Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 7 – Crazy Clowns

Leave a comment

Tokoh : Jimmy

Cuaca hari ini panas sekali. Mengantar bos adalah pekerjaanku. Sebagai asisten bos, aku harus selalu siap siaga kapan pun tugas datang kepadaku. Hari ini aku akan mengantar bos ke bank tapi bos ingin mampir dulu ke bar. Ketika kami sampai, bos langsung memesan minuman sementara aku langsung lari ke toilet. Aku sudah ingin buang air kecil sejak di mobil.

“Bos, saya ke kamar kecil dulu.”

Aku membasuh wajahku dengan air. Segar sekali. Perjalanan dari rumah kesini cukup jauh dan kami harus menempuh setengah perjalanan lagi untuk sampai ke bank. Ketika aku sedang membersihkan wajah, aku mendengar suara jeritan dari bar. Aku segera keluar dari toilet.

Aku melihat Renald, seorang polisi lokal di kota kami sudah tewas. Aku langsung jatuh terduduk. Aku kaget sekali. Kemudian aku bersembunyi di balik meja dekat pintu toilet. Siapa mereka? Bagaimana bisa Renald dibunuh dengan mudah? Badannya cukup besar dan tinggi untuk seorang polisi. Aku mengusap-usap mataku. Aku tampar pipiku. Aku harap semua ini adalah mimpi. Tapi aku merasakan sakit. Berarti ini bukan mimpi.

Orang yang membunuh Renald itu seorang badut? Mana mungkin? Ia mengangkat sebilah pedang. Tapi aku belum pernah melihat pedang seperti itu. Warnanya putih seperti tulang. Sementara itu orang-orang yang ada di bar berjongkok di bawah meja. Mereka terlihat sangat ketakutan. Aku mencari-cari bos. Dimana dia? Ya ampun bos ada di sana ! Tubuh bos yang besar diangkat dengan mudahnya oleh badut yang lainnya. Bos menggigil ketakutan sambil memegang erat kopornya.

“Che..haha..haha…Pak Tua kau tahu siapa kami?”

Badut itu tertawa dengan sangat keras. Dia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Seekor lintah keluar. Ehgh…menjijikkan sekali. Lintah itu ia lempar ke wajah bos. Bos menjerit kesakitan. Badut itu melepaskan tangannya dari leher bos. Bos terjatuh. Ia menarik-narik lintah dari wajahnya. Tapi lintah itu tidak bisa lepas. Badut itu mengeluarkan lebih banyak lintah dari mulutnya. Lintah-lintah itu merayap dan menghampiri setiap orang di bar. Ada seorang wanita yang mengambil kursi lalu memukul lintah itu. Tapi lintah itu tidak mati. Mereka terus merayap dan siap menyedot habis darah dari mangsanya.

“Che..haha…haha…Minumlah sebanyak-banyaknya. Ambil darah mereka sebanyak mungkin sampai perut kalian buncit. Che..haha…haha,,,Kau lihat kan, Raw. Kota ini akan kita kuasai juga.”

Badut yang dipanggil Raw itu tertawa. Ia menusuk-nusuk tubuh Renald yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku tidak kuat. Rasanya aku akan muntah. Perutku terasa mual. Seumur hidup, aku belum pernah melihat darah sebanyak ini.

Aku mendengar suara mobil mendekat. Tiga orang keluar dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam bar. Seorang wanita tua menjerit sekeras-kerasnya. Ia dan dua orang di sampingnya melihat bar penuh dengan lintah yang sedang menyedot darah. Darah berceceran dimana-mana. Dan yang paling menakutkan ada dua orang badut sedang tersenyum ke arah mereka. Raw berdiri. Dia menghunus pedang tulangnya. Darah bercucuran dari pedang tulangnya. Melihat ada badut seperti itu membuat semua orang yang melihatnya akan lari ketakutan.

“Che..haha..haha…tenang Raw. Aku atasi yang ini.”

Badut lintah itu berjalan dengan santainya. Ia menghampiri seorang pemuda yang tergeletak lemas di lantai. Ia ambil lintah dari tubuh pemuda tersebut. Badan pemuda itu menjadi pucat pasi. Tapi pemuda itu masih hidup. Aku bisa mendengar suara nafasnya yang semakin berat.

