Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 6 – Bocah Terbang

Leave a comment

Tokoh : Charly

Sementara itu di Atamrep City…

Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Jam dinding itu tergantung di dekat pintu masuk bar. Ia telah menemaniku sejak bar dibuka sepuluh tahun yang lalu. Jam itu kubeli sebelum kekacauan di negeri ini terjadi. Dulu saat pertama kali bar ini dibuka banyak sekali pengunjung yang datang. Tempatku ini ramai dan dapat kukatakan tidak ada orang di Atamrep City yang tidak mengenal Tiservine Bar milikku. Aku bekerja bersama istri dan beberapa orang teman masa kecilku. Namun semua itu tidak berjalan lama. Semuanya berubah sejak insiden di Central of The Universe.

Satu tahun yang lalu seorang profesor terkenal mengadakan konfrensi pers di COTU (Central of The Universe), sebuah gedung pemerintahan di jantung ibu kota, Central City. Gedung itu berdiri megah dengan arsitektur khas yang indah. Di taman depan COTU itulah profesor mengumumkan sebuah berita yang fenomenal.

Masih segar di ingatanku, hari itu adalah hari Kamis pukul 5 sore. Saat itu bar sedang ramai oleh pengunjung. Mereka minum bersama diselingi canda tawa. Aku mengenal hampir semua pengunjung. Ada Tom seorang pekerja konstruksi. Jika dia minum tak cukup satu botol, minimal 6 botol ia habiskan sendirian. Seringkali aku harus menyiram wajahnya dengan air agar ia bangun. Tom sering ketiduran di meja bartender.

Ada Robby seorang koboi. Ia termasuk koboi yang sukses. Ia memiliki perternakan kuda yang besar. Robby pernah mengajakku berkuda di tempatnya. Aku dan istriku sangat senang. Kami berencana akan berkunjung ke rumahnya akhir bulan nanti.

Kemudian ada Karem, seorang polisi lokal. Dia sedang asyik menonton acara televisi. Acara kesukaannya adalah Talk To Me, sebuah acara talk show dengan pembawa acara seorang artis cantik Denise Arbarose. Sebenarnya Karem hanya suka melihat sang pembawa acaranya, jika kutanya topik apa malam ini di acara itu, maka dengan semangatnya ia akan menjawab, “…topik hari ini adalah betapa cantiknya Denise…”, ia tertawa terbahak-bahak masih dalam kondisi mabuk berat.

Tapi beberapa saat kemudian Karem berteriak keras. Ia terlihat sangat kesal. Kami semua spontan melihat Karem. Ternyata acara favoritnya itu tiba-tiba terhenti karena ada berita darurat. Janice memperbesar volume televisi. Sementara Karem masih saja menggerutu karena tontonannya dipotong oleh berita.

Di layar televisi seorang pembaca berita sedang berkomunikasi dengan rekannya di lokasi kejadian.

“Selamat sore, pemirsa. Kami baru saja mendapat berita dari Central City. Seorang profesor akan mengadakan konfrensi pers. Untuk lebih jelasnya mari kita bertanya kepada rekan kami di lokasi kejadian. Halo…Raph apa yang sedang terjadi disana?”

Layar televisi berganti tampilan. Seorang reporter sedang berdiri di depan Central of The Universe. “Iya, baik Fatma. Uh..Disini sangat ramai sekali. Saya sendiri sangat sulit untuk bergerak.”

Aku lihat reporter yang dipanggil Raph itu sedang berusaha berdiri diantara reporter yang lain. Banyak sekali orang disana. Aku sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi.

“Baik permirsa, selamat sore. Saya sedang berada di taman Central of The Universe. Seorang profesor akan mengumumkan hasil penelitiannya. Dia adalah Profesor Gilang dari Hawk University. Profesor adalah seorang peneliti benda-benda angkasa. Beliau juga terkenal sebagai seorang profesor yang berani. Beliau pernah mendaki Hawk Mountain yang legendaris itu sendirian. Dan…”

Belum selesai Raph bicara, kerumunan wartawan di belakangnya maju lebih dekat ke tempat konfrensi pers. Raph ikut berlari ke arah wartawan lain menuju. “Pemirsa….sepertinya acara konfrensi akan segera dimulai. Mari kita simak bersama-sama.”

Kamera mengarah ke seorang pria yang keluar dari gedung COTU. Pria itu berjalan menuju sebuah mimbar. Ia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih. Dasinya hitam panjang. Di atas saku jas sebelah kiri terpasang pin berbentuk pohon beringin yang terbuat dari emas. Pin itu menandakan bahwa profesor telah diakui oleh ilmuwan internasional sebagai peneliti jenius. Profesor berdiri tegap dengan penuh percaya diri.

