Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

7 Penyakit Hati

7. Gluttony X Puasa

Penyakit hati yang ketujuh atau yang terakhir adalah Gluttony atau rakus/tamak. Allah Swt berfirman : “dan Ku lapangkan baginya  dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali (yathma’) supaya Aku menambahnya.” (QS Al-Mudatsir [74] : 14-15)

Seperti bisa kita perhatikan ayat di atas, kata yathma’ yang bermakna : “dia ingin sekali” berakar dari kata thama’ yang di dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai tamak dan rakus.

Tamak adalah keinginan yang berlebihan kepada harta, tahta bahkan wanita, karena merasa tidak puas dengan apa yang telah dikaruniai Allah dan berpikir bahwa semua keinginan itu bisa dan layak diperoleh. Padahal sudah kita maklumi bahwa tidak semua keinginan selalu dapat terpenuhi.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Ketahuilah dengan pasti bahwa kalian tidak dapat meraih (semua) keinginan, kalian tidak dapat melampaui (masa) kehidupan kalian yang telah ditentukan. Kalian (sedang) mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian. Oleh sebab itu, merendahlah dalam mencari dan sederhanalah dalam meraih (apa yang diinginkan). Setiap pengejar dunia belum tentu mendapatkannya dan orang yang biasa saja dalam mencarinya (penghidupan dunia), belum tentu tidak mendapatkannya.” (Nahjul Balaghah)

Imam Hasan as berkata, “Kehancuran manusia terletak pada tiga hal yaitu kesombongan, ketamakan, dan kedengkian. Karena kesombongan, Iblis dikutuk oleh Allah. Ketamakan merupakan musuh jiwa. Karena ketamakanlah, Adam diusir dari surga. Kedengkian merupakan bibit kejahatan. Karena dengkilah, Qabil membunuh, Habil, (saudaranya) keduanya adalah putra Adam as.

Rasulullah Saw bersabda : “Ketamakan menghilangkan hikmah (kearifan) dari kalbu para ulama.” (Kanzul ‘Ummal hadits no. 7576)

Imam Ali as berkata, “Tamak yang sedikit dapat merusak wara’ yang banyak.” (Mizan al-Hikmah, hadis no. 10891)

Imam al-Shadiq as, “Jika engkau ingin menyejukkan matamu dan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, maka hendaklah engkau putuskan ketamakan atas apa yang ada pada tangan orang lain.” (Bihar al-Anwar 73 : 168)

Sahabat Viewers, dalam diri manusia terdapat dua sifat, yaitu baik dan buruk. Sifat yang baik dilandaskan atas dasar rasa keimanan, ketakwaan dan kemanusiaan. Sifat buruk selalu didorong nafsu, seperti sifat kebinatangan, kebodohan dan ingkar akan perintah Allah. Kedua sifat ini saling bertentangan antara satu sama lain. Jika iman dan takwa lebih berkuasa, maka hidup seseorang akan aman dari pengaruh sifat buruk yang didalangi syaitan. Diantara sifat buruk yang kita kenal adalah tamak.

Secara bahasa tamak berarti rakus hatinya. Sedang menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar. Tamak adalah sikap rakus terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan tanpa memperhitungkan mana yang halal dan haram. Sifat ini dijelaskan oleh Syeikh Ahmad Rifai sebagai sebab timbulnya rasa dengki, hasud, permusuhan dan perbuatan keji dan mungkar lainnya, yang kemudian pada akhirnya mengakibatkan manusia lupa kepada Allah SWT, kehidupan akhirat serta menjauhi kewajiban agama.

Tamak timbul dari waham yaitu ragu-ragu dengan rezeki yang dijamin oleh Allah SWT.  Ibnu Athaillah mengatakan, “Tidak ada yang lebih mendorong kepada tamak melainkan imajinasi (waham) itu sendiri.” Dorongan imajinatif, dan lamunan-lamunan panjang yang palsu senantiasa menjuruskan kita pada ketamakan dan segala bentuk keinginan yang ada kaitannya dengan kekuatan, kekuasaan, dan fasilitas makhluk. Waham atau imajinasi itulah yang memproduksi hijab-hijab penghalang antara kita dengan Allah SWT sehingga pencerahan cahaya akan ditutup oleh hal-hal yang bersifat imajiner belaka.

Sahabat, suatu ketika Abul Abbas al-Mursy ingin sedekah kepada orang yang ia kenal dengan harga separuh dirham. Dia berkata dalam dirinya, “Siapa tahu ia tidak mau mengambil uang saya, karena kenal saya.” Tiba-tiba muncul hatif/hawatif (bisikan ruhani) “Keselamatan dalam agama itu melalui sikap meninggalkan tamak terhadap sesama.” Beliau dijaga oleh Allah sehingga tidak terjerumus dalam tamak. Bahkan beliau juga mengatakan, “Orang yang tamak tidak pernah kenyang selamanya. Lihatlah kata tamak terdiri dari huruf-huruf yang berlubang yaitu Tha’  ط , Mim م  dan ‘Ain  ع .  Semua huruf ini apabila di satukan maka akan berlubang, yaitu  طمع .