Lintah yang diambil cukup besar. Ukurannya kira-kira sebesar anak ayam. Padahal saat pertama keluar dari mulut badut itu ukurannya sebesar lintah pada umumnya. Badut itu mengambil senapan besar dari balik punggungnya. Ia jilat-jilat senapan itu sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian ia masukkan lintah tadi ke dalam senapannya. Senapannya sangat unik. Ada sebuah lubang di bagian atas senapannya. Lintah tadi dimasukkan ke lubang tersebut. Kemudian ia kokang senjatanya lalu ia arahkan ke tiga orang yang baru datang ke bar. Mereka bertiga segera berlari keluar bar.

“Kalian mau kemana? Kemarilah…temani aku di pesta ini. Che..haha…haha…”

Badut itu menembakkan senapannya. Dorr ! Suaranya keras sekali. Ketiga orang itu jatuh tersungkur ke lantai bar. Darah kembali berceceran di lantai bar. aku harus segera pergi dari sini sebelum aku mati. Aku harus mencari cara agar aku bisa melarikan diri.

Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan. Di saat seperti itu kebingunganku bertambah lagi. Aku lihat tiga orang yang terkapar di lantai itu kini bangkit kembali. Mereka berdiri dan menyunggingkan senyum manisnya. Kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Che..haha…haha…nah seperti itulah seharusnya jika kalian menghadiri pestaku. Ayo, ayo kemarilah. Minum sebanyak yang kalian mau. Ada banyak bir disini. Atau mungkin kalian ingin mencoba minum darah? Che..haha..haha…”

Ada apa ini? Kenapa mereka bertiga terlihat seperti orang gila? Ah..aku tak punya waktu banyak. Aku harus segera pergi. Bar ini pasti mempunyai pintu belakang. Aku akan keluar lewat sana. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk lari.

Crazy Clowns

Ketika badut-badut gila itu sedang minum bir, aku segera bangun dan mengendap-endap ke pintu belakang. Brremmm ! Tanpa sengaja aku menyenggol drum sampah di dekat pintu belakang bar. Celaka ! Mereka pasti mendengarnya. Tapi aku tak peduli. Aku harus pergi.

Aku berlari ke parkiran mobil. Aku menemukan mobil bos. Aku buka pintunya. Aku duduk dan siap menyalakan mesin. Saat aku akan menyalakannya, kudapati kunci mobil tidak ada disana. Aku ingat ! Kuncinya aku simpan di meja bar bersama dengan jaketku. Sial ! Bagaimana ini? Ini pelajaran bagiku. Jangan pernah menyimpan kunci di meja bar. Simpan dalam saku celanamu.

“Kau baik-baik saja, nak?”

Seorang pria tua menyapaku.

“Oh,,,terima kasih Tuhan. Kau menyelamatkanku. Kau punya mobil, pak?”

“Ya, aku baru saja sampai kesini. Aku datang bersama istri dan kedua anakku.”

“Jadi mereka keluargamu, pak?”

“Apa…? Kau tahu istri dan anakku?”

“Kita tak punya banyak waktu. Ayo segera pergi dari sini. Dimana mobilmu, pak?”

Pria tua itu menunjuk mobilnya. Tanpa pikir panjang aku tarik tangannya ke mobilnya. Kami berdua masuk. Aku mendengar suara badut-badut itu. Mereka berdua keluar bersama tiga orang anak buah baru mereka.

“Ayo cepat kita pergi, Pak!”

Pria tua itu tampak kebingungan. Sama denganku. Ia melihat ke belakang ketiga anggota keluarganya ada di depan bar. Mereka tertawa terbahak-bahak.

“Nanti aku akan jelaskan semuanya padamu, Pak.”

Pria tua itu mengangguk. Dia pasti bertanya-tanya apa yang sedang terjadi disini? Kenapa dengan istri dan anak-anaknya? Andai saja aku bisa menjawabnya. Saat ini yang terpenting adalah pergi dari sini.

“Kita ke arah mana, nak?”

“Di depan belok kiri. Kemudian ikuti jalurnya. Kita pergi ke rumah bosku.”

Mobil kami melaju dengan kencang. Pria tua di sampingku ini mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menyetir seperti dikejar-kejar hantu. Tidak. Ini bukan hantu. Ini lebih buruk lagi. Aku harus segera mencari bantuan. Nyawa bos taruhannya. Bertahanlah bos. Aku akan kembali lagi.

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s