Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 9 – First Battle

Leave a comment

Tokoh : AL

Aku melihat jam tanganku. Sudah pukul empat sore. Terlambat satu jam dari jadwal pertandingan. Tapi orang-orang yang akan menonton pertandingan terus berdatangan. Dan jumlah mereka semakin bertambah. Ternyata bukan hanya aku yang terlambat.

Rega mengajakku ke Fighter Fighter, sebuah tempat pertandingan tinju bebas di Rusty City. Fighter Fighter sangat terkenal di kalangan para petarung. Para petarung datang dari berbagai kota. Mereka kuat, hebat dan mengagumkan. Bagi mereka tempat ini adalah tempat untuk mengukur kemampuan, kekuatan fisik, tekad dan mental. Bagi para penduduk Rusty City, Fighter Fighter adalah sumber penghasilan. Adanya tempat ini membuka peluang usaha untuk mereka. Para penduduk lokal dapat berjualan souvenir, makanan, pakaian sampai senjata untuk bertarung. Dan bagi para penonton atau disebut dengan Fighter Lover, tempat ini adalah tempat hiburan yang menyenangkan sekaligus menegangkan.

Setelah membeli tiket pertandingan, aku dan Rega masuk ke dalam Fighter Fighter. Ketika aku masuk terlihat sebuah pengumuman di layar monitor besar yang menempel di dinding. PERTANDINGAN TINJU BATU DIALIHKAN KE F2-FIELD. Apa maksudnya? Rega melihat kebingunganku. “F2-Field itu adalah arena pertandingan terbuka. Arena ini digunakan jika F1-Room atau Ruang Fighter Nomor Satu dengan arena tertutup itu penuh. Popularitas Tinju Batu semakin tinggi dan aku yakin lawannya saat ini adalah seorang yang kuat dan menarik. Terbukti dengan banyaknya Fighter Lover yang datang dan arena yang digunakan adalah arena terbuka yang lebih besar dengan kapasitas penonton yang lebih banyak,” jelas Rega.

“Ayo, Kak. Cepat! Aku sudah tak sabar melihat Tinju Batu bertarung.”

Aku mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Rega menarik tanganku dengan kuat. Bak kerbau yang dicocok hidungnya, aku mengikuti Rega masuk ke arena. Arena F2-Field cukup luas. Hampir seluas lapangan sepak bola. Uniknya, di arena ini tidak ada ring tinju. Para Fighter Lover yang datang membentuk sebuah lingkaran manusia. Aku melihat dua orang di tengah arena. Satu orang dengan pakaian bertema kangguru dan seorang wasit yang memandu jalannya pertandingan. Wasit itu sangat antusias dan enerjik. Suasana di arena sangat ramai. Riuh rendah penonton terdengar meriah. Mereka mengunggulkan jagoan masing-masing. Di sebelah kiri, ada yang berteriak TINJU BATU ! TINJU BATU ! TINJU BATU ! KITA DUKUNG KAMU ! Sementara di sebelah kanan mereka meneriakkan dukungan untuk lawan dari Tinju Batu. ROO… ROO… FIGHT ! ROO… ROO… FIGHT !

Aku melihat orang yang memakai baju bertema kangguru itu. Apakah dia yang disebut dengan Tinju Batu? Lalu dimana lawannya? Tiba-tiba seseorang muncul dari sebuah lubang besar di arena. Dia mengepalkan kedua tangannya kemudian memukul tanah yang ia pijak dengan keras. Tanah itu menjadi bergetar dan getarannya dapat aku rasakan sampai ke seluruh arena. Para Fighter Lover menjadi lebih bersemangat. “Ayo kalahkan kangguru itu, Tinju Batu!” Mereka mendukung pria yang keluar dari lubang besar tadi. Oo.. jadi dia Tinju Batu. Bukan si kangguru aneh itu? Hmmm… ini menarik. Ayo Tinju Batu, tunjukkan kemampuanmu.

Rega berlari ke depan arena. Dia berusaha menerobos orang-orang dewasa di depannya. Dengan lincah dan sigap, bocah kecil itu berhasil berdiri di posisi terdepan. Rega melambaikan tangannya kepadaku. Dia mengajakku untuk menemaninya di depan. Aku tersenyum kepadanya. Aku berkata, “Kau di depan saja. Aku akan naik ke atas.”

Di belakang lingkaran manusia itu terdapat beberapa balkon penghubung dari bangunan F1-Room. Ada beberapa orang yang duduk disana. Kulihat masih ada satu tempat kosong. Aku menaiki tangga dan duduk di balkon tersebut. Ketika aku duduk, ada dua orang Fighter Lover menyalamiku.

“Kau dukung siapa? Tinju Batu atau Roo?”

Seorang pria bertopi menanyaiku dengan antusias. Aku masih terdiam ketika dia langsung meneruskan perkataannya, “Sebaiknya kau pilih Roo si kangguru. Dia hebat. Dia mampu menendang Tinju Batu dengan kuat. Kau lihat lubang besar itu? Itu adalah hasil perbuatan Roo kepada Tinju Batu. Tak kusangka Tinju Batu bisa kalah seperti itu.”

Teman yang duduk disampingnya menepuk pundak pria bertopi. Pria itu botak seperti Tinju Batu. Kurasa dia adalah penggemar Tinju Batu. “Eh, tenang dulu, teman. Tinju Batu itu kuat. Dia tidak akan kalah. Lihat ! Dia sudah berdiri kembali.  Dia adalah petarung terhebat di Rusty City. Sementara si kangguru itu datang entah dari mana. Tiba-tiba masuk ke arena dan menantang jagoanku. Ffuh… aku yakin Tinju Batu akan menang. Ayo dukung tinju batu bersamaku!”

Pria botak itu menyalamiku kembali. Dia berharap aku ikut mendukung jagoannya. Sementara pria bertopi terus-menerus bicara tentang kehebatan Roo. Aku belum tahu siapa yang akan aku pilih. Aku akan melihat pertarungan ini terlebih dahulu. Aku berkata, “Ok, kita lihat siapa yang terkuat diantara mereka!”

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s