Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Sebuah Hadiah

Leave a comment

“Cinta memang dapat dirasakan dari tindakan, aksi atau perbuatan. Namun tanda bahwa seseorang mencintaimu juga dapat dirasakan dari ungkapan hatinya kepadamu yang disampaikan dengan mengatakan bahwa ia mencintaimu langsung kepadamu, keluar dari mulutnya sendiri, murni dari hatinya dan ia lakukan hal tersebut hanya untukmu.”

Namanya adalah Reisya Adelia Armstrong. Seorang wartawan Think Top Magazine, sebuah majalah terkenal di ibu kota. Majalah ini menjadi terkenal karena konten beritanya berfokus kepada biografi atau kisah hidup orang-orang sukses yang dapat menjadi inspirasi para pembacanya. Juga berisi tentang lifestyle dan teknologi. Reisya adalah wartawan sekaligus penulis handal. Konten utamanya adalah tentang biografi orang sukses yang ditulis oleh Reisya bersama dengan 9 penulis lainnya. Bosnya, Adam Rahardian menjelaskan ketika acara peluncuran majalah ini bahwa Think Top Magazine hadir untuk menginspirasi para pembaca di Indonesia bahkan mancanegara untuk bisa belajar dari kisah sukses orang-orang hebat yang mengantarkan mereka ke dalam puncak kejayaan. Mereka sukses karena terus berpikir dan berusaha agar sukses. Think for The Top. Itu adalah ide dasar dari lahirnya majalah tersebut.

Siang hari ini setelah istirahat siang, Reisya dipanggil oleh Direktur Utama Think Top Magazine, Adam Rahardian. Reisya masuk dengan penuh percaya diri. Reisya memakai rok warna krem yang tidak terlalu ketat dipadukan dengan kemeja putih dan blazer dengan warna yang serasi dengan roknya. Rambut panjangnya diikat ke belakang dan ia biarkan bagian rambutnya menyentuh lembut pipi sisi kiri dan kanannya. Mirip artis-artis Jepang. Reisya memiliki darah blasteran. Ibunya orang Subang dan Ayahnya orang Kanada. Reisya semakin cantik dengan senyuman yang selalu ia berikan kepada setiap orang. Atasannya, Adam sering memujinya tidak hanya karena Reisya pintar namun ia juga memiliki paras yang rupawan.

Reisya masuk dengan penuh percaya diri. Ia duduk di atas kursi di depan meja kerja bosnya. Adam Rahardian terlihat senang dan bersemangat. Majalah yang dipimpinnya mendapatkan penghargaan sebagai Top Five Magazine se-Indonesia. Menjadi urutan kelima majalah terkenal di Indonesia membuatnya sangat senang. Ia berencana untuk meningkatkan lagi kualitas majalahnya. Salah satu caranya adalah dengan memilih konten yang lebih berbobot. Sekarang ia sedang berhadapan dengan salah satu penulis terbaiknya.

“Reisya, saya punya tugas untukmu. Tokoh atau narasumber selanjutnya adalah orang yang spesial. Dia seorang penjual bunga yang sukses. Saya ingin dia ada di edisi 321. Ini berkasnya.”

Reisya melihat berkas itu dan membukanya satu persatu. Menarik, katanya di dalam hati. Tapi edisi selanjutnya adalah 319. Berarti tulisan ini untuk dua edisi selanjutnya. Majalah Think Top terbit per dua minggu sekali. Reisya dan 9 orang penulis lainnya mendapatkan bagian menulis satu judul untuk satu tokoh. Setiap terbit majalah itu menampilkan 5 biografi orang-orang sukses. Menurut pemikiran Reisya jika tulisan ini terbit untuk edisi 321 maka ia juga harus menulis untuk edisi 319 yang belum tahu ia harus menulis apa. Dalam Think Top Magazine, Adam sendirilah yang menentukan siapa yang harus menulis tokoh siapa. Adam sangat ketat dalam memilih tokoh untuk tulisan di majalahnya. Jika ada usulan untuk menulis biografi seseorang dari ide para penulisnya maka mereka harus menulis proposal atau semacam ide tokoh yang akan ditulis, baru kemudian Adam menyeleksinya. Sedikit rumit tapi dengan hal itu Adam sukses membawa majalahnya menjadi terkenal akan kualitasnya.

Mengerti akan kebingungan Reisya, Adam menjelaskan kepadanya bahwa untuk edisi 319, bagian Reisya diberikan kepada Ribby. Jadi untuk edisi 319 yang akan menulis adalah Mona, Renata, Bagas dan Ribby. Khusus Ribby akan menulis 2 biografi. Edisi 320 tetap akan ditulis oleh Sasya, Michael, Ruben, Mark dan Syahdan. Namun khusus edisi 321 adalah edisi spesial. Hari itu hanya akan ditulis satu biografi saja dan yang menulis kisah orang sukses itu adalah Reisya.

