Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 13 – White Hawk

Leave a comment

Tokoh :  AL

Aku sudah sampai di Nicnic City. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Rusty City. Tempat pertama yang aku datangi adalah rumah Tuan Marlo, ayah Rega. Keadaan di sekitar rumah sudah sepi. Di sepanjang perjalanan ke Nicnic City, aku lihat banyak kepulan asap, bangunan yang rusak, darah berceceran di mana-mana. Aku mengkhawatirkan kondisi Tuan Marlo dan Nyonya Elena.

“Halo, Tuan Marlo! Kau ada dimana?”

Aku mencarinya di seluruh penjuru rumah namun dia tidak ada disana. Aku keluar dari rumah dan mengamati keadaan sekitar. Sepi. Kemana semua orang? Aku terbang menuju atap sebuah gedung. Aku mencari-cari orang, siapa saja. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Dwarr!

Sebuah ledakan besar terdengar dari kejauhan. Aku lihat asap membumbung tinggi ke angkasa. Arahnya dari sebuah lembah. Aku tahu tempatnya, itu Lembah Atlas, tempat dimana aku terjatuh tempo hari. Aku segera terbang menuju kesana. Dari atas dapat aku lihat banyak sekali zombie yang sedang memasuki sebuah gua. Dari arah gua terdengar tembakan beruntun. Para zombie itu masih tetap hidup walau sudah ditembak beberapa kali. Aku harus segera turun.

Tap! Kakiku sudah menginjak tanah. Tanpa pikir panjang aku segera menyerang mereka. Aku mengeluarkan jurusku. ICE ARROWS! Aku tembakkan panah es yang banyak dari telapak tanganku. Semuanya tepat mengenai para zombie yang ada di depan mulut gua. Mereka semua langsung berubah jadi es. Kemudian aku berjalan mendekati mulut gua tersebut. Orang-orang keluar dari sana. Ada tentara, para penduduk dan Nyoya Elena! Syukurlah, dia selamat.

“Nak Al!”

Nyonya Elena berlari ke arahku dan memelukku. Badannya gemetaran karena ketakutan. Aku berusaha menenangkannya. “Tenanglah, Nyonya, semuanya akan baik-baik saja.”

Seorang tentara mendatangiku. “Terima kasih telah menolong kami. Apakah kau kenal dengan Ibu ini?”

“Tentu saja. Dia adalah istri dari Tuan Marlo, orang yang menyelamatkanku beberapa hari yang lalu. Bagaimana kondisi Nicnic City sekarang?”

Tentara itu menghela nafasnya, ia buka tali pengikat helm lalu membukanya. Ia pun menyeka wajah dengan lengan bajunya. Wajahnya penuh dengan keringat dan dapat aku lihat dari matanya bahwa ia pun merasakan ketakutan yang sama seperti para penduduk lain namun tidak ia tampakkan. Ia dan para tentara lain berusaha tampil tegar di hadapan penduduk sipil. Memang seperti itulah seorang penjaga pertahanan bersikap. Kemudian tentara itu mengenalkan dirinya. Namanya David. David pun mulai bercerita.

“Para zombie datang dari arah utara. Mereka banyak sekali. Jalan mereka memang sangat lambat tetapi mereka menyerang secara bergerombol dan korban yang diserang segera berubah menjadi zombie. Saya dan beberapa tentara lain berjaga di seluruh kota. Saya bertugas di daerah lembah ini. Sementara pimpinan kami menuju ke rumah Bob. Saya tidak tahu pasti apa yang dicari si badut lintah itu. Dari rumor yang saya dengar dia sedang mencari sesuatu yang berhubungan dengan pusaka.”

“Dimana rumah Bob?”

“Rumahnya jauh dari sini. Untuk sampai kesana butuh sebuah pesawat karena jalan darat dipenuhi oleh hutan dan belum ada jalan menuju kesana.”

“Beritahu aku dimana tempatnya.”

“Jika dari sini ke arah selatan. Sepanjang perjalanan akan ada dua buah gunung yaitu Gunung Shark dan Gunung Marlin. Rumah Bob berada di dekat Gunung Marlin. Disana hanya ada satu buah bangunan, yaitu rumah Bob sendiri.”

“Baiklah aku akan kesana.”

Aku segera bergegas untuk pergi kesana namun Nyoya Elena menghentikan langkahku. Dia sangat khawatir akan keberadaan Tuan Marlo dan Rega. Aku sendiri belum tahu dimana Tuan Marlo tapi jika Rega aku tahu dia dimana. Rega aku tinggalkan di sebuah gedung di Rusty City. Aku harap ia masih berada disana. Sebelum aku pergi aku berpesan kepada Nyonya Elena untuk menunggu disini. Aku juga membuatkan dinding pembatas dari gua ini menggunakan es yang sangat tebal. Zombie-zombie yang berada di luar aku pindahkan ke dalam hutan dan aku buat lingkaran es di sekelilingnya. Es yang aku buat bisa bertahan selama 24 jam. Jadi aku hanya punya waktu satu hari untuk menyelesaikan masalah zombie ini. Aku juga harus mencari tahu obat penawar dari virus zombie dari si badut lintah. Setelah semua persiapan selesai aku segera naik ke atas kemudian terbang menuju rumah Bob. Aku penasaran siapa para badut itu? Apa yang mereka inginkan dari Bob?

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s