Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Jenis-jenis Cinta

Leave a comment

Karena cinta, yang pahit menjadi manis

Karena cinta, tembaga menjadi emas

Karena cinta, ampas menjadi anggur murni

Karena cinta, penyakit menjadi penawar

Karena cinta, yang mati menjadi hidup

Karena cinta, sang raja menjadi hamba

(Jallaludin Rumi)

Sebuah syair dari Rumi yang indah. Aku tutup buku puisiku. Aku melihat jam di tangan kiri. Sudah pukul 11.45. Sebentar lagi akan masuk waktu dzuhur. Sebaiknya aku menunggu di masjid saja. Hari ini aku akan menjemput istriku. Sekarang aku sudah berada di sekolahnya. Istriku mengajar mata pelajaran Bahasa Arab dan ia pulang siang, sekitar pukul 13.30. Hari ini aku libur bekerja jadi aku bisa menjemput istriku.

Beberapa menit kemudian, adzan dzuhur dikumandangkan. Aku mengambil air wudhu dan masuk ke mesjid sekolah. Para jamaah yang terdiri dari guru dan beberapa orang murid sudah berbaris rapi untuk mendirikan sholat. Aku berada di barisan kedua. Takbir imam mengawali ritual peribadahan kami siang itu. Allahu Akbar! Kami pun larut dalam cinta kepada Dzat Yang Mahakuasa.

Setelah sholat selesai, aku memakai kembali sepatuku. Mau kemana aku ya? Hmm.. ke kantin saja deh, pikirku. Di sana aku bisa membeli makanan. Belum sampai di kantin, seorang guru memanggilku.

“Pak Ihsan, Pak!”

Aku menoleh. Ternyata itu Ibu Sintia, Guru Bahasa Indonesia. Dia adalah teman baik istriku. Wajahnya pucat pasi. Dia menghampiriku dengan setengah berlari.

“Syukurlah bapak datang. Saya perlu bantuan bapak.”

Ibu Sintia mengatur nafasnya. Setelah mulai tenang, dia mulai bercerita. “Pak, barusan saya ditelpon suami. Katanya ibu mertua kecelakaan di jalan tol. Sekarang ibu ada di rumah sakit. Suami saya sedang ada dalam perjalanan ke rumah sakit. Saya sudah minta izin kepada Bapak Kepala Sekolah untuk pergi ke sana. Tapi saya juga tidak enak jika harus meninggalkan anak-anak di kelas. Pada hari ini semua guru sedang mengajar di kelasnya masing-masing dan dari pagi, Bapak Kepala Sekolah sedang mengurusi administrasi perlombaan olimpiade dengan beberapa orang guru. Biasanya Bapak Kepala Sekolah menggantikan guru yang tidak bisa mengajar. Tapi hari ini beliau tidak bisa. Hari senin memang padat. Jadi saya tidak bisa menemukan pengganti. Jika saya kasih tugas, saya juga tidak enak sama anak-anak. Minggu kemarin saya tidak masuk karena saya sakit dan saya menugasi mereka untuk menyalin materi dari buku paket. Jika hari ini saya memberikan tugas lagi, saya belum menjelaskan materi hari ini. Saya punya beban moral dan tanggung jawab untuk anak didik saya. Tetapi ibu mertua saya kecelakaan. Usianya sudah 70 tahun. Saya takut terjadi hal buruk.”

Ibu Sintia menangis. Melihat hal itu aku ikut sedih. Aku membayangkan bagaimana jika saat itu orang tuaku atau mertua yang kecelakaan. Naudzubillahi min dzalik.

“Apa yang bisa saya bantu, bu?”

“Tolong gantikan saya mengajar, Pak Ihsan. Saya tahu bapak orang pintar. Dan Ibu Hikma pun sering menceritakan prestasi-prestasi Bapak.”

“Mohon maaf, bu. Saya bukan seorang guru.”

“Saya pernah melihat bapak memberikan seminar di sebuah acara agustusan tahun lalu.”

Belum sempat aku berbicara, Ibu Sintia menarik tanganku. Dia membawaku ke kelasnya. “Tolonglah, Pak. Jika bapak tidak mau melakukannya untuk saya, lakukanlah untuk anak-anak itu. Mereka membutuhkannya.”

Aku sampai di kelas. Aku melihat seluruh murid di ruangan itu. Mereka memandangiku lekat-lekat. Aku sempat grogi tapi dapat segera aku atasi. Ibu Sintia menjelaskan kepada para murid tentang kecelakaan yang dialami oleh ibu mertuanya dan mengenalkan guru pengganti yaitu aku.

“Terima kasih ya Pak Ihsan. Saya pergi dulu. Saya akan memberitahu Bapak Kepala Sekolah dan guru yang lain bahwa Bapak yang menggantikan saya.”

Aku menganggukkan kepala. Ibu Sintia menyalamiku lalu pergi dengan secepat kilat. Aku berdiri di hadapan para murid. Aku mengucapkan salam dan mereka menjawabnya. Aku memberikan kata-kata pembuka dan mengajak murid-murid untuk mendoakan mertua Ibu Sintia agar diberikan keselamatan dan kesehatan seperti sedia kala.

Aku bertanya kepada salah satu murid tentang materi hari ini. Kemudian ia memberi tahu materinya. Ia memberikan buku paketnya kepadaku. Aku melihatnya. Halaman 79. Materi Pemahaman Cinta Untuk Semesta. Pandulah anak-anak untuk mengenal cinta kemudian buat tugas atau diskusi mengenai cinta dan jelaskan dalam presentasi kelompok.

Cinta. Apa yang harus aku jelaskan. Dalam buku paket ini hanya menjelaskan sedikit tentang cinta dan beberapa contohnya. Aku berpikir sejenak. Dan bingo!. Aku tahu apa yang harus aku ceritakan kepada mereka.

Aku maju ke depan kelas. Aku menghela nafas. Bismilahirrahmanirrahim. Semoga Allah melancarkan urusanku. Aku pernah membaca sebuah buku yang bagus dan penuh makna yaitu The Ultimate Pshycology – Psikologi Sempurna ala Nabi. Karangan Dokter Muhammad Utsman Najati. Dalam buku ini beliau menerangkan tentang jenis-jenis cinta. Dan hari ini aku akan membahas hal itu di kelas.

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s