Mendengar hal itu Reisya senang, kaget dan heran. Ia sempat merasa ia tidak diakui lagi kemampuan menulisnya oleh Bos tapi ternyata ia malah mendapatkan kesempatan besar itu. Satu bulan setengah lagi atau kurang lebih 45 hari lagi dari sekarang ia harus menulis dengan sungguh-sungguh. Ia tidak boleh mengecewakan bosnya.

“Pak, apakah orang ini sedemikian spesialnya hingga Bapak akan membuat edisi 321 menjadi edisi spesial?”

Adam tersenyum dengan santainya.

“Reisya, orang itu adalah teman SMA saya. Dia seorang yang hebat. Saya ingin kamu yang menulis biografinya. Di dalam berkas itu ada informasi yang bisa kamu gunakan untuk dijadikan bahan tulisanmu. Buatlah apa adanya, jangan ditambah-tambah atau dikurangi tapi tetap buat semenarik mungkin. Saya percaya kamu.”

Reisya menjadi bersemangat. Dia penasaran dengan orang itu yang ternyata adalah teman atasannya sendiri. Kemudian ia pamit dan segera mengerjakan tugasnya. Hatinya berdebar-debar penuh dengan semangat keingintahuan dan semangat menulisnya semakin tumbuh besar. Siapa sebenarnya teman bosnya itu?

###=###

Reisya mulai mengerjakan proyeknya. Ada banyak tahapan yang harus ia kerjakan berdasarkan tuntutan dari bos. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah membaca berkas-berkasnya. Untuk berkonsentrasi dan fokus, Reisya biasa mendengarkan musik. Ia mengambil telepon genggamnya lalu memutar lagu-lagu dari band kesukaannya yaitu Secondhand Serenade. Sementara lagunya berdendang di telinga, Reisya mulai membaca profil singkat tokoh biografinya.

Rocky Al-Qadri, lahir di Serang Banten, tahun 1986. Sejak kecil sampai SD tinggal di tempat kelahirannya, kemudian mulai dari SMP ia berpindah tempat.

Reisya membaca semua informasi yang dibuat oleh atasannya itu. Selesai membaca ia akan melakukan tahap kedua yaitu bertemu narasumber. Reisya mengambil sebuah kartu nama di antara berkas-berkas Rocky. Reisya akan bertemu dengannya sore hari di toko bunga milik Rocky.

Sepulang kerja ia langsung meluncur menuju toko bunga milik Rocky. Tokonya terletak di daerah Pamulang, Tangerang Selatan. Ketika ia sampai, ia sungguh takjub. Udara panas di kota itu tidak dirasakan sama sekali olehnya ketika masuk ke dalam toko milik Rocky. Ada 3 pintu yang ia lalui. Pertama, pintu halaman toko yang berada dekat jalan raya. Area ini masih agak terasa panas. Beberapa meter ke depan, Reisya masuk di pintu kedua. Area ini terasa mulai sejuk. Serasa ada di wilayah Bandung. Tidak terlalu panas. Lebih enak dari area 3. Di area 2 ini adalah tempat para pelanggan istirahat. Ada banyak tempat duduk dan kursi. Reisya melihat ada stand makanan dan minuman. Tapi tulisan di depan stand itu membuatnya kaget. Pelanggan Yang Telah Membeli Bunga Dapat Mengambil Makanan Dan Minuman Sesukanya Dengan Menukarkan Flower Point Anda.

What? Gratis? Apa itu Flower Point? Apakah seperti mileage yang digunakan untuk redeem point penerbangan seperti halnya Garuda Miles? Reisya terheran-heran. Lalu dia masuk ke area 1. Dan ketika ia membuka pintunya, ia merasakan udara yanng sangat segar. Area 1 sangat luas. Banyak pohon-pohon yang rindang juga tanaman dan bunga-bunga yang indah. Reisya melihat ke langit-langit. Jaraknya jauh dari lantai. Tinggi lantai pertama ke langit-langit itu seperti dari lantai 1 sampai lantai 5 tapi tanpa bangunan di atasnya. Atapnya transparan dari kaca berfungsi untuk jalan masuk cahaya matahari. Dan Reisya mengamati di sekelilingnya tidak ada AC sama sekali. Meskipun banyak pengunjung yang datang namun area 1 ini tetap terasa sejuk dan ada sensasi dingin seperti di Lembang, Bandung.

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s