Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Memilih Waktu Untuk Memilih

Leave a comment

“Hidup itu penuh dengan pilihan. Setiap orang harus selalu memilih. Baik memilih suatu pilihan atau memilih untuk tidak memilih pilihan. Dan dari setiap pilihan yang dipilih, ada harga yang harus dibayar.”

Setiap hari manusia dihadapkan kepada sebuah pilihan. Mulai dari ia bangun tidur sampai ia tidur kembali. Tatkala  kumandang adzan subuh terdengar, bagi seorang muslim yang sedang tertidur lelap dihadapkan pada sebuah pilihan, apakah ia mau bangun tidur untuk menunaikan kewajiban sholat subuh atau ia memilih untuk menarik selimutnya agar tidurnya lebih lelap. Beberapa jam kemudian ia berpikir apakah mau langsung mandi pagi atau mandinya nanti saja sebelum berangkat ke tempat kerja. Ketika pergi ke dapur, ia berpikir apakah mau masak telur dadar untuk sarapannya, buat mi rebus, beli nasi kuning atau hanya makan roti dan minum susu. Ketika keluar dari rumah ia berpikir apakah akan mengendarai mobilnya atau tidak. Karena misal hari itu adalah hari senin. Jika memakai mobil akan terjebak macet di jalanan ibu kota tapi jika naik motor ia bisa kepanasan dan bermandikan keringat. Atau naik busway saja? Ah…atau lebih baik tidak masuk kerja sekalian.

Pilihan. Setiap orang harus selalu memilih setiap hari. Dan dari setiap pilihan yang dipilih ada harga yang harus dibayar. Yang dimaksud dengan harga disini adalah konsekuensi dari tindakan atau pilihan yang ia ambil. Bahkan seseorang bisa saja tidak memilih sebuah pilihan. Misalkan di sebuah Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) ada orang yang memilih calon kepala daerah jagoannya, ada orang yang diharuskan memilih salah satu calon kepala daerahnya, ada orang yang memilih untuk mengajak orang untuk memilih calon kepala daerah dengan imbalan beberapa rupiah dan ada juga orang yang tidak memilih satu pun dari calon kepala daerah alias golongan putih (GolPut).

Seseorang boleh memilih apa saja terhadap pilihan yang ia ambil asalkan ia tahu tiga dasar perbuatan yaitu, tahu konsekuensinya, paham konsekuensinya dan siap akan konsekuensinya. Jika ia sudah mengambil tiga dasar itu apa pun kata orang ia tidak usah pedulikan karena pilihan yang ia ambil adalah untuk dirinya sendiri dan ia tidak boleh menyalahkan siapa pun mengenai konsekuensi terhadap dirinya.

Misal ada seseorang yang suka mabuk-mabukan. Ia tahu jika ia mabuk akan merusak badannya sekaligus merupakan dosa besar. Kedua ia juga paham bagaimana minuman keras bisa merusak hati, membuat kepala jadi pusing, mengkhayal tingkat tinggi, bicara tidak jelas, ngawur dan tidak ada filter dan membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ketiga ia harus siap dengan konsekuensinya yaitu ia bisa dipukuli massa jika saat ia mabuk ia malah merusak barang atau mencuri barang orang lain, ia bisa ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam penjara. Ia juga bisa mati mendadak dan kemudian mati disiksa malaikat kubur. Jika ia sudah tahu, paham dan siap akan semua konsekuensinya maka ia tidak bisa dan tidak boleh menyalahkan orang lain jika pada akhirnya ia merasakan keterpurukan dan kehancuran di dalam hidupnya. Karena ia sendiri yang telah memilih jalan itu dan ia juga harus siap dengan apa yang menunggunya di ujung jalan yang telah ia pilih.

Pilihan. Kenapa hal itu selalu ada di dalam hidup ini? Pada saat sekarang saja, ketika Anda membaca postingan ini bukankah Anda sudah memilih terlebih dahulu? Dari jutaan situs di internet, Anda lebih memilih blog ini. Dan dari sekian banyak judul di blog ini Anda memilih judul Memilih Waktu Untuk Memilih. Disadari atau tidak, hidup manusia tidak lepas dari pilihan. Mengapa? Karena manusia diberikan akal untuk melihat, mengolah, memikirkan dan mengambil sebuah keputusan dari suatu informasi atau masalah yang sedang ia hadapi.

Pernahkan Anda berpikir mengapa Allah menciptakan tiga jenis otak, dua mata, dua telinga dan satu mulut? Agar manusia bisa berpikir lebih matang, mengamati kejadian lebih teliti, mendengar lebih peka dan jika ia bicara maka yang ia katakan adalah hal yang dianggap perlu artinya ia tidak bicara hal yang sia-sia belaka.

Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan sebuah kisah tentang seorang pemuda yang dihadapkan kepada sebuah pilihan. Sebuah pilihan yang mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya. Selamat Membaca !

Baca Ceritanya di sini.

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s