Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Menyayangi dan Memberi

4 Comments

“Kamu bisa memberi tanpa menyayangi tetapi kamu tidak bisa menyayangi tanpa memberi.”

Buku misi ini aku tutup. Aku sudah membaca seluruh isinya. Aku mengerti. Lalu aku segera mengenakan pakaian tugasku. Aku berjalan menuju gerbang langit ketiga. Penjaga gerbang membukakan gerbangnya untukku. Aku berjalan ke tepian awan putih. Aku kembangkan sayap dan aku terjun ke bawah dengan ringan dan tanpa beban. Tujuanku adalah Planet Bumi. Tidak kurang dari satu menit, aku sudah melewati langit kedua dan langit pertama. Detik selanjutnya aku sudah berada di dekat Bumi. Aku dapat melihat lokasi target dan dalam sakejap mata aku sudah berada di rumah target.

Targetku bernama Zein. Dia adalah seorang pemuda yang taat beribadah kepada Allah. Dia seorang pekerja keras dan baik hati. Dia menjalani hidup ini dengan penuh kesyukuran dan tawakal yang kuat kepada Allah. Namun setan terkutuk menggodanya lagi dan lagi. Setan menghasutnya dari atas, bawah, depan, belakang, kiri dan kanan. Setan menggodanya dengan godaan paling nyata dan sulit sampai ke godaan yang super halus yaitu sesuatu yang sangat buruk namun disulap seolah terlihat menjadi sangat baik.

Dari buku riwayat hidup Zein, dapat aku nilai bahwa Zein adalah seorang pemuda yang kuat dalam memegang imannya. Ketika ia diuji dengan harta, ia kuat. Zein tetap yakin kepada Allah bahwa Allah akan mencukupkan rizki baginya. Meskipun keluarga dan teman-teman Zein mempunyai harta yang melimpah ruah tapi Zein tidak silau dan tetap sabar dan tabah. Dengan sedikitnya harta yang Zein miliki, Zein masih optimis, husnudzon dan  berpikiran positif kepada Allah. Zein yakin ia bisa memiliki semua yang ia inginkan jika Allah sudah menghendakinya demikian.

Sama halnya ketika Zein diuji dengan tahta. Zein keluar dari pekerjaannya yang dulu dan sekarang menjadi seorang penganggur. Zein sudah mencoba mencari pekerjaan yang lain tetapi belum ada hasil. Keluarga dan temannya banyak yang mencemooh dia karena belum bekerja seperti dulu lagi. Zein sabar melalui ujian ini. Zein masih menggenggam mimpinya untuk menjadi ‘orang besar’ yang mempunyai kekuasaan dan harta yang banyak. Zein ingin menolong orang lain yang berada dalam kesulitan hidup. Zein berpikir bahwa mungkin saat ini ia belum pantas menjadi orang kaya dan berkuasa. Zein harus kaya hati terlebih dahulu karena orang yang kaya hati dan memiliki harta yang banyak, ia memiliki potensi besar untuk mendermakan hartanya kepada orang banyak dengan jumlah harta yang besar pula. Zein bersabar dan bertawakal dalam keadaan sedikitnya harta dan kehidupan yang sulit.

Beberapa waktu kemudian, Zein diuji dengan wanita. Ternyata Zein tidak kuat dengan ujian ini. Setan laknat tertawa terpingkal-pingkal melihat Zein berada dalam keterpurukan dan kesedihan. Dalam kegelisahannya itu, Zein masih mengingat Allah walau dalam kadar iman yang lemah. Zein berdoa dan meminta petunjuk untuk menghadapi masalah yang sedang ia alami ini.

Aku diutus untuk menyampaikan petunjuk itu. Aku akan membantu Zein dan aku pasti akan melakukannya.

