Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 14 – Tiba Di Istana Bob

Leave a comment

Tokoh : Marlo

Aku dan Al sudah sampai di rumah Bob atau lebih tepat jika aku menggunakan kata ‘istana’, karena tempatnya sangat besar dan megah. Masih dengan langkah ragu-ragu, aku maju perlahan mendekati halaman istananya yang luas. Dari kondisi yang kulihat sekarang, dapat aku katakan bahwa para zombie itu sudah datang kesini. Aku melihat banyak jejak kaki yang berlumuran darah di sepanjang jalan hingga pintu masuk. Dan seperti yang aku duga, pintu masuk istananya sudah hancur.

“Tuan Marlo sebaiknya Anda menunggu di sini saja.”

Al menghentikan langkahku. Awalnya aku berpikir, jika aku menunggu di sini aku tidak akan jadi sasaran para zombie itu tapi…. bagaimana jika aku sendirian justru aku akan jadi mangsa empuk bagi mereka. Oh tidak! Lelaki tua seperti diriku ini tidak mempunyai kekuatan untuk melawan para zombie itu. Sebaiknya aku ikut dengan Al.

“Nak Al, aku rasa aku akan ikut denganmu. Aku lebih aman denganmu.”

“Baiklah, tetaplah di belakangku kalau begitu.”

Kami pun berjalan memasuki istana Bob. Badanku menggigil karena ketakutan. Kakiku tidak henti-hentinya bergetar. Aku mengikuti setiap langkah kaki Al. Langkah dari seorang ksatria yang selama ini selalu aku idolakan. Seorang ksatria bernama White Hawk.

Sebelum masuk ke istana ini, aku bertemu dengannya di hutan saat para zombie hendak mengincarku dan mengeluarkanku dari pesawat. Beruntunglah ada Al datang menyelamatkanku. Aku sungguh terkejut ketika membuka pintu pesawat, orang yang datang adalah Al, seorang pemuda yang aku temukan tergeletak lemah di tepian Nailreb River beberapa hari yang lalu.

Keterkejutanku tidak berhenti sampai di situ. Sesaat setelah bertemu dengannya tadi, aku meminta Al menjelaskan kepadaku siapa sebenarnya dirinya. Sebenarnya aku merasa tidak enak hati meminta hal tersebut namun entah kenapa, rasa penasaran yang aku miliki saat itu sangat besar sehingga membuat aku setengah memaksa kepada Al.

Istana

Pada awalnya aku lihat Al tidak mau bercerita. Namun setelah beberapa detik berlalu dia menganggukkan kepalanya dan mengajakku duduk di bongkahan bekas pohon yang sudah kering.

“Baiklah, Tuan Marlo. Kurasa aku memang harus bercerita kepadamu tentang diriku. Beberapa hari yang lalu ketika Anda menemukanku di tepian Nailreb River, aku berada dalam kondisi lemah dan mengalami amnesia. Sekarang aku sudah ingat semuanya. Kita tidak punya banyak waktu untuk hal ini, namun aku akan bercerita garis besarnya saja kepadamu, Tuan Marlo. Aku adalah seorang Ksatria dari Hawk Kingdom. Aku memiliki kekuatan air. Segala jenis unsur air. Saat itu ketika aku jatuh di Nailreb River, aku sedang bertarung dengan saudaraku di atas langit sana.”

“Apa yang kau cari di dunia yang penuh dengan kekacauan ini, Al?”

“Saat ini aku sedang mencari para ksatria lainnya yang akan menemaniku mencari pusaka berharga Eternal Crown. Jika aku mendapatkannya maka Hawk Kingdom akan bangkit kembali dan dapat mempersatukan kerajaan-kerajaan yang sekarang ada di dunia ini. Aku berharap kedamaian tercipta di dunia ini. Aku sudah menemukan satu orang. Ia berada di Fighter Fighter. Aku harap dia bisa ikut bergabung.”

“Al, aku pernah mendengar bahwa Hawk Kingdom sudah tidak ada. Apakah benar seperti itu?”

Al menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berdiri dan mengajakku untuk segera pergi menuju istana Bob dan dia berkata,

“Ya itu benar. Hampir dua pertiga dari penduduk Hawk Kingdom sudah hilang. Aku adalah salah seorang dari korban yang selamat dari peristiwa mengenaskan ketika aku masih kecil. Sebuah peristiwa yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku rasa cukup sampai disini ceritanya. Mari kita segera pergi. Ada badut gila yang harus aku hajar.”

Beberapa saat kemudian kami sudah memasuki istana Bob. Aku melangkahkan kakiku secara perlahan-lahan dan hati-hati. Jantungku berdebar semakin kencang. Aku mengamati keadaan di lantai satu istana Bob. Seluruh lantainya kotor karena tanah dan berwarna merah karena darah. Badanku menjadi merinding. Bulu kudukku berdiri. Serr…! Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan kulitku. Dingin sekali.

Kemudian tiba-tiba aku mendengar suara tembakan dari lantai atas. Al segera berlari menuju asal suara. Aku turut mengikutinya di belakang. Ketika kami sampai di lantai dua, aku melihat para tentara sedang menembaki zombie yang menyerang mereka. Namun seperti prediksiku sebelumnya tembakan tidak akan membunuh mereka.

“Ice Arrow!”

Al mengeluarkan jurusnya dan menyerang mereka. Dan para zombie itu segera membeku. Badanku kembali menggigil dan bergetar hebat. Oh… aku tidak suka mengatakan hal ini, tapi saat ini aku benar-benar ketakutan. Kapan mimpi buruk ini akan berakhir?

Cerita Selanjutnya : Chapter 15 – Ruangan Rahasia

Daftar Isi : First Battle

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s