Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 3 – Senyuman Rega

Leave a comment

Tokoh : AL

Kondisiku kini sudah agak membaik walau belum seratus persen sembuh. Aku sudah bisa berjalan kembali meski harus dibantu dengan tongkat. Tapi aku belum bisa berdiri lama. Kakiku masih terasa sakit. Dari semua bagian tubuhku, kakiku yang paling parah sakitnya. Hari ini Rega mengajakku pergi ke pasar untuk membeli ikan. Aku duduk di atas kursi roda yang Rega pinjam dari tetangganya. Jika mengingat perbincanganku tadi malam dengan Tuan Marlo aku terharu dan bisa merasakan kesedihan pria tua itu. Tapi saat kulihat senyum manis dari Rega aku jadi semangat kembali. Mungkin energi paling besar yang sanggup menggerakkan semangat dari diri Tuan Marlo adalah senyuman dari anaknya. Untuk menjaga senyuman itu terus ada, Tuan Marlo harus tetap bekerja.

“Aku harap nanti kakak bisa cepat sembuh.”

Ya, aku juga ingin segera sembuh, Rega. Aku melihat tanganku lagi. Aku mengepalkannya kuat-kuat. Sial ! Masih belum bisa. Hanya ada rasa dingin saja. Ayolah ! Aku sudah mencoba berulang-kali sejak tadi pagi tapi tetap tidak bisa. Rega menatapku keheranan. Matanya seolah mengatakan apa yang sedang kau lakukan? Tentu saja aku tidak akan mengatakan kepada Rega, aku sedang mencoba mengeluarkan kekuatanku. Sepertinya luka pertarunganku ini cukup serius. Kekuatanku sekarang belum kembali. Tapi setidaknya sekarang aku sudah bisa mengingat apa yang sudah terjadi padaku. Aku bisa sampai kesini gara-gara dia. Awas kau ! Jika bertemu aku akan menghajarmu.

“Kau baik-baik saja, kak?”

Aku mengangguk.

“Baguslah, kalau begitu. Ayo naik !”

Senyuman

Senyuman

Rega tersenyum sambil membantuku duduk di kursi roda. Senyum Rega membuatku senang. Aku tahu di tubuh kecilnya itu Rega mempunyai tekad dan semangat hidup yang kuat. Pada awalnya aku menolak untuk ikut ke pasar bersama Rega. Aku tidak mau melihat anak berumur 10 tahun itu dengan tubuh kecilnya mendorong kursi roda dari rumah sampai ke pasar, tetapi anak itu bersikeras agar aku mau ikut dengannya. Tuan Marlo hanya tersenyum dengan sedikit anggukan kecil tanda ia memintaku agar mengikuti kemauan anaknya.

“Akan aku kenalkan kakak dengan kawan-kawanku,” tutur Rega dengan bersemangat.

Aku pikir ada baiknya aku pergi. Aku bisa melihat keadaan sekitar. Aku juga penasaran dengan kondisi Kota Nicnic saat ini. Aku masih belum percaya dengan apa yang diceritakan oleh Tuan Marlo. Mungkin aku akan cari tahu jawabannya nanti. Aku tersenyum. Aku menghela nafas dengan panjang dan menikmati semilir udara pagi yang sejuk. Sementara Rega berlari-lari mendorong kursi roda yang aku naiki. Keringatnya bercucuran hampir membasahi baju yang ia pakai. Sesekali aku melihat ke belakang. Rega masih bersemangat mendorong kursi roda sambil asyik bernyanyi di sepanjang jalan.

Sesampainya di pasar, Rega mengumpulkan teman-temannya. Sejak ayahnya tidak bisa melaut, ia dan anak-anak lainnya bekerja di pasar ikan sebagai kuli panggul ikan. Sebagai imbalannya ia diberi uang sebesar 10 Heevy dan beberapa ekor ikan kecil. Tetapi seringkali anak-anak itu diberi ikan yang bercampur dengan ikan-ikan yang hampir busuk dan sebagian adalah ikan yang sudah terkena racun dari limbah pabrik.

Rega mengenalkanku kepada teman-temannya.

“Ini adalah kakak aku. Namanya Al. Ia aku temukan di Nailreb River. Aku sangat sayang pada Kak Al. Kalian tidak boleh mengejekku lagi karena aku tidak punya kakak.”

