Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

7 Penyakit Hati

4. Greed X Qona’ah

Penyakit hati yang keempat adalah Greed atau serakah. Diriwayatkan, Iblis pernah mengungkap rahasia strateginya membinasakan manusia, yakni dengan menanamkan sifat dengki (hasad, iri hati) dan serakah dalam diri manusia.

“Wahai Nuh, aku akan berusaha membinasakan manusia dengan dua cara. Pertama, dengan cara menanamkan sifat dengki dalam hati mereka, dan kedua dengan cara menanamkan sifat serakah dalam jiwa mereka. Karena dengki maka aku dilaknat Allah dan dijadikan sebagai setan terkutuk. Dan karena serakah maka Adam menghalalkan segala makanan di surga sehingga ia dikeluarkan. Dengan dua sifat ini, kami semua dikeluarkan dari surga,” kata iblis.

Dengki (hasad, iri hati) dan serakah (tamak) termasuk penyakit hati dan akhlak (perangai) tercela. Menurut Iblis dalam kisah di atas, dua sifat buruk itu membuat manusia binasa. Hasad merupakan sikap batin, keadaan hati, atau rasa tidak senang, benci, dan antipati terhadap orang lain yang mendapatkan kesenangan, nikmat, memiliki kelebihan darinya. Sebaliknya, ia merasa senang jika orang lain mendapatkan kemalangan atau kesengsaraan.

Greed atau serakah yaitu sikap tidak puas dengan yang menjadi hak atau miliknya, sehingga berupaya meraih yang bukan haknya. Setiap orang berpotensi bersikap serakah. “Jika seorang anak Adam telah memiliki harta benda sebanyak satu lembah, pasti ia akan berusaha lagi untuk memiliki dua lembah. Dan andaikata ia telah memiliki dua lembah, ia akan berusaha lagi untuk memiliki tiga lembah. Memang tidak ada sesuatu yang dapat memenuhi keinginan anak Adam kecuali tanah (tempat kubur, yakni mati). Dan Allah akan menerima tobat mereka yang bertobat.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi)

Sikap serakah dapat mendorong orang mencari harta sebanyak-banyaknya dan jabatan setinggi-tingginya, tanpa menghiraukan cara halal atau haram. Serakah telah membuat banyak pejabat melakukan korupsi, padahal mereka sudah bergaji besar dan ditambah dengan berbagai tunjangan. Keserakahan dapat membuat seseorang bersikap kikir alias tidak dermawan dan tidak peduli akan nasib orang lain. Serakah dan tamak telah membinasakan kaum sebelum umat Muhammad Saw. “Jauhkanlah kikir dan tamak, karena hal itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu.” (HR Muslim)

Diceritakan, pagi itu beberapa orang berkerumun di Balai Desa Qudaid, pinggir kota sebelah utara Makkah. Seorang laki-laki dengan tergesa-gesa menyampaikan satu pengumuman, “Barangsiapa yang berhasil membawa Muhammad hidup atau mati ke Makkah, akan mendapatkan hadiah seratus ekor unta betina muda.”

Sayembara itu diadakan oleh para pembesar Quraisy setelah mereka putus asa tidak bisa menemukan Muhammad. Mereka telah mencarinya ke mana-mana, bahkan sampai ke bukit Tsur, sebelah selatan Makkah, namun mereka tidak menemukannya. Mendengar pengumuman itu, Suraqah bin Malik al-Madlaji, bertekad memenangkan hadiah itu. Dia segera menyusun strategi. Tak lama, datang seseorang ke balai desa menyatakan bahwa belum lama berselang dia bertemu dengan tiga orang di tengah jalan. Dia yakin itulah Muhammad, Abu Bakar, dan seorang penunjuk jalan. Dalam hati Suraqah gembira dengan petunjuk itu, tetapi untuk mengecoh yang lain dia pura-pura menolaknya. “Tidak mungkin,” kata Suraqah tegas. Mereka adalah Banu Fulan yang tadi lewat di sini mencari unta mereka yang hilang.” Tampaknya mereka lebih percaya Suraqah daripada orang yang baru datang itu. Suraqah segera pulang. Dia menyiapkan seekor kuda dan menyuruh pelayannya membawa kuda itu secara sembunyi-sembunyi ke lembah. Suraqah segera ke lembah itu, memakai baju besi, menyandang pedang, lalu memacu kudanya. Sebagai seorang pemburu dan pelacak jejak yang berpengalaman, Suraqah segera menemukan jalur yang ditempuh Nabi Muhammad dan Abu Bakar.