Gluttony Versus Puasa

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengobati penyakit rakus ini? Jawabannya adalah puasa. Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sedangkan secara terminologi, adalah menahan diri pada siang hari dari berbuka dengan disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Puasa yang kita lakukan dapat meredam sifat rakus yang ada di dalam diri manusia. Rakus identik dengan ingin makan banyak makanan. Perut sudah tidak mampu memuat makanan tapi nafsu untuk makan dan kekhawatiran akan ada orang yang akan makan makanan yang disukainya membuat seseorang memaksakan dirinya untuk makan lebih banyak lagi. Puasa itu keadaan dimana tubuh tidak makan dalam interval waktu tertentu. Mari kita simak beberapa faedah dari puasa.

FAEDAH PUASA

Puasa mempunyai banyak faedah bagi ruhani dan jasmani kita, antara lain:

  1. Puasa adalah ketundukan, kepatuhan, dan keta’atan kepada Allah swt., maka tiada balasan bagi orang yang mengerjakannya kecuali pahala yang melimpah-ruah dan baginya hak masuk surga melalui pintu khusus bernama ‘Ar-Rayyan’. Orang yang berpuasa juga dijauhkan dari azab pedih serta dihapuskan seluruh dosa-dosa yang terdahulu. Patuh kepada Allah Swt berarti meyakini dimudahkan dari segala urusannya karena dengan puasa secara tidak langsung kita dituntun untuk bertakwa, yaitu mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Sebagaimana yang terdapat pada surat Al-Baqarah: 183, yang berbunyi : ”Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu untuk berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa”.
  2. Berpuasa merupakan sarana untuk melatih diri dalam berbagai masalah seperti jihad nafsi, melawan gangguan setan, bersabar atas malapetaka yang menimpa. Bila mencium aroma masakan yang mengundang nafsu atau melihat air segar yang menggiurkan kita harus menahan diri sampai waktu berbuka. Kita juga diajarkan untuk memegang teguh amanah Allah swt, lahir dan batin, karena tiada seorangpun yang sanggup mengawasi kita kecuali Ilahi Rabbi.
    Puasa melatih menahan dari berbagai gemerlapnya surga duniawi, mengajarkan sifat sabar dalam menghadapi segala sesuatu, mengarahkan cara berfikir sehat serta menajamkan pikiran (cerdas) karena secara otomatis mengistirahatkan roda perjalanan anggota tubuh. Lukman berwasiat kepada anaknya, ”Wahai anakku, apabila lambung penuh, otak akan diam maka seluruh anggota badan akan malas beribadah.”
  3. Dengan puasa kita diajarkan untuk hidup teratur, karena menuntun kapan waktu buat menentukan waktu menghidangkan sahur dan berbuka. Puasa hanya dirasakan oleh umat Islam dari munculnya warna kemerah-merahan di ufuk timur hingga lenyapnya di sebelah barat. Seluruh umat muslim sahur dan berbuka pada waktu yang telah ditentukan karena agama dan Tuhan yang satu.
  4. Puasa menumbuhkan rasa persaudaraan serta menimbulkan perasaan untuk saling menolong antar sesama. Saling membantu dalam menghadapi rasa lapar, dahaga dan sakit. Disamping itu mengistirahatkan lambung agar terlepas dari bahaya penyakit menular. Rasulullah Saw bersabda, “Berpuasalah kamu supaya sehat.” Seorang tabib Arab yang terkenal pada zamannya yaitu Harist bin Kaldah mengatakan bahwa lambung merupakan sumber timbulnya penyakit dan sumber obat penyembuh.”

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa puasa mempunyai manfaat-manfaat yang tidak bisa kita ukur. Karenanya bersyukurlah orang-orang yang dapat mengerjakan puasa. Sebagaimana Kamal bin Hammam berkata, “Puasa adalah rukun Islam yang ketiga setelah syahadat dan salat, di syariatkan Allah Swt karena keistimewaan dan manfaatnya seperti: ketenangan jiwa dari menahan hawa nafsu, menolong dan menimbulkan sifat menyayangi orang miskin, persamaan derajat baik itu faqir atau kaya.

Sahabat Viewers, penyakit hati yang ada di dalam diri manusia harus diobati dengan akhlak yang baik. Jika kita sombong maka tawadhu’ adalah obat terbaik. Iri hati diobati oleh syukur. Nafsu birahi diredam oleh pernikahan. Serakah ditahan dengan qona’ah. Kemarahan dilawan dengan kesabaran. Rasa malas dihapus dengan kerja keras. Dan rakus dapat disembuhkan dengan puasa.

Sahabat, berjuanglah untuk melawan penyakit hati tersebut. Obat penawarnya sudah Sahabat ketahui. Jika Sahabat terkena penyakit hati ini maka segeralah ‘berobat’ ya ! 🙂

–>> Sumber

Advertisements

Comments are closed.