Teman-temannya memandangiku dengan penasaran. Mereka baru melihatku untuk pertama kalinya. Bagi mereka, pria yang dikenalkan Rega sebagai kakaknya terlihat lain dari kebanyakan laki-laki di lingkungan meraka yang kumal dan berbau ikan. Katanya aku terlihat lebih bersih dan tampan. Rega tersenyum sendiri melihat tingkah laku teman-temannya. Kini ia sudah punya kakak walaupun bukan saudara kandungnya. Rega senang bukan tanpa alasan. Semua temannya mempunyai kakak kandung. Kakak yang diandalkan sebagai pelindung keluarga sementara ayah mereka melaut dan ibu berjualan di pasar. Jika ada masalah maka anak-anak kecil itu memanggil kakak mereka untuk menolongnya keluar dari masalah.

Setelah memamerkanku kepada teman-temannya, Rega mengajakku ke pelabuhan. Katanya pelabuhan adalah tempat favoritnya. Tempat dimana ia bisa melihat laut dan kapal-kapal besar. Rega sangat suka kapal. Jika besar nanti ia bercita-cita ingin menjadi kapten sebuah kapal.

Jarak antara pasar dan pelabuhan tidak terlalu jauh. Sambil mendorong kursi roda, Rega bercerita kepadaku. Dulu ia mempunyai seorang kakak tetapi ketika kakaknya berumur 17 tahun, kakaknya meninggal akibat keracunan setelah makan ikan. Belakangan diketahui bahwa ikan yang ia makan sudah tercemar limbah dari pabrik. Semenjak kakaknya meninggal Rega tidak mempunyai orang yang bisa melindunginya, bisa bermain bersamanya, bisa mengajarinya berbagai macam hal. Rega tidak bisa dekat dengan ayahnya karena para pelaut biasa meninggalkan rumah untuk melaut. Paling lama seminggu baru bisa pulang membawa ikan. Hari-hari para pelaut dihabiskan di tengah lautan. Para pelaut membangun sebuah rumah apung di tengah laut sebagai tempat mereka mengumpulkan ikan dan beristirahat.

Jauh sebelum BX Corp datang ke kota mereka, para pelaut berangkat dini hari untuk melaut dan pulang sekitar jam tujuh pagi untuk membawa ikan. Tetapi sekarang perusahaan itu telah memonopoli bisnis ikan di kota mereka. BX Corp membeli hampir 85% kapal di Kota Nicnic. Dan nelayan yang dipekerjakan bukan penduduk Kota Nicnic melainkan dari pegawai pilihan BX Corp. Para nelayan kota Nicnic menjadi berkurang dan sebagian besar sudah pensiun dini dan beralih menjadi buruh pabrik. Untuk menambah ikan tangkapannya, para nelayan memancing  ikan di sepanjang sungai Nailreb River. Dengan pekerjaan yang semakin berat membuat para nelayan jauh dari keluarga. Dan hal ini juga yang membuat Tuan Marlo sering meninggalkan rumah dan tidak  punya banyak waktu untuk anaknya. Rega selalu sedih setiap kali ayahnya pergi melaut dan ibunya berdagang di pasar. Ia selalu sendiri di rumah. Jika bermain dengan teman-temannya seringkali ia dijahili oleh mereka. Rega akan berlari sambil menangis ketika teman-temannya mengejek atau mempermainkannya. Tapi jika Rega membalas perbuatan mereka maka ia juga yang mendapat celaka. Kakak mereka datang dan memarahi Rega. Bahkan tidak jarang Rega dipukul oleh kakak mereka.

Rega menganggapku sebagai kakaknya. Ia yakin orang yang ia temukan tempo hari di sungai adalah orang baik dan bisa menolongnya saat ia membutuhkan bantuan. Namun Rega tidak tahu saat ini aku, kakak barunya yang sangat ia banggakan sedang dalam keadaan tidak baik. Aku melihat usahanya untuk membantuku agar segera sembuh dan pulih kembali. Aku tidak mengerti kenapa Rega, seorang anak kecil berumur 10 tahun dari Kota Nicnic yang masih suka bermain dan belum mengerti banyak hal bisa mempunyai keyakinan yang dalam terhadap orang yang baru ia kenal. Rega hanya menuruti bisikan hati kecilnya. Dalam tubuh kecilnya ia memiliki keyakinan yang besar. Ia yakin kakak barunya bisa sayang padanya. Aku juga berharap hal yang sama.

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s