Suraqah berhasil melihat jejak Rasul dan Abu Bakar. Suraqah sangat senang, terbayang seratus ekor unta akan menjadi miliknya. Setelah jaraknya cukup untuk memanah, dia ambil busurnya, tiba-tiba tangannya kaku dan tidak bisa digerakkan. Kaki kudanya terbenam ke pasir. Dia coba menarik tali kekang kuda ke atas dan mendorong kuda itu untuk mengumpulkan tenaga agar dapat mengangkat kakinya. Tapi, kudanya tidak mampu berdiri. Suraqah berteriak keras, “Hai kamu berdua! Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia melepaskan kaki kudaku. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian.” Lalu Nabi berdoa, maka terbebaslah kaki kuda Suraqah dari pasir. Tetapi, karena sifat tamak dan serakahnya, membayangkan seratus ekor unta betina muda, Suraqah mengingkari janjinya. Dia kembali memacu kudanya untuk menyerang Nabi. Namun, tiba-tiba peristiwa semula terjadi kembali, kaki kudanya terbenam lagi di pasir, dan sekarang lebih dalam. Suraqah memohon belas kasihan Nabi. “Ambillah perbekalanku, harta, dan senjataku. Aku berjanji akan menyuruh kembali setiap orang yang berusaha melacak kalian di belakangku.” Nabi segera menjawab permohonan Suraqah, “Kami tidak butuh perbekalan dan hartamu. Cukuplah kalau engkau suruh kembali orang-orang yang hendak melacak kami.” Kemudian, Nabi berdoa agar kuda Suraqah terbebas dari pasir. Suraqah menepati janjinya. Dia pergi meninggalkan Nabi SAW dan Abu Bakar. Sebelum pergi dia kembali mengulangi janjinya, “Demi Allah. Saya tidak akan mengganggu tuan-tuan lagi.”

Belajar dari pengalaman, sebagai seorang Muslim, marilah kita menjaga diri kita dari sifat tamak dan serakah. Keserakahan justru akan membuat kita celaka dan sengsara.

Greed Versus Qonaah

Sahabat Viewers yang berbahagia, obat untuk serakah adalah qona’ah. Qona’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang. Qona’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan atau tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qona’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, ia akan rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur pada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya beruntung bagi orang yang masuk islam dan rizkinya cukup dan merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Orang yang mempunyai sifat Qona’ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau apa yang ada pada dirinya adalah ketentuan Allah. Firman Allah SWT, ”Tiada sesuatu yang melata di bumi melainkan di tangan Allah rizkinya.” (Hud:8)

Qona’ah harus menjadi sifat dasar setiap muslim, karena sifat tersebut dapat menjadi pengendali agar tidak surut dalam keputus-asaan dan tidak terlalu maju dalam keserakahan. Qona’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dikatakan stabilisator, karena seorang muslim yang mempunyai sifat Qona’ah akan selalu berlapang dada, berhati tenteram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakikatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya. Bila kita perhatikan banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya dipenuhi dengan keserakahan dan kesengsaraan. Sebaliknya banyak orang yang terlihat seperti kekurangan namun hidupnya tenang, penuh kegembiraan, bahkan masih sanggup mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial.

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda, ”Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta benda, tapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena hatinya selalu merasa berkecukupan, maka orang yang mempunyai sifat Qona’ah terhindar dari sifat loba/tamak, yang cirinya antara lain suka meminta kepada kepada sesama manusia karena merasa masih kurang puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Di samping itu Qona’ah juga berfungsi sebagai dinamisator, yaitu kekuatan batin yang selalu mendorong seseorang untuk meraih kemajuan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung pada karunia Allah. Qona’ah berhubungan erat dengan sikap hati atau sikap mental. Oleh karena itu untuk menumbuhkan sifat Qona’ah diperlukan latihan dan kesabaran. Pada tingkat permulaan mungkin memberatkan hati, namun jika sifat Qona’ah sudah menjadi bagian dari kehidupan maka kebahagiaan di dunia akan dapat dinikmati dan kebahagian akhirat akan dicapainya.

