Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

7 Penyakit Hati

2. Envy X Syukur

Penyakit hati yang kedua adalah Envy (iri hati, dengki, hasud). Rasa dengki dan iri tumbuh ketika orang lain menerima nikmat. Biasanya jika seseorang mendapatkan nikmat, maka akan ada dua sikap pada manusia. Pertama, ia benci terhadap nikmat yang diterima kawannya dan senang bila nikmat itu hilang darinya. Sikap inilah yang disebut hasud, dengki dan iri hati. Kedua, ia tidak menginginkan nikmat itu hilang dari kawannya, tapi ia berusaha keras bagaimana mendapatkan nikmat semacam itu. Sikap kedua ini dinamakan ghibthah (keinginan). Yang pertama itulah yang dilarang sedangkan yang kedua diperbolehkan.

Sifat iri adalah kesedihan yang mendalam karena kelebihan yang dimiliki seseorang. Orang yang  iri hati akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mencelakakan orang lain. Karena tujuannya adalah melenyapkan kelebihan yang dimiliki orang tersebut. Irinya iblis kepada Nabi Adam merupakan dosa pertama kali yang diperbuat di atas langit.

Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenar-benarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra nabi Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, ‘Sesungguhnya, aku pasti membunuhmu!’ Dia (Habil) berkata ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertaqwa.” (Al-Ma’idah : 27)

Dari sifat irinya Qabil kepada Habil, maka terjadilah pertumpahan darah dan itu merupakan perbuatan dosa pertama kali yang dilakukan di muka bumi. Adapun sifat iri, merupakan salah satu sumber dari segala maksiat. “Barangsiapa yang terbebas dari tiga sifat ini, maka dia akan terlindung dari segala macam kejelekan. (Ketahuilah), kekafiran itu berasal dari sifat sombong. Maksiat berasal dari sifat tamak. Sikap melampaui batas dan kezholiman berasal dari sifat dengki (hasad).” (Ibnul Qoyyim –rahimahullah)

Nabi SAW bersabda, “Jauhilah semua sifat dengki/iri hati itu, karena sesungguhnya sifat dengki itu bisa menghabiskan amal-amal kebaikan sebagaimana api menghabiskan kayu bakar .” (HR Abu Dawud)

Sebab-sebab iri hati atau Envy :

  1. Kecintaan kepada dunia. Dengki biasa terjadi di antara orang-orang terdekat : antar keluarga, antar teman, antar tetangga dan orang-orang yang berdekatan lainnya. Kecintaan kepada dunia yang mengakibatkan dengki antar sesama disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya karena permusuhan. Ini adalah penyebab kedengkian yang paling parah. Ia tidak suka orang lain menerima nikmat, karena dia adalah musuhnya. Bila musuhnya itu mendapat nikmat, hatinya menjadi sakit karena bertentangan dengan tujuannya. Permusuhan itu tidak saja terjadi antara orang yang sama kedudukannya, tetapi juga bisa terjadi antara atasan dan bawahannya. Sehingga sang bawahan, misalnya, selalu berusaha menggoyang kekuasaan atasannya.
  2. Ta’azzuz (merasa paling mulia). Ia keberatan bila ada orang lain melebihi dirinya. Ia takut apabila orang lain mendapatkan kekuasaan, pengetahuan atau harta yang bisa mengungguli dirinya.
  3. Takabur atau sombong. Ia memandang remeh orang lain dan karena itu ia ingin agar dipatuhi dan diikuti perintahnya. Ia takut apabila orang lain memperoleh nikmat, berbalik dan tidak mau tunduk kepadanya. Termasuk dalam sebab ini adalah kedengkian orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang seorang anak yatim tapi kemudian dipilih Allah untuk menerima wahyu-Nya. Kedengkian mereka itu dilukiskan Allah dalam firman-Nya, yang artinya: “Dan mereka berkata: Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?” (QS. Az Zukhruf: 31) Maksudnya, orang-orang kafir Quraisy itu tidak keberatan mengikuti Muhammad, andai saja beliau itu keturunan orang besar, tidak dari anak yatim atau orang biasa.
  4. Ta’ajub atau heran terhadap kehebatan dirinya. Hal ini sebagaimana yang biasa terjadi pada umat-umat terdahulu saat menerima dakwah dari rasul Allah. Mereka heran manusia yang sama dengan dirinya, bahkan yang lebih rendah kedudukan sosialnya, lalu menyandang pangkat kerasulan, karena itu mereka mendengkinya dan berusaha menghilangkan pangkat kenabian tersebut sehingga mereka berkata: “Adakah Allah mengutus manusia sebagai rasul?” (QS. Al-Mu’minun: 34). Allah menjawab keheranan mereka dengan firman-Nya, yang artinya: “Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu ?” (QS. Al A’raaf: 63)
  5. Takut mendapat saingan. Bila seseorang menginginkan atau mencintai sesuatu maka ia khawatir jika mendapat saingan dari orang lain, sehingga tidak terkabul apa yang ia inginkan. Karena itu setiap kelebihan yang ada pada orang lain selalu ia tutup-tutupi. Bila tidak, dan persaingan terjadi secara sportif, ia takut kalau dirinya tersaingi dan kalah. Dalam hal ini bisa kita contohkan dengan apa yang terjadi antara dua wanita yang memperebutkan seorang calon suami, atau sebaliknya. Atau sesama murid di hadapan gurunya, seorang alim dengan alim lainnya untuk mendapatkan pengikut yang lebih banyak dari lainnya, dan sebagainya.
  6. Ambisi memimpin (hubbur riyasah). Hubbur riyasah dengan hubbul jah (senang pangkat/kedudukan) adalah saling berkaitan. Ia tidak menoleh kepada kelemahan dirinya, seakan-akan dirinya tiada bandingannya. Jika ada orang di penjuru dunia ingin menandinginya, tentu itu menyakitkan hatinya, ia akan mendengkinya dan menginginkan lebih baik orang itu mati saja, atau paling tidak hilang pengaruhnya.
  7. Kikir dalam hal kebaikan terhadap sesama hamba Allah. Ia gembira jika disampaikan kabar kepadanya bahwa si fulan tidak berhasil dalam usahanya. Sebaliknya ia merasa sedih jika diberitakan, si fulan berhasil mencapai kesuksesan yang dicarinya. Orang semacam ini senang bila orang lain terbelakang dari dirinya, seakan-akan orang lain itu mengambil dari milik dan simpanannya. Ia ingin meskipun nikmat itu tidak jatuh padanya, agar ia tidak jatuh pada orang lain. Ia tidak saja kikir dengan hartanya sendiri, tetapi kikir dengan harta orang lain. Ia tidak rela Allah memberi nikmat kepada orang lain. Dan inilah sebab kedengkian yang banyak terjadi.