“Selamat sore semuanya. Senang sekali saya bisa berdiri saat ini bersama Anda semua. Pada tahun 1957 seorang ilmuwan muda bernama Sir Abdul Jamal menemukan sebuah permata di Antartika. Permata itu bisa menghasilkan sebuah sinar yang terang tanpa batas. Sir Abdul telah membawa kemajuan terhadap teknologi saat ini. Hasil penemuannya telah membantu kita dalam masalah penerangan. Sehingga saat ini kita tidak perlu lagi lampu dari listrik. Pada saat ditemukannya permata itu sebagian besar orang mengejek Sir Abdul. Beliau dianggap sebagai seorang penipu karena permata yang ia bawa tidak bisa menyala seperti saat pertama ia lihat di Antartika. Namun Sir Abdul tak pernah menyerah. Bertahun-tahun ia pelajari bagaimana sebuah batu bisa menyala sendiri. Sampai pada akhirnya beliau meninggal 20 tahun kemudian tanpa pernah mengetahui jawabannya. Kemudian para ilmuwan The Scientist meneruskan penelitian beliau. Dan setelah kerja keras selama bertahun-tahun kini permata itu bisa menyala kembali.

Lima puluh tahun telah berlalu sejak permata itu bisa menyala dan telah membantu penerangan dalam hidup kita. Kami, para peneliti mempunyai keyakinan bahwa dengan kerja keras semua hal mustahil bisa dikerjakan.

Pada sore hari ini, saya akan memperlihatkan hasil penelitian saya kepada Anda semua. Saya telah meneliti sebuah batu yang luar biasa menakjubkan. Dan saya yakin batu ini bisa memberikan manfaat besar seperti permata hasil temuan Sir Abdul. Bersama-sama dengan ilmuwan lain, saya telah melakukan beberapa kali percobaan. Dan kegagalan adalah sahabat kami setiap hari. Hingga akhirnya suatu hari semua peluh dan lelah kami terganti. Sebuah kejadian luar biasa telah terjadi. Jika kuceritakan detilnya Anda semua mungkin akan sulit memahaminya. Untuk lebih mudahnya akan aku tunjukkan batu tersebut…”

Kami sangat penasaran dengan batu yang dibicarakan oleh profesor. Suasana di Tiservine Bar sangat sepi. Hening sekali. Bar ini lebih mirip kuburan. Tak ada suara selain suara dari televisi. Semua orang sedang serius melihat berita. Bahkan Karem duduk paling depan. Ia ambil remote teve. Ia perbesar volumenya. Seakan ia sudah lupa dengan Denise dan acaranya. Ia sangat penasaran. Sama halnya denganku dan semua orang di bar. Kulihat profesor itu mengeluarkan sesuatu dari kopor berwarna silver. Ia berdiri di samping mimbar.

“Benda yang aku pegang ini adalah sebuah batu yang luar biasa. Aku namakan batu ini Belt of Heaven Rock, Sabuk Batu Surga. Kenapa kusebut itu? Karena batu ini dapat bersatu dengan diri kita. Ajaibnya ia bisa memilih pemiliknya. Dan kusebut batu ini dari surga karena batu ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia bisa memberikan apa yang kita inginkan. Kita bagaikan hidup di surga. Begitu indah dan menyenangkan. Oke..akan aku tunjukkan.”

Profesor mendekatkan batu ke sabuk yang ia pakai. Tiba-tiba saja batu itu bersinar dan perlahan-lahan menempel pada sabuk profesor. Kemudian keluar sebuah cahaya dari kedua sisi batu itu. Cahaya itu melingkari pinggang profesor dan perlahan cahaya itu menghilang bersama batu tersebut.

“Lihat ini..”

Profesor mengangkat tangannya. Terlihat sebuah titik kecil yang bercahaya keluar dari tangannya. Perlahan-lahar semakin besar sebesar tangan profesor. Kemudian ia mengepalkan tangannya dan membukanya dengan kuat. Dari tangan profesor keluar sesuatu yang tidak biasa. Profesor mengeluarkan es dari tangannya. Kemudian menyentuh mimbar dan mimbar itu berubah menjadi es. Sungguh menakjubkan. Semua orang yang berada di COTU terpana dan terheran-heran. Belum pernah mereka melihat sesuatu yang luar biasa seperti ini. Benar-benar di luar dari kebiasaan.

“Ketahuilah…kekuatan ini nyata. Aku dapat dari batu ini. Dan berita baiknya batu yang seperti ini tidak hanya ada satu. Carilah….maka kau akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa seperti yang kumiliki. Jika kau seorang yang pemberani maka…”

Belum sempat profesor menyelesaikan perkataannya sebuah cahaya yang sangat terang muncul dari arah langit. Cahayanya seperti matahari. Menyilaukan. Semua orang menutup mata. Aku yang melihat dari televisi hanya dapat melihat cahaya putih. Lalu samar-samar kulihat bayangan hitam menuju ke arah profesor kemudian menghilang. Beberapa menit kemudian cahaya terang itu hilang. Dan hal yang buruk terjadi. Profesor itu hilang entah kemana. Profesor tidak ada di tempat semula ia berdiri. Asistennya yang berdiri di depannya mengatakan bahwa ada sebuah bayangan hitam yang mendekati profesor kemudian membawanya pergi ke atas. Terbang seperti Superman kemudian hilang entah kemana.

Halaman Berikutnya =>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s