Qonaah memiliki beberapa faedah atau keutamaan yaitu :

  1. Iman kepada Allah
    Seorang yang qana’ah akan yakin terhadap ketentuan yang ditetapkan Allah sehingga dia ridha terhadap rezeki yang telah ditakdirkan dan dibagikan kepadanya. Hal ini erat kaitannya dengan keimanan kepada takdir Allah. Seorang yang qana’ah akan yakin bahwa Allah telah menjamin dan membagi seluruh rezeki para hamba-Nya, bahkan ketika sang hamba dalam kondisi tidak memiliki apapun.
  2. Kehidupan yang baik
    Allah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97].
    Kehidupan yang baik tidak identik dengan kekayaan yang melimpah ruah. Oleh karenanya, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik dalam ayat di atas adalah Allah memberikannya rezeki berupa rasa qana’ah di dunia. Sebagian ahli tafsir yang lain menyatakan bahwa kehidupan yang baik adalah Allah menganugerahi rezeki yang halal dan baik kepada hamba. [Tafsir ath-Thabari 17/290; Maktabah asy-Syamilah].
  3. Syukur kepada Allah
    Seorang yang qana’ah tentu akan  bersyukur kepada-Nya atas rezeki yang diperoleh. Sebaliknya barangsiapa yang memandang sedikit rezeki yang diperolehnya, justru akan sedikit rasa syukurnya, bahkan terkadang dirinya berkeluh-kesah. Nabi pun berpesan kepada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling taat. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling bersyukur” [HR. Ibnu Majah: 4217].
    Seorang yang berkeluh-kesah atas rezeki yang diperolehnya, sesungguhnya sedang berkeluh-kesah atas pembagian yang telah ditetapkan Rabb-nya. Barangsiapa yang mengadukan minimnya rezeki kepada sesama makhluk, sesungguhnya dirinya tengah memprotes Allah kepada makhluk. Seseorang pernah mengadu kepada sekelompok orang perihal kesempitan rezeki yang dialaminya, maka salah seorang di antara mereka berkata, “Sesungguhnya engkau sedang mengadukan Zat yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu.” [Uyun al-Akhbar karya Ibnu Qutaibah 3/206].
  4. Terjaga dari dosa
    Seorang yang qana’ah akan terhindar dari berbagai akhlak buruk yang dapat mengikis habis pahala kebaikannya seperti hasad, namimah, dusta dan akhlak buruk lainnya. Faktor terbesar yang mendorong manusia melakukan berbagai akhlak buruk tersebut adalah tidak merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, tamak akan dunia dan kecewa jika bagian dunia yang diperoleh hanya sedikit. Semua itu disebabkan oleh minimnya rasa qana’ah yang dimiliki seseorang. Jika seseorang memiliki sifat qana’ah, bagaimana bisa dia melakukan semua akhlak buruk di atas? Bagaimana bisa dalam hatinya timbul kedengkian, padahal dia telah ridha terhadap apa yang  telah ditakdirkan Allah?
    Abdullah bin Mas’ud, “Al Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, engkau tidak dengki kepada seorang pun atas rezeki yang ditetapkan Allah, dan tidak mencela seseorang atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan seseorang dan tidak akan tertolak karena kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah ta’ala –dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya- menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridha kepada-Nya sserta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keragu-raguan (tidak yakin atas takdir Allah) dan kebencian (atas apa yang telah ditakdirkan Allah).” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman (209)].
    Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Saya menjumpai yang mengalami kesedihan berkepanjangan adalah mereka yang hasad sedangkan yang memperoleh ketenangan hidup adalah mereka yang qana’ah.” [Al Qana’ah karya Ibnu as-Sunni hlm. 58].

–>>5. Sloth X Kerja Keras

Advertisements

Comments are closed.