Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Virus Ebola

Penyakit virus ebola (EVD) atau demam berdarah Ebola (EHF) adalah penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus Ebola. Gejalanya biasanya dimulai dua hari hingga tiga minggu setelah terjangkit virus, dengan adanya demam, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Biasanya diikuti dengan mual, muntah, dan diare, serta menurunnya fungsi liver dan ginjal. Pada saat itu, beberapa orang mulai mengalami masalah pendarahan.

Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), sebuah badan milik pemerintah AS yang bekerja menanggulangi dan mencegah penyakit, Ebola adalah penyakit demam berdarah (dapat mencapai 38.6 derajat Celsius) diiringi sakit kepala, muntah-muntah, sakit perut, seluruh badan terasa nyeri, memar dan pendarahan tanpa sebab. Melihat gejala awalnya, penyakit ini mirip penyakit flu, namun kelanjutannya lebih ganas. Perbedaan penyakit ini dengan penyakit demam berdarah (dengue fever) yang pernah kita kenal adalah virus Ebola disebarkan oleh kelelawar, sedangkan virus demam berdarah disebarkan oleh nyamuk. Virus Ebola dapat menyerang manusia dan juga kera. Virus ini tidak dapat menyebar melalui udara, cara penularannya lebih seperti virus HIV penyebab AIDS, yaitu melalui darah dan cairan tubuh.

Virus mungkin didapatkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi (biasanya monyet atau kelelawar). Penyebaran lewat udara belum pernah tercatat dalam lingkungan alami. Kelelawar buah diyakini dapat membawa dan menyebarkan virus tanpa terjangkit. Begitu terjadi infeksi pada manusia, penyakit ini dapat menyebar pada orang-orang. Pria yang selamat dari penyakit ini dapat menularkannya lewat sperma selama hampir dua bulan. Untuk membuat diagnosis, biasanya penyakit lain dengan gejala serupa, seperti malaria, kolera dan demam berdarah virus lainnya harus dikecualikan terlebih dahulu. Untuk memastikan diagnosis, sampel darah diuji untuk antibodi virus, RNA virus, atau virus itu sendiri

Pencegahannya meliputi upaya mengurangi penyebaran penyakit dari monyet dan babi yang terinfeksi ke manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan memeriksa hewan tersebut terhadap infeksi, serta membunuh dan membuang hewan dengan benar jika ditemukan penyakit tersebut. Memasak daging dengan benar dan mengenakan pakaian pelindung ketika mengolah daging juga mungkin berguna, begitu juga dengan mengenakan pakaian pelindung dan mencuci tangan ketika berada di sekitar orang yang menderita penyakit tersebut. Sampel cairan dan jaringan tubuh dari penderita penyakit harus ditangani dengan sangat hati-hati.

Virus Ebola yang menyebabkan wabah yang berada di Afrika Barat telah ditemukan sekitar 38 tahun yang lalu. Ketika itu virus ini menyebabkan penyakit misterius di kalangan penduduk desa di Zaire, yang sekarang bernama Republik Demokratik Kongo. Tim ilmuwan internasional yang ditugaskan untuk menyelidiki tahun 1976 terkejut saat melihat virus dan penyakit yang ditimbulkannya. Saat itu, Dr Peter Piot, salah satu penemu virus menulis dalam memoarnya, “Jangan ada waktu terbuang, fokuskan hidup untuk segera mengetahui virus mematikan ini. “(WW Norton & Company, 2012)

Para ilmuwan telah melihat sampel darah yang dikirim dari Afrika di bawah mikroskop di laboratorium Belgia, dan virus tampak seperti cacing atau string panjang, tidak seperti hampir semua virus yang dikenal. Dan setelah tim mendapat contoh tanah di Zaire, mereka melihat betapa cepatnya virus mampu menyebar dan membunuh korbannya. Mereka tahu bahwa wabah yang mungkin terjadi harus segera dihentikan.

Kisah tentang bagaimana nama ebola didapatkan masih sangat acak. Namun diperkirakan pada suatu malam di Kentucky, Amerika Serikat, sekelompok ilmuwan berkumpul dan sepakat harus memberi nama pada virus baru ini. Virus ini ditemukan di sebuah desa bernama Yambuku, sehingga sebagian ilmuwan berpendapat bisa dinamai sesuai dengan nama desa. Hal ini dikemukakan oleh salah satu anggota tim, Dr Pierre Sureau, dari Institut Pasteur di Prancis.

Namun ahli lain, Dr Joel Breman, dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menyatakan, penamaan virus seperti nama desa akan memberi stigma negatif pada Desa Yambuku. Ini pernah terjadi sebelumnya, misalnya, dalam kasus virus Lassa, yang muncul di kota Lassa di Nigeria pada tahun 1969. Peneliti lain dari CDC dan pemimpin tim peneliti, Karl Johnson menyarankan penamaan virus sesuai dengan nama sungai di daerah setempat.

Salah satu pilihan yang akan dijatuhkan adalah Sungai Kongo, sungai terdalam di dunia dan mengalir melalui Negara Kongo dan sangat kaya akan hutan hujannya. Tapi masalahnya, ada virus lain yang sudah menggunakan nama “Kongo”, yaitu Krimea Kongo, salah satu virus demam berdarah. Kemudian para ilmuwan melihat peta kecil, yang ditempelkan di dinding, untuk melihat setiap sungai lain dekat Yambuku. Pada peta, ternyata sungai terdekat dengan Yambuku adalah Sungai Ebola, yang berarti “Sungai Hitam,” dalam bahasa lokal Lingala. Akhirnya hari itu ditetapkan Ebola, sebagai nama virus baru.

Banyak virus lain telah dinamai sesuai tempat asal mereka, termasuk Virus West Nile ditemukan pada 1937, Virus Coxsackie ditemukan pada 1948 (Coxsackie adalah sebuah kota di New York), Virus Marburg ditemukan pada 1967 (Marburg adalah kota di Jerman), dan Virus Hendra. Hendra adalah pinggiran kota Brisbane, Australia. Tradisi ini berlanjut sampai sekarang. Tahun lalu, setelah berbulan-bulan disebut oleh sejumlah nama, coronavirus akhirnya mendapat nama resmi, yaitu Middle East respiratory syndrome coronