Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Rajawali Jengis Khan

Leave a comment

Kisah inspiratif berikut adalah tentang Jengis Khan yang tidak mampu mengendalikan diri. Seperti yang kita ketahui, Jengis Khan adalah salah seorang pemimpin perang yang disegani. Namun salah satu keunikan dari Jengis Khan adalah kemana pun ia pergi ia selalu membawa burung rajawalinya yang setia menemani.

Ketika ia berperang, burung rajawali ini pun bertengger di salah satu pohon di mana lokasi peperangan tersebut. Selesai berperang rajawali ini kembali menemui tuannya, Jengis Khan. Hingga suatu waktu, pertempuran demikian hebat dan banyak korban di kedua belah pihak. Baik di pasukan Jengis Khan maupun di pasukan musuh. Dan berakhir dengan kemenangan di pasukan Jengis Khan.

Karena peperangan yang begitu melelahkan maka pemimpin ini pun akhirnya terbaring.  Ia mengambil waktu untuk istirahat sejenak. Dan ia mulai menikmati istirahat setelah mengalami pertempuran yang begitu hebat.

Setelah sejenak ia beristirahat, ia merasa kehausan. Kemudian ia mengambil kantung airnya yang terbuat dari tanah liat yang keras dan ia mulai beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil air dari air terjun kecil yang ada di hadapannya. Begitu Jengis Khan berdiri dan mencoba untuk menampung air tersebut, tiba-tiba burung rajawalinya langsung menyambar kantung airnya hingga terjatuh. Tapi Jengis Khan hanya tersenyum. Dengan berat hati dan kecewa ia berbicara kepada rajawalinya, “Jangan bercanda ! Saya sedang haus.”

Jengis Khan dan Rajawali

Kemudian ia mengambil kembali kantung airnya tersebut dan mulai menampung air untuk ia minum. Ketika kantung air itu akan diisi, sang rajawali kembali menyambar kantung air milik Jengis Khan dan membuat kantung air itu terlempar lebih jauh dari yang pertama,

Jengis Khan mulai kesal.

“Kalau sekali lagi engkau membanting tempat minumku ini maka aku tak akan segan untuk menebasmu !”

Walau masih kesal, Jengis Khan kembali mengambil kantung airnya karena ia masih kehausan. Tapi sama seperti sebelumnya, untuk yang ketiga kali sang rajawali kembali menyambar kantung air milik tuannya dan membantingkan kantung air tersebut ke dinding batu yang terjal hingga kantung air itu pecah.

Tanpa banyak bicara, Jengis Khan mencabut pedangnya. Pedang yang dipakai untuk membunuh ribuan orang dalam perang itu ia tebaskan kepada rajawalinya yang saat itu sedang terbang rendah. Burung rajawali yang selama bertahun-tahun setia mengikutinya itu tewas dengan kepala terpisah dari badannya. Dan rasa geram Jengis Khan pun terpuaskan.

Kini Jengis Khan tidak mempunyai kantung air lagi. Dan ia berinisiatif untuk mengambil air langsung dari sumbernya. Sesampai di sumber air itu, dia melihat ternyata di dalam sumber air terdapat bangkai dari seekor binatang yang sudah membusuk. Dan itulah yang dilihat oleh burung rajawali. Dan itu pula alasan kenapa burung itu berulang-kali membanting kantung air milik tuannya. Seolah-olah burung itu ingin mengatakan kepada Jengis Khan, “Jangan minum air itu ! Karena aku sudah melihat dari atas, ada bangkai binatang sehingga air itu tidak pantas engkau minum.”

Jengis Khan merenung sejenak. Dan dia turun ke bawah. Hatinya sedih. Hatinya diliputi penyesalan. “Seandainya saja saya bisa menahan diri. Seandainya saja saya bisa mengendalikan diri. Tentu, burung rajawali ini tidak akan tewas sia-sia.“

Kemudian ia memanggil seluruh pasukannya. Dan dilakukanlah upacara penguburan sang rajawali. Burung rajawali yang sudah tewas ini dibungkus dengan baju perang milik Jengis Khan. Kemudian Jengis Khan berpidato di hadapan para pasukannya.

“Hari ini kita bisa memenangkan satu pertempuran yang besar. Kita bisa mengalahkan musuh. Tapi pada saat ini saya tidak bisa mengalahkan diri saya sendiri. Dan saya baru belajar dari seekor rajawali.”

Para pembaca yang dirahmati Allah, menjadi seorang pemimpin adalah menjadi orang yang mampu mengendalikan diri. Salah satu faktor emotional intelligent yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan ia untuk mengendalikan diri. Kemampuan mengendalikan diri dari seorang pemimpin itu mencerminkan kematangan emosinya. Itu sebabnya ada begitu banyak orang yang tidak mampu mengendalikan diri sekalipun jenjang kepemimpinannya lebih tinggi daripada yang lain. Namun ia tidak memberikab pengaruh apa-apa. Karena setiap yang diucapkan adalah kata-kata yang lepas dari kontrol.

Sebaliknya, pemimpin yang melayani, pemimpin yang memiliki pengaruh adalah pemimpin yang mampu mengendalikan diri, mengendalikan setiap ucapannya sehingga setiap ucapan yang keluar dari mulutnya adalah ucapan yang membangun pribadi orang dan membangkitkan motivasi orang lain dan ucapannya terjaga dan terkendali dan membuat orang lain bisa menemukan hikmah dalam kehidupannya sendiri.

Seperti yang kita ketahui, musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Mari kita belajar untuk mengenali sisi lemah dari emosi kita sehingga kita bisa mengendalikan diri dengan lebih baik. Ketika kita bisa mengendalikan diri maka kita akan lebih mudah untuk mengendalikan orang yang kita pimpin. Jadilah pemimpin yang mampu dan bersedia untuk mengendalikan diri. Karena disitulah akan tercermin kematangan pribadi kita sebagai seorang pemimpin.

Demikianlah kisah inspiratif untuk saat ini. Anda dapat mendengarkan kisah ini dalam bentuk audio. Silakan Anda mengunduhnya di link ini :  Rajawali Jengis Khan

Temukan kisah inspiratif lainnya di sini.

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s