Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 11 – Siapa Sebenarnya Mereka?

Leave a comment

Tokoh : Diaz

Kepalaku berat sekali. Pusing tidak terkira, melebihi migrain ataupun vertigo. Badanku pun terasa sangat sakit bukan kepalang. Selama karirku sebagai petarung belum pernah aku merasakan sakit yang luar biasa dahsyat seperti ini. Orang yang bernama Roo itu kuat sekali. Siapakah sebenarnya dia? Apakah dia memang orang pemerintah? Jika benar untuk apa dia ingin membawaku pergi? Ah sudahlah aku akan pikirkan hal itu nanti saja. Hal yang terpenting saat ini adalah aku harus bisa menyembuhkan tubuhku yang babak belur ini. Namun badanku tidak mau berkompromi, susah sekali untuk digerakkan. Aku lihat kondisi di sekitarku. Aku berada di atas sebuah gedung. Siapa yang membawaku kemari?

“Hei Tinju Batu kau sudah bangun?”

Seorang anak kecil menyapaku. Dia memberiku minuman. Dengan hati-hati dia meminumkan air tersebut untukku. Kemudian dia memperkenalkan dirinya. Namanya Rega. Lalu anak tersebut menceritakan semua hal yang terjadi kepadaku. Sekarang aku ingat, jadi orang yang menyelamatkanku adalah Al. Aku tidak tahu bahwa Al adalah seorang kstaria yang hebat.

“Rega, apa kau hanya akan duduk di sini saja?”

“Ngg… entahlah Tinju Batu, Kak Al menyuruhku untuk menunggu di sini.”

“Jangan panggil aku Tinju Batu. Namaku Diaz. Panggil saja Diaz.”

“Sebenarnya aku ingin pergi tetapi jika melihat kondisi kita saat ini sepertinya tidak memungkinkan.”

“Tapi kita tidak bisa terus-menerus berada di atas sini. Kita harus ke bawah, Rega. Kita butuh bantuan orang lain.”

“Baiklah kalau begitu, aku akan ke bawah untuk melihat situasi dan kondisi di sana. Semoga ada orang yang bisa membantu kita.”

Kemudian Rega turun ke bawah. Sementara aku menunggu di sini. Duduk tak berdaya. Sungguh tak pernah aku duga hal ini akan terjadi padaku. Seorang petarung terkenal sepertiku kalah dengan luka yang parah. Aku berusaha mengepalkan tanganku. Rasanya sakit sekali. Apakah benar apa yang dikatakan Al kepadaku bahwa First Battle itu adalah bagaimana cara melawan diri sendiri. Seperti itukah Al?

Beberapa menit kemudian Rega datang ke atas bersama dua orang lelaki. Rega memberitahuku mereka akan membantu kami pergi dari sini. Mereka membantuku turun ke bawah. Namanya Charly dan Roy. Mereka berdua terlihat baik. Kuharap mereka memang seperti itu. Mereka memasukkanku ke dalam mobil truk milik Charly. Aku duduk di belakang bersama Rega. Di sepanjang perjalanan Charly bercerita kepadaku tentang kondisi bar miliknya yang rusak karena orang pemerintah. Dua orang perempuan aneh berkostum kelinci dan burung. Orang pemerintah lagi? Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Charly mengatakan kedua perempuan itu mengambil majikannya Roy. Menurut Roy majikannya itu adalah seorang petarung yang kuat namun mereka mampu menangkapnya. Ada apa ini? Saat ini kepalaku pusing akibat benturan keras ditambah semua kejadian di kerajaan ini. Orang pemerintah, badut gila, petarung yang diculik, seorang Ksatria bernama Al. Ah banyak sekali hal yang ada dalam pikiranku. Aku tidak mau memikirkannya tapi entah mengapa hal itu muncul begitu saja dan tidak mau keluar dari pikiranku. Mataku menjadi berat karena lelah dan kantuk. Tanpa sadar akhirnya aku tertidur. Ketika aku bangun aku sudah ada di atas tempat tidur di sebuah Rumah Sakit. Hampir seluruh tubuhku dibalut oleh perban, dan ada infus yang terpasang di hidungku.

