Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Al-Qur’an Imam Kita

6 Comments

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh !

Saudara-saudara, kaum muslimin rohimakumulullah. Setiap penganut agama di dunia ini mempunyai sebuah kitab yang dianggapnya sebagai kitab suci. Orang Hindu mempunyai Kitab Wedha. Orang Budha mempunyai Kitab Tripitaka. Orang Yahudi mempunyai Kitab Taurat. Orang Nasrani mempunyai Kitab Injil. Penganut Konghucu mempunyai Kitab Tautehking. Orang Majusi mempunyai Kitab Zenavesta. Orang Kebatinan mempunyai Kitab Serat Centani, Hidayat Jati, Darmo Gandul atau Gatolojo. Sementara kita, orang Islam diberikan Kitab Al-Quran Al-Karim oleh Allah.

Mengapa kita yakini bahwa Al-Qur’an ini sebagai kitab suci? Pertama, ia bebas dari intervensi dan investasi manusia. Ia sepenuhnya, baik isi maupun redaksi adalah produk dari Allah Subhanahu Wata’ala. Kita meyakini Al-Qur’an sebagai kitab suci karena sampai hari ini belum ada seorang pun yang sanggup membuat seperti itu. Suatu kitab hanya dinamakan suci jika dia bersih dari investasi dan intervensi manusia. Al-Qur’an ini, sejak turunnya 14 abad yang lalu telah menantang, “Apabila kamu ragu-ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami, Muhammad, atau kamu menyangka bahwa Al-Qur’an itu hanya karangan Muhammad saja maka cobalah kamu buat sebuah surat semacam Al-Qur’an. Apabila kamu tidak mampu melakukannya seorang diri maka ajaklah seluruh teman-temanmu.”

Al-Qur'an

Kedua, kita meyakini Al-Qur’an sebagai kitab suci karena isi dan ajarannya sesuai dengan fitrah manusia. Suatu kitab dinamakan suci jika ajarannya sejalan dengan fitrah manusia. Misalnya, laki-laki memiliki nafsu terhadap perempuan dan perempuan suka terhadap laki-laki. Hal ini adalah fitrahnya sebagai manusia. Jika ada kitab suci yang melarang manusia untuk menikah maka kesucian kitab itu perlu diselidiki. Al-Qur’an adalah kitab suci yang sejalan dengan fitrah manusia maka ia menganjurkan manusia yang mampu untuk melangsungkan pernikahan.

Contoh lain adalah secara fitrah manusia perlu makan. Jika ada kitab suci yang menyuruh manusia untuk puasa terus-menerus dari pagi sampai siang kemudian sore sampai malam lalu puasa lagi sampai pagi hari maka hal itu sama saja menyuruh manusia untuk mati. Al-Qur’an sesuai dengan fitrah manusia maka Islam melarang puasa wishol atau puasa ngableng atau puasa nyambung artinya seseorang puasa dari mulai pagi hari sampai pagi kembali dan tidak berbuka pada saat magrib. Puasa seperti ini bukan hanya tidak boleh tetapi hukum melakukannya adalah haram. Kenapa? Karena hal itu bertentangan dengan fitrah manusia.

Ketiga, kita meyakini Al-Qur’an sebagai kitab suci karena isi Al-Qur’an tidak kontroversi artinya isinya tidak saling bertentangan satu sama lain. Dalam ayat manapun Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah itu esa. Contoh lainnya, jika satu kali Al-Qur’an menjelaskan sesuatu itu adalah haram maka ia akan tetap berkata bahwa sesuatu itu adalah haram. Jika sebuah kitab suci memiliki kontroversi, misalnya di satu ayat mengajarkan bahwa Tuhan itu satu tetapi di ayat lainnya mengajarkan bahwa Tuhan itu ada tiga, di ayat lain mengajarkan bahwa Tuhan itu ada empat maka nama kitab itu adalah kitab kacau. Bagaimana suatu kitab disebut suci kalau isinya kontroversi satu dengan yang lainnya?

Dari ketiga kriteria inilah kita meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci. Masalah yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah bagaimana sikap kita terhadap Al-Qur’anulkarim sebagai kitab suci.

