Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

7 Penyakit Hati

6. Wrath X Sabar

Penyakit hati keenam adalah Wrath atau kemarahan. Marah adalah keadaan seseorang yang mengalami gangguan dari luar diri yang membuatnya merasa tidak nyaman dan ingin berontak dan mendobrak kekecewaannya itu dengan mengumpulkan semua energi dari dalam tubuhnya dan disalurkan melalui tangan atau tindakan terhadap orang lain atau benda yang berada di sekitarnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah, seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW, “Berwasiatlah kepadaku.” Beliau bersabda, “Jangan marah!” Beliau mengulanginya hingga beberapa kali, seraya bersabda, “Jangan marah!”

Ada makna yang mendalam, yaitu jangan sampai kita menumpahkan kemarahan kita tidak pada tempatnya. Abu Dzar Al-Ghifari mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Apabila salah seorang di antara kalian marah sambil berdiri, hendaklah dia duduk hingga kemarahannya hilang. Jika tidak hilang juga maka hendaklah ia berbaring.”

Sahabat Viewers, dikisahkan ada seorang calon mahasiswa yang marah karena ia tidak lolos Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Mahasiswa itu bernama Adin. Kala itu, Adin membaca pengumuman sampil berdiri, saat ingat hadis Rasul tentang marah, dia langsung duduk. Tetapi karena masih marah, maka dilanjutkan dengan berbaring. Entah inspirasi dari mana, rupanya dia tercerahkan dengan kemarahannya itu setelah merenungkan makna lain dari hadis di atas. Selama ini ketika Adin ingat tidak diterima di ujian SPMB dan mengamalkan hadis yang harus mengubah-ubah posisi waktu marah, ternyata menyebabkan dia tidak produktif. Kemudian ia memaknai kegiatan duduk dan berbaring ketika marah sebagai gerak. Jadi bukan hanya makan, berdiri, duduk kemudian berbaring melainkan terdapat pengertian jika marah bergeraklah dalam posisi yang berbeda. Sejak mendapatkan makna lain yaitu GERAK maka sanbil menunggu SPMB tahun depan, marahnya dikompensasikan dengan gerak. Yaitu setiap ingat, dia bergerak pergi ke kebun membawa cangkul dan sabit kemudian menanam pohon pisang, markisa dan kayu jati.

Alhamdulillah, hasil kompensasi marah dalam bentuk gerak, pada tahap berikutnya, Adin diterima di salah satu perguruan tinggi negeri. Dan yang paling menarik, marah selama setahun dan diubah dalam bentuk gerak, mampu menghasilkan banyak pohon pisang, markisa dan jati. Semua pohonnya sudah menghasilkan keuntungan. Sekarang semuanya sudah bisa dinikmati oleh keluarganya, termasuk jati yang sebagian sudah digunakan untuk memperindah rumah saudara-saudaranya.

Ada empat alasan mengapa kita tidak perlu marah. Pertama, marah membutakan pandangan. Kita tidak bisa berpikir jernih dalam kemarahan. Kedua, marah mengundang musuh. Kerja sama dibangun di atas semangat bantu-membantu bukan paksa-memaksa apalagi disertai kemarahan. Ketiga, marah berarti kelemahan. Kita kalah saat marah. Orang yang membuat kita marah, mengalahkan kita. Keempat, marah membuang energi yang tidak berguna.

Jika kita mengambil tujuan dari hadis di atas, ada satu hikmah yang luar biasa, yaitu bergerak dari berdiri, duduk, berbaring lalu tidur. Terinspirasi dengan gerak-gerik tadi, maka ketika kita marah cobalah mengambil posisi gerak-aktif. Jika marah di rumah sedangkan rumah kotor maka bergeraklah dengan cara mengambil sapu untuk menyapu bukan untuk memukul-mukulkannya. Marah sembuh dan rumah pun bersih. Jika sedang ada gergaji, tripleks, paku, cat maka bergeraklah dengan cara menggergaji tripleks, memaku dan seterusnya hingga menjadi meja. Dan jika perlu buatlah mebel dengan merek MARAH. Jika banyak baju kotor, kumpulkanlah dan bergeraklah. Cucilah baju itu dan baju pun menjadi bersih kembali. Atau jika bajunya belum disetrika maka bergeraklah. Setrikalah baju tersebut.

Jika kamu marah, maka bergeraklah. Salurkan energimu untuk hal yang baik. Selamat bergerak ketika marah. Namun bergeraklah yang produktif bukan dengan menggebrak meja, menendang bangku atau memukul orang lain. Bagaimana pendapatmu, Sahabat Viewers ?

Wrath Versus Sabar

Obat untuk mengatasi kemarahan adalah dengan sabar.  Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah.” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Macam-Macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:

  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sebab Meraih Kemuliaan

Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.

Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Sabar Dalam Menuntut Ilmu

Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.

Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan.” Sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)

Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu

Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.

Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Kita berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong.” (Taisirul wushul, hal. 13)

Sabar Dalam Berdakwah

Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia sedang menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”

Sabar dan Kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).

Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.

Sabar Menjauhi Maksiat

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada yang binasa karena disambar petir, ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”

Sabar Menerima Takdir

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang menakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta.” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sahabat, bersabarlah !

–>>7. Gluttony X Puasa

Advertisements

Comments are closed.