Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Kemiskinan

Leave a comment

“Kemiskinan itu membelenggu setiap unsur di dalam jiwa, raga dan cita-cita tapi tidak dapat membelenggu iman di dalam dada manusia.”

Siang yang panas di Kota Semarang. Setiap orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Siang itu pukul 14:04 Hasan baru menyelesaikan urusannya dengan klien perusahaan tempat ia bekerja. Perut Hasan mulai berdemo. Perutnya keroncongan minta diisi. Hasan memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan. Dia pun masuk dan memesan makanan. Ketika sedang memesan makanan, masuklah seorang perempuan berpakaian putih-putih. Dia juga hendak memesan makanan. Perempuan itu berpapasan dengan Hasan. Hasan kaget sekaligus senang ternyata perempuan itu adalah Melanie, teman Hasan semasa SMA. Mereka saling menyapa, bersalaman dan duduk di meja yang sama.

Hasan

“Lo ada di sini juga, Mel?”

Melanie

“Yupz, Mel emang sering makan di sini. Apalagi klinik tempat Mel kerja lumayan deket dari sini. Dari belokan di depan itu nyebrang deh ke kanan. Itu klniniknya.”

(Melani menunjukkan Hasan tempat dimana ia bekerja)

“Lo abis darimana, San?”

Hasan

“Gue baru nyelesain kontrak kerja sama klien. Alhamdulillah perusahaan gue menang tender proyek ngebangun sekolah internasional.”

Melanie

“Oh, yang punya Romy Corporation itu ya? Mel denger sih itu sekolah mau dibangun gede-gedean ya?”

Hasan

“Ya benar. Gue memang baru dari kantornya. Mudah-mudahan semuanya lancar.”

Melanie

“Amin. Eh, Tommy lagi ada di Semarang juga lho. Kemarin Mel ketemu dia di Mall. Bentar-bentar, Mel telepon dia dulu, siapa tahu dia bisa kesini.”

(Melanie menelepon Tommy dan Tommy bilang dia mau datang. Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang. Hasan langsung meminum jus jeruknya. Sekali tenggak langsung habis. Hasan memang sedang kehausan. Sepuluh menit kemudian Tommy datang dan bergabung dengan mereka. Tommy langsung memesan makanan sementara Hasan dan Melanie sedang menyantap hidangannya. Mereka bertiga adalah teman satu kelas semasa SMA dulu. Sekarang mereka berkumpul di sini. Reuni kecil antar teman seperjuangan.)

Hasan

“Lo pulang darimana tadi, Tom? Gue denger dari Mel, lo lagi nyari kerja ya?”

Tommy

“Ya, benar. Tadi gua pulang dari interview kerja di sebuah perusahaan otomotif. Tapi ya gitu, belum ada hasilnya. Katanya dua minggu lagi baru diumumin hasilnya.”

Melanie

“Ya baguslah itu. Yang penting lo udah berusaha, Tom. Tinggal tunggu hasilnya aja.”

Tommy

“Kalian berdua sih enak, Mel, San. Udah pada kerja, punya penghasilan. Lah gua? Haduh, kehidupan gua sekarang seret. Susah ini itu. Gak ada uang. Gak banget deh. Kenapa ya dari dulu gua rasa hidup gua gak cukup dibandingkan dengan orang lain. Ibu bapak gua orang gak berada. Bisa disebut miskin lah. Haduh, miskin itu bener-bener ngebelenggu. Ngebelenggu jiwa, raga dan cita-cita gua.”

Hasan

“Kenapa lo bilang gitu?”

Tommy

“Gua ngerasa kayak gitu, San. Perasaan, dari dulu gua gak pernah mendapatkan apa yang gua inginkan dari segi materi. Selalu saja temen-temen yang dapet duluan. Misalkan handphone, mereka duluan yang punya. Hape yang bagus pula. Sedangkan gua baru dapet itu hape, beberapa tahun kemudian. Sama kayak kerjaan. Padahal gua tiap hari ikhtiar.”

Hasan

“Jangan begitu dong, Tom. Jangan ngeluh gitu. Hati-hatilah. Jaga ucapan. Syukuri saja apa yang ada.”

Tommy

“Lo bicara kayak gini karena lo sedang naik daun. Ada dalam posisi yang enak. Lah gua, gimana sekarang?”

Hasan

“Lo tau sendiri kan gimana gua dulu? Gua itu anak sulung yang punya empat adik yang masih kecil-kecil. Dari kecil, gua bantuin nyokap bokap dagang di pasar. Gua hidup gak mudah, Tom. Malah kalian berdua lebih beruntung bisa nyelesaian kuliah. Sementara gua, SMA aja keluar karena gak ada uang untuk biaya sekolah. Gua rasa, kehidupan kita memang udah ada jalannya masing-masing.”

Tommy

Miskin

“Coba deh lihat berita di tivi itu !”

(Melanie dan Hasan melihat berita di televisi yang berada di dekat meja kasir. Berita yang menceritakan kemiskinan warga Indonesia di berbagai daerah.)

Bukan gua saja yang ngerasain hidup kayak gini. Di tivi itu lihat, banyak sekali orang miskin. Kayaknya negara udah gak peduli lagi sama rakyatnya.”

Melanie

“Udahlah, gak usah bawa negara dulu. Yang penting kita sendiri yang ikhtiar untuk kehidupan kita sendiri.  Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan sekarang. Kalo nunggu pemerintah ngatasin masalah kemiskinan, wah gak tau kapan itu bisa terealisasi. Bener gak, San?”

Hasan

“Bener banget, Mel. Gua setuju. Oiya Tom, mengapa lo bilang kemiskinan itu bisa membelenggu setiap jiwa, raga dan cita-cita?”

Tommy

“Pertama, kemiskinan membelenggu jiwa. Orang yang miskin, hatinya gak selalu tenang.”

Melanie

“Gak tenang gimana?”

Tommy

“Makan gak tau kapan. Terus misalkan kalau dia punya anak, gimana sekolahnya, gimana bayar ini itu. Ah gak tenang pokoknya. Kedua, membelenggu raga. Dia gak bisa makan enak, badannya kurus kering. Yang ketiga, orang miskin itu cita-citanya pendek.“

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s