Berangkat dari sebuah hadits, dimana Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam pernah memberikan tawaran. Beliau bersabda, “Siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imam maka Al-Qur’an akan membimbing ia ke dalam surga tetapi siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai makmum maka Al-Qur’an akan mendorong ia ke dalam neraka.”

Pilihan itu terserah kepada kita. Siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imam, ditempatkannya Al-Qur’an di depan, dia ikuti petunjuk dan ajaran Al-Qur’an maka Al-Qur’an akan membimbingnya ke dalam surga. Baik surga dunia maupun surga akhirat. Tetapi sebaliknya, siapa saja yang menempatkan Al-Qur’an di belakangnya, dia belakangi Al-Qur’an, dia belakangi ajaran-ajaran dan perintah Al-Qur’an, dia menuruti hawa nafsunya dalam kehidupan maka Al-Qur’an akan mendorong ia ke dalam neraka. Baik neraka dunia maupun neraka akhirat. Pilihan itu terserah kepada kita.

Saya mau bertanya, kira-kira Al-Qur’an dalam hidup kita itu sebagai imam atau sebagai makmum? Kalau Al-Qur’an sebagai imam, artinya kita sebagai umat islam jadi makmum. Resiko dan logikanya adalah makmum harus mengikuti imam. Imam takbir, makmum takbir. Imam ruku’, makmum ruku’. Imam sujud, makmum sujud. Imam tahiyat, makmum tahiyat. Itu namanya Al-Qur’an menjadi imam dan kita menjadi makmum. Artinya dalam kehidupan adalah kita mengikuti ajaran Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an mengatakan merah maka kita juga mengatakan merah. Hijau kata Al-Qur’an, hijau kita bilang. Ke barat kata Al-Qur’an, ke barat kita pergi. Ke timur kata Al-Qur’an, ke timur kita berangkat. Halal kata Al-Qur’an, halal kata kita. Haram kata Al-Qur’an, haram kita bilang. Itu artinya Al-Qur’an sebagai imam dan kita sebagai makmum. Tetapi kenyataannya kadang-kadang kontras. Nyatanya kadang-kadang paradok. Merah kata Al-Qur’an, hijau dong kata kita. Halal kata Al-Qur’an, ah.. remang-remang kita bilang. Ke barat kata Al-Qur’an, ke timur kita pergi. Dalam praktek kita mau menjadi makmum tetapi kita menyuruh Al-Qur’an sebagai imam. Kita sesuaikan Al-Qur’an dengan selera kita. Mana ayat yang menguntungkan, mana ayat-ayat yang sesuai dengan keinginan kita. Itu yang kita baca kuat-kuat, itu yang kita canangkan ke tengah masyarakat ramai. Tapi manakala Al-Qur’an itu bertentangan dengan nafsu kita, bertentangan dengan gaya dan kepribadian kita maka kita sembunyikan itu Al-Qur’an. Kadang-kadang kita tuduh Al-Qur’an itu ketinggalan zaman, kita anggap Al-Qur’an tidak relevan lagi dengan situasi dan kondisi. Kalau sudah begitu, maka kita sudah menyebrang terlalu jauh.

Halaman Berikutnya >>

6 thoughts on “Al-Qur’an Imam Kita

  1. Ane ijin copy paste ya untuk isi kultum Ramadhon

  2. Bagus sekali, tatanan bahasanya rapi, diselingi canda yang bermakna. kalau bisa ditampilkan juga judul-judul ceramah yang alainnya, seperti yang berjudul : Harta, Tahta, Wanita atau 7 golongan yang men dapat naungan Alloh swt di hari akhir. syukron

    • Terima Kasih, Mas Rohmat. Iya saya sedang menulis juga tausyiah yang lainnya. Mas juga bisa melihat dan membaca postingan lainnya di dalam blog ishfah7.wordpress.com ini. Insya Allah bermanfaat dan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

  3. iya benar, mas riyan. silakan download tausyiah dalam bentuk audio nya. mas riyan bisa mendengarkan langsung tausyiah dari KH.Zainuddin MZ

  4. apakah positng ini merupaka teks dari pidato alm
    KH.Zainuddin MZ

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s