Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 12 – Lelucon Yang Tidak Lucu

Leave a comment

Tokoh : Marlo

Namaku adalah Marlo Montenegro. Seorang nelayan kelas rendah yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di lautan. Setiap hari aku melaut bersama dengan para nelayan lain yang tersisa. Yah, kotaku kini tidak seperti dulu. Segalanya sudah banyak berubah semenjak orang kaya bernama Bob datang dan menguasai kota ini. Aku hanyalah warga lokal biasa. Tidak punya kemampuan atau kekuasaan untuk melawan para birokrat dan pejabat busuk di atas sana yang senang disuap oleh Bob. Menurutku, aku berpikir terlalu jauh jika harus mengurusi hal itu sedangkan kondisi keluargaku sendiri masih harus aku pikirkan. Keluargaku adalah yang terpenting bagiku. Aku mempunyai seorang istri yang baik hati dan sholehah. Setiap pagi-pagi dia sudah berangkat ke pasar untuk berjualan. Dan aku punya seorang anak laki-laki yang masih hidup. Dulunya aku punya dua anak tetapi ia meninggal akibat keracunan ikan.

Anakku yang masih hidup bernama Rega. Aku sangat bangga dengannya. Dia seorang anak yang enerjik dan penuh semangat. Sekarang dia sedang pergi bersama dengan Al, seorang pemuda yang kami temukan di sungai beberapa hari yang lalu. Menurutku, Al adalah seseorang yang baik hati. Aku dapat merasakannya. Kini mereka sedang menonton langsung pertandingan tinju bebas di Fighter Fighter. Mereka sangat gembira. Apalagi kulihat Al sangat antusias ketika Rega bercerita tentang kehebatan seorang petarung bernama Tinju Batu. Mereka sudah pergi. Sementara istriku sedang membeli kain di toko kain dekat rumah kami. Aku sekarang seorang diri disini. Aku masih dapat menonton pertandingan itu dari televisi. Pertandingan ini disiarkan ke berbagai daerah termasuk di Nicnic City.

Hari sudah hampir mendekati senja. Sore akan segera berganti malam. Matahari sudah bersiap-siap untuk tidur ke peraduannya di bagian barat Bumi. Sungguh sore yang indah. Aku menyeduh secangkir teh hangat dengan singkong goreng crispy buatan istriku. Aku sudah duduk di kursi depan televisi kemudian aku menyalakannya. Semoga saja acaranya masih ada.

Layar televisi menyala dan segera kupilih channel yang menayangkan pertandingan itu. Sekarang aku dapat melihatnya. Pertandingannya ternyata sudah berjalan 30 menit yang lalu. Aku lihat seseorang berkostum kangguru sedang berduel dengan Tinju Batu. Pakaiannya unik. Aku belum pernah melihatnya. Dia cukup kuat hingga bisa membanting tubuh Tinju Batu dengan mudahnya. Kulihat Tinju Batu melawan balik dengan seluruh kemampuannya.

Sedang asyik-asyiknya menonton tiba-tiba saja televisiku mati. Tidak hanya itu seluruh listrik di rumahku juga mati. Aku sungguh sangat kesal. Aku bangun dari kursi dan menendangnya. Sial! Harusnya aku bisa refreshing di sini. Di rumahku sendiri. Apakah orang miskin sepertiku tidak boleh senang? Aku berbicara sendiri mengutuk padamnya listrik ini. Aku membuka jendela rumahku dan aku melihat ternyata tidak hanya rumahku saja yang mengalami mati listrik tetapi seluruh kota diselimuti oleh kegelapan. Tidak ada satu pun listrik yang menyala. Ada apa ini? Aku pun keluar rumah. Kulihat Mark, Edwin dan tetangga yang lain pun keluar dari rumahnya. Kita semua keheranan. Sejak aku lahir dan hidup hingga sekarang belum pernah terjadi listrik mati.

Kemudian sebuah cahaya oranye terlihat di langit sana. Arahnya seperti dari BX Corp. Lalu terdengar sebuah ledakan besar yang mengagetkan kami semua. Belum sempat otak ini mencerna apa yang sedang terjadi kulihat seseorang berteriak-teriak memanggil namaku. Itu Elena, istriku! Dia berlari dari arah ledakan bersama dengan ratusan orang lainnya.

“Honey, kita harus segera pergi,” kata Elena sesaat setelah dia berhasil menubruk badanku. Nafasnya masih tersengal-sengal.”Pasar hancur, BX Corp juga sama. Hampir semuanya dilalap api.”

 “Tenanglah, Elena. Ada apa ini?”

 “Kita harus lari!”

Belum tuntas aku bicara, Elena sudah menarik tanganku. Aku pun memutuskan untuk ikut lari dengannya. Kami semua pergi ke arah pegunungan. Aku masih bertanya-tanya apa yang terjadi saat ini. Kulihat wajah Elena pusat pasi. Hal yang sama kulihat di wajah semua orang.

“Lariiii…! Mereka mengejar kita!”

Seseorang berteriak dengan keras. Ia menyuruh kami lari. Tapi lari dari apa? Orang-orang yang berada di sekitarku sudah pergi. Termasuk Elena. Aku masih mematung di sini. Aku masih penasaran. Lalu perlahan-lahan kulihat segerombolan orang berjalan dengan santai tapi tiada henti. Aku fokuskan penglihatanku. Mereka sedikit aneh. Ada di antara mereka  yang kakinya sudah hampir patah tapi masih tetap bisa berjalan. Ada lagi yang tangannya sudah remuk, wajah hancur, dan pincang tetapi ia juga bisa berjalan. Yang membuatku ngeri adalah ada orang yang lehernya hampir patah dan mengeluarkan darah tapi ia tetap berjalan. Ternyata mereka memang aneh. Apakah mereka masih bisa disebut sebagai manusia?

Oh shit! Mereka adalah zombie! Aku baru menyadarinya sekarang. Jarakku dengan mereka hanya tinggal beberapa meter lagi. Tanpa pikir panjang aku pun mengejar Elena dan yang lain. Sesekali aku melihat ke belakang, mereka semakin bertambah banyak. Oh Tuhan, tolonglah kami.

Halaman Berikutnya >>>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s