Zein baru selesai menyapu halaman rumah ketika aku datang menghampirinya. Aku datang dalam wujud menyerupai ayah Zein. Aku membawa perlengkapan memancing yang biasa manusia gunakan untuk menangkap ikan. Aku menyapanya lalu mengajaknya pergi memancing ke kolam ikan milik keluarga Zein. Letaknya tidak jauh dari rumah Zein. Hanya membutuhkan waktu lima menit dalam ukuran manusia untuk sampai ke tempat itu. Zein mengangguk dan mengikuti ajakanku.

“Baiklah, aku akan ikut ayah. Lagipula aku sedang pusing. Aku butuh refreshing. Kukira ayah sedang tidur di kamar. Tapi aku senang ayah mengajakku pergi. Aku rasa ini ide yang bagus.”

Aku tersenyum mendengar perkataan Zein. Ayah Zein memang sedang tidur di kamarnya. Kemudian kami berdua bergegas pergi ke kolam ikan milik keluarga Zein.

Setengah jam kemudian aku dan Zein sudah berhasil mendapatkan tiga ekor ikan mas yang besar. Zein terlihat sangat senang dengan ikan hasil tangkapannya itu. Aku memanfaatkan waktu yang baik ini untuk memulai pembicaraan.

“Zein, sudah lama ayah tidak mendengar kabar dari kekasihmu. Apakah Fatma baik-baik saja?”

“Dia baik, Ayah.” Kata Zein dengan tenang. Zein masih fokus dengan kegiatan memancingnya.

“Kalau kamu sendiri bagaimana? Apa kau baik-baik saja?”

Zein melihatku dengan tidak bersemangat.

“Tidak, Ayah. Aku sedang tidak enak hati.”

“Tidak enak hati bagaimana? Apa karena Fatma?”

“Iya. Darimana Ayah tahu?”

“Insting orang tua itu kuat, anakku. Apa kau mau membicarakannya dengan ayah? Ayah siap mendengarkan. Siapa tahu ayah bisa berbagi pengalaman denganmu.”

“Sungguh?”

Mata Zein berbinar-binar. Dia semangat mendengar tawaranku. Aku dapat melihat sebuah harapan di kedua bola matanya.

“Ayah, aku ingin bertanya. Menurut Ayah, sayang itu seperti apa?”

Aku tersenyum kepada Zein. Zein sudah mau berbicara tentang masalahnya. Ini adalah hal yang bagus.

“Kamu bisa memberi tanpa menyayangi tetapi kamu tidak bisa menyayangi tanpa memberi.”

Zein mendengarkanku dengan seksama.

“Misalnya seperti ini. Ada pengemis yang meminta uang kepadamu kemudian kamu memberinya dengan hati yang ikhlas. Kamu melakukannya karena kamu hanya ingin memberikan sedekah kepada pengemis itu dan bukan karena sayang kepadanya.

Atau kamu memberikan makanan kepada teman-temanmu. Kamu melakukannya atas dasar ingin menyenangkan temanmu itu. Dan masih banyak contoh lain yang bisa kamu lihat dalam kehidupan sehari-harimu.

Nah, yang kedua adalah kamu tidak bisa menyayangi tanpa memberi. Ketika kamu menyayangi Fatma apakah kamu suka memberinya sesuatu?”

Zein menganggukkan kepala.

“Iya, Ayah. Aku tidak bisa jika tidak memberinya sesuatu. Aku memberikan barang atau makanan yang ia sukai. Aku ingin membuatnya bahagia. Dan Fatma memang senang menerimanya.

“Baguslah kalau begitu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Malik bahwa Rasulullah bersabda, ‘Bersalam-salamlah kamu niscaya itu akan menghilangkan perasaan iri hati, dan saling memberilah di antara kamu niscaya kamu akan saling mencintai antara sesama kamu dan ia akan menghilangkan permusuhan.’ Hal yang kamu lakukan itu baik, Zein.”

Zein menganggukkan kepalanya lagi.

Halaman Berikutnya >>

4 thoughts on “Menyayangi dan Memberi

  1. bagus banget ceritanya, bnyak pesan yg bisa d ambil dari cerita ini… keren lah

  2. keren bangettt nget..:)

  3. Kerrreennnn….!!!

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s