“Syukurlah kau sudah bangun, Kak Diaz!”

Rega tersenyum kepadaku. Lalu dia bercerita bahwa Charly dan Roy membawa dia ke Rumah Sakit. Mereka juga melunasi semua pembayaran untuk perawatan dan pengobatanku. Sungguh orang-orang yang baik hati. Namun mereka sudah bergegas pergi. Charly akan menjemput keluarganya. Dia takut dengan teror zombi yang sedang melanda kerajaan ini.

Aku mencoba bangun dari tempat tidur. Walau masih lemah tapi aku merasa jauh lebih baik. Ruangan ini cukup besar untuk ditinggali oleh satu orang. Sewa kamar ini pasti mahal. Jika bertemu Charly dan Roy aku akan membalas kebaikan mereka. Semoga aku dapat bertemu mereka lagi.

Aku tidak melihat Rega di sini. Mungkin dia sedang keluar, kurasa. Kemudian secara perlahan-lahan aku turun dari tempat tidur. Aku ambil tiang penyangga infus itu. Aku perlu ke kamar mandi. Di kamar mandi, aku basuh mukaku. Dari cermin aku lihat wajahku masih memar dan banyak bekas luka namun sudah lebih baik daripada sebelumnya. Lalu aku kembali ke tempat tidur.

Baru saja aku berbaring, tiba-tiba pintu dibuka dengan keras. Rega muncul dengan wajah gembira dengan hiasan bekas es krim. Tangannya memegang es krim yang besar.

“Darimana Rega?”

Rega tersenyum dengan gigi yang hitam karena es krim cokelat yang ia makan.

“Aku dari luar. Aku senang, seseorang memberiku es krim. Dia baik sekali.”

“Siapa dia?”

“Aku tak tahu namanya tapi orang itu ikut denganku sekarang.”

Kemudian seorang pria berjas hitam masuk ke dalam kamar. Tubuhnya tinggi tegap seperti seorang anggota Secret Service.

“Tuan Diaz, apa kabar?”

Dia menjulurkan tangannya lalu menjabat tanganku dengan erat.

“Kuharap Anda cepat membaik. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Tuan Diaz.”

“Maaf, saya tidak mengenal Anda. Anda siapa?”

Orang itu tersenyum.

“Hehe.. Anda pasti lupa dengan saya. Tapi tidak apa-apa. Nama saya…”

Belum sempat dia berkata, kami dikagetkan oleh suara kaca jendela kamar yang pecah. Prang!!! Kemudian ada dua orang masuk ke dalam kamar melalui jendela. Tuan Misterius itu mengeluarkan senjata dan langsung menembak salah satu orang yang masuk tersebut. Aku kaget bukan main. Mataku terbelalak keheranan. Aku lihat Rega sangat ketakutan.

C11- Siapa Sebenarnya Mereka

“Tuan, mereka akan datang lebih banyak lagi. Segeralah pergi. Dan ambillah ini.”

“Siapa mereka yang kamu maksudkan?”

“Tidak akan cukup waktunya, larilah!”

Orang misterius itu memberiku sebuah ponsel. Aku sungguh tak mengerti. Tapi aku harus pergi. Rega membantuku keluar dari kamar. Kebetulan sekali di depan kamar ada sebuah kursi roda. Rega menyuruhku naik ke atasnya. Kemudian dengan segala kekuatan yang dimiliki olehnya, Rega mendorong kursi roda itu dengan berlari menuju ke luar rumah sakit. Kami berhasil keluar. Dari kejauhan aku melihat kamarku mengeluarkan asap dan terdengar ledakan. Oh God! Siapa sebenarnya mereka?

Cerita Selanjutnya : Chapter 12 – Lelucon Yang Tidak Lucu

Daftar Isi : First Battle

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s