Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 5 – Roo Versus Tinju Batu

Leave a comment

Tokoh : Trigger

Siang hari di Kota Rusty.

“Roo, hari ini panas sekali.Apa kau punya obat pengusir panas?”

Aku berdiri di atap sebuah gedung. Aku mengamati keadaan di sekitar. Mataku menyapu pemandangan di depan. Tapi aku tidak puas. Aku ambil sebuah teropong. Ini lebih baik. Kini aku bisa melihat lebih jauh.

“Ini, ambillah.”

Roo memberiku sebotol minuman.

“Apa ini? Sejenis formula pengusir panas?”

Aku mengamati minumanku, aku membolak-balik botol minuman tersebut.

“Itu hanya limun segar. Minumlah untuk mengusir dahagamu. Aku ini dokter. Keahlianku bukanlah membuat alat-alat canggih. Nanti jika profesor itu jadi bergabung, kau bisa memintanya untuk membuatkanmu alat perubah cuaca.”

Roo mengambil teropong dari saku depannya yang besar. Roo mengarahkannya ke sebuah tempat hiburan. Terlihat sedang ada keramaian di jalanan dekat tempat hiburan itu. Roo menyimpan teropongnya.

“Ayo Trigger, kita kesana.” Roo menunjuk tempat hiburan itu. “Kita harus mengeceknya.”

Roo melompat dari satu gedung ke gedung yang lain. Lompatannya tinggi sekali. Aku meletakkan kembali botol limunku. Aku berdiri di tepi gedung. Aku mengeluarkan sayap-sayapku yang lebar kemudian aku terbang menyusulnya.

Sementara itu di jalanan orang-orang sedang berkumpul. Mereka berteriak, bersorak sorai menyemangati jagoan baru di Kota Rusty. Mereka menyebutnya Tinju Batu. Ia tak terkalahkan. Dua ratus petarung unggulan telah ia kalahkan sejak ia didaftarkan sebagai petarung oleh Pak Tua Dean, orang yang memberinya tempat tinggal. Pak Tua Dean menemukan Tinju Batu saat ia pertama kali datang ke Kota Rusty.

Aku dan Roo berdiri di atas gedung restoran di seberang Fighter Fighter, sebuah arena pertarungan dan tempat hiburan yang terkenal di Kota Rusty.

“Roo, orang itu kuat sekali.”

C5 - Roo Versus Tinju Batu

Aku memerhatikan Tinju Batu baru saja mengalahkan petarung kelima yang bernama Kim. Kim adalah seorang petarung dengan badan yang tinggi besar dan otot-otot yang kuat. Tapi Kim bisa dikalahkan oleh Tinju Batu dengan mudah. Tinju Batu melemparnya ke tengah jalan. Penonton kembali bersorak gembira.

“Kurasa kita telah menemukannya, Trigger.”

“Apa kau yakin, Roo?”

“Ya, aku yakin. Kuperhatikan orang itu mempunyai kekuatan luar biasa tetapi anehnya detektor ini tidak menunjukkan ia seorang pemakai sabuk.”

Roo mengecek alat pendeteksi kekuatan itu berulang kali. Hasilnya tetap sama. Tinju Batu bukan pemakai sabuk.

Di arena pertarungan seorang promotor mengangkat tangan Tinju Batu.

“Pemenangnya adalah Tinju Batu. Hari ini sudah lima kali jagoan kita mengalahkan para penantangnya.”

Tinju Batu menepi di sudut arena. Ia duduk kemudian minum segelas air dingin. Ia selalu ikut jika ada jadwal pertarungan. Ia bertarung dan terus bertarung karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Pak Tua Dean berjanji akan membantunya mencari seseorang yang menurut Tinju Batu orang itu bisa memberikan jawaban atas semua hal yang terjadi pada dirinya saat ini. Sementara ia menunggu informasi dari Pak Tua Dean, ia ikut bertarung dan mendapatkan uang yang lumayan banyak.

“Yo..yo..yo..Hadirin sekalian, senang sekali saya Mister Jim bisa memandu acara ini. Fighter Fighter kini semakin ramai. Sebelumnya saya minta maaf karena jumlah penonton lebih banyak melebihi kapasitas ruangan maka arena pertandingan kami alihkan ke luar ruangan.Tapi…kalian tetap bersemangat, kan?”

Penonton berteriak keras dan bersorak sorai. Suaranya riuh rendah menggema ke seluruh kota. Para penonton yang berada di dalam Fighter Fighter berbondong-bondong keluar menuju sebuah lapangan yang terletak di belakang Fighter Fighter. Lapangan ini biasa digunakan sebagai arena kedua jika para penonton pertarungan berjumlah lebih banyak daripada hari biasa.

“Baik, baik. Harap tenang.”

Mister Jim menenangkan penonton. Perlahan suasana menjadi hening.

“Oke…! Kita lanjutkan pertandingannya. Siapa diantara kalian yang ingin menantang Tinju Batu?”

Mister Jim berkeliling memutari para penonton. Ia mencari petarung selanjutnya. Tapi sepertinya tidak ada yang berani maju ke depan.

“Ayo..siapa yang berani bertarung dengan jagoan kita, Tinju Batu? Adakah? Siapapun? Ayolah…aku akan menaikkan taruhannya ! Tak ada lagikah pria pemberani disini? Seorang pria harus berani bertarung untuk membuktikan bahwa ia adalah pria sesungguhnya.”

Mister Jim berjalan dari satu sisi ke sisi lain. Namun belum ada yang berani maju. Penonton saling pandang satu sama lain. Berharap ada seseorang yang cukup bernyali menantang si Tinju Batu.

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s