Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Baik dan Jahat

Leave a comment

Seorang kawan lama mengatakan kepada saya, “Sangat susah dan lama bagi seorang jahat berubah menjadi baik. Tapi sangat mudah dan cepat seorang baik berubah menjadi jahat.”

Apakah benar seperti itu? Mungkin itu adalah pertanyaan pertama yang terbayang di dalam hati Anda, para pembaca. Mungkin Anda juga akan berkata bahwa hal itu bisa berlaku kebalikannya. Bisa saja seseorang berubah dengan cepat dari jahat menjadi baik dan seorang yang baik bisa berubah jahat dalam waktu yang lama.

Semua pendapat bisa dilontarkan oleh siapa saja. Beda kepala, beda pemikiran dan pendapat. Saya sendiri masih memikirkan perkataan teman saya itu. Mari kita sama-sama cari tahu sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang berubah menjadi baik atau jahat.

Saya akan mengambil empat contoh untuk menjelaskan permasalahan ini.

  1. Orang jahat yang mudah dan cepat menjadi orang baik.
  2. Orang jahat yang susah dan lama menjadi orang baik.
  3. Orang baik yang mudah dan cepat menjadi orang jahat.
  4. Orang baik yang susah dan lama menjadi orang jahat.

Contoh pertama tentang seseorang bernama Badrun. Badrun adalah seorang pencuri sandal masjid. Dia lihai dan pandai memilih sandal mana yang bagus dan memiliki nilai jual yang tinggi. Setiap hari ia berkeliling mencari lokasi baru. Sasarannya adalah masjid-masjid besar. Masjid besar artinya banyak jamaah yang sholat disana. Banyak jamaah artinya banyak sandal yang bisa ia curi. Ia beraksi dengan mengenakan baju muslim, lengkap dengan peci. Dengan modus sebagai marbot, ia bisa dengan mudah mencuri sandal. Dalam sebulan ia bisa untung banyak dengan ‘pekerjaannya’ itu.

Sandal Masjid

Sandal Masjid

Namun kejadian luar biasa terjadi ketika dia mendatangi sebuah masjid. Seperti biasa hari itu dia berpakaian muslim. Karena hari ini di mesjid A ada tabligh akbar, ia memutuskan untuk mengenakan jubah dan sorban sebagai asesoris tambahan. Dengan mata yang terlatih, Badrun berdiri di sekitar teras masjid sambil mengamati sandal-sandal incarannya.

Wah banyak juga sandal yang bagus. Bisa untung besar aku.

Semakin lama jamaah semakin banyak. Banyak juga yang menyalami Badrun saat jamaah akan memasuki masjid. Tapi Badrun tetap fokus pada incarannya. Dia tidak bergeming. Dia semakin senang dengan banyak sandal bagus hari ini. Ketika sedang asyik mengamati sandal, seseorang menegurnya. Ia adalah marbot masjid yang ASLI. Orang itu berkata, “Apa yang bapak lakukan?”

Badrun terkejut. Gawat, aku ketahuan.

“Saya sedang..ng..nga,,,nganu..aduh…sa..saya sedang..”

Tubuh Badrun bergetar. Berbagai metode pelarian telah ia pikirkan.

Lari secepat kilat ke arah kiri masjid. Ya. Itu lebih baik. Disana ada lorong kecil yang menuju ke jalan.

“Apa yang bapak tunggu? Mari masuk. Jamaah sudah menunggu bapak?”

Badrun kaget. Menunggu? Apa maksud marbot ini?

“Pak Kyai, penceramah hari ini berhalangan hadir. Barusan beliau menelepon saya katanya beliau sudah mengirim penggantinya. Ciri-cirinya cocok dengan bapak. Bapak memakai jubah putih dan sorban hijau. Bapak penggantinya Pak Kyai kan?”

Waduh..gimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Jika jujur maka ia akan kena hajar jamaah karena mau mencuri sandal mereka. Tapi jika mengaku sebagai penggantinya Pak Kyai, apa yang ia bisa? Masa iya isi ceramahnya nanti adalah sepuluh metode ampuh untuk mencuri sandal secara profesional ala Badrun.

Dalam kebingungannya, tiba-tiba The Real Marbot itu menarik tangannya dan menuntunnya ke dalam masjid. Mati aku.

Badrun duduk di depan jamaah

 “Assalamu’alaikum.. Hadirin sekalian.. ”

Tubuh Badrun bergetar. Ia mengimbangi kegugupannya dengan berdehem. Berulang-kali ia berdehem.

“Ng…hari ini Pak Kyai tidak dapat hadir memberikan ceramahnya. Saya…mmmhh..saya adalah badal (pengganti) beliau.”

Para jamaah mendengarnya dengan penuh perhatian. Melihat hal itu, Badrun semakin gugup. Mimpi apa aku semalam sehingga hari ini bisa ada disini. Cukup lama ia berdiam diri. Jamaah mulai gaduh. Aduh apa yang harus aku katakan kepada mereka? Badrun memejamkan mata. Kemudian terlintaslah di pikirannya sebuah ceramah seorang ustadz yang tanpa sengaja ia dengar ketika sedang ‘beroperasi’ di sebuah masjid tak jauh dari rumahnya. Ah nekat wae lah. Mencuri sandal saja bermodalkan nekat plus lari yang cepat. Disini juga aku harus nekat. Daripada dihajar massa mendingan ngoceh kesana kemari. Lalu dengan segenap hati dia memulai ceramahnya.

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s