Allah melarang kita iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An Nisaa’ Ayat 32)

Iri hanya boleh dalam dua hal yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksnaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.“

Envy Versus Syukur

Sahabat Viewers, obat untuk mengobati iri hati adalah dengan bersyukur. Syukur adalah bentuk terima kasih manusia kepada Allah. Syukur dapat diekspresikan dengan mengucapkan kalimat hamdalah yaitu Alhamdulillah artinya Segala Puji Bagi Allah. Syukur juga dapat direalisasikan dalam bentuk nyata seperti seseorang yang bersyukur karena memiliki mata yang sehat. Supaya matanya tetap sehat orang itu selalu merawatnya.

Suatu ketika, Imran ibnu Hathhan menggauli istrinya. Imran adalah seorang yang buruk bentuknya, kotor, wajahnya berjerawat dan pendek tubuhnya, sedangkan istrinya adalah wanita yang berparas cantik. Tatkala ia memandang istrinya, tampak di matanya, si istri semakin bertambah cantik. Ia tidak mampu menahan diri hingga terus-menerus memandangi isrinya. Maka si istri bertanya, “Ada apa denganmu?” Imran menjawab, “Segala puji bagi Allah. Sungguh demi Allah, engkau semakin bertambah cantik.”

Si istri menjawab, “Bergembiralah, sesungguhnya aku dan kamu akan masuk surga.” Imran berkata, “Dari mana kamu tahu hal itu?” Si istri menjawab, “Karena kamu dikaruniai orang sepertiku dan engkau mensyukurinya. Dan aku diberi cobaan dengan orang sepertimu dan aku bersabar atas cobaan tersebut. Orang yang sabar dan orang yang bersyukur akan masuk surga.”

Sahabat Viewers boleh tersenyum langsung sebab itu menunjukkan kejeniusan. Tetapi, boleh juga tersenyum telat, besok atau lusa, bahkan tahun depan. Sebab itu pun menunjukkan masih adanya tanda-tanda untuk layak dikembangkan kejeniusannya.

Apa pun diri kita –dengan segala kelebihan dan kekurangan- marilah kita menjadi orang-orang yang berani meningkatkan rasa sabar dan syukur. Dengan sabar dan syukur yang optimal, kita akan berani bersahabat dengan masalah. Sedangkan orang-orang yang tidak bersyukur dan tidak bersabar akan menjadi orang-orang yang reaktif dengan masalah. Persis seperti orang yang melihat kucing bagaikan singa dan singa bagaikan kucing.

Ada sebuah puisi indah tentang syukur yang dapat kita renungkan. Mari kita simak bersama.

Be Thankful

Be thankful that you don’t already have everything you desire

If you did, what would there be to look forward to?

Be thankful when you don’t know something

For it gives you the opportunity to learn

Be thankful for the difficult times

During those times you grow

Be thankful for your limitations

Because they give you opportunities for improvement

Be thankful for each new challenge

Because it will build your strength and character

Be thankful for your mistakes

They will teach you valuable lessons

Be thankful when you are tired and weary

Because it means you’ve made a difference

It is easy to be thankful for the good things

A life of rich fulfillment comes to those who are also thankful for the setbacks

Gratitude can turn a negative into positive

Find a way to be thankful for your troubles

And they can become your blessing

Bersyukurlah

Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan

Jika engkau memiliki semuanya, apalagi yang hendak dicari?

Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu

Karena itu memberi kesempatan kepadamu untuk belajar

Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi

Karena selama itulah engkau tumbuh menjadi dewasa

Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki

Karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri

Bersyukurlah atas setiap tantangan baru

Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu

Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yang kau perbuat

Karena hal itu memberimu pelajaran yang berharga

Beryukurlah ketika engkau lelah dan tak berdaya

Karena berarti engkau telah membuat suatu perbedaan

Adalah mudah untuk bersyukur atas hal-hal baik

Kehidupan yang bermakna adalah mereka yang juga bersyukur atas kesulitan yang dihadapi

Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif

Berusahalah bersyukur atas kesulitan yang engkau hadapi

Sehingga kesulitan itu akan menjadi berkah bagi dirimu

Download puisi Bersyukurlah.

–>>3. Lust X Nikah

Advertisements

Comments are closed.