setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku selalu berharap dan berdoa setiap malam, semoga kelak semua mimpi buruk ini bisa berakhir. Aku memang tak bisa melawan BX Corp tapi aku ingin segera bebas dari belenggu ini. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bersabar menghadapi cobaan ini. Aku harap akan ada pertolongan dari langit. Aku berdoa semoga kota kami bisa kembali kepada kami.”

Baca Cerita Selanjutnya >>

Chapter 3 – Senyuman Rega

Daftar Isi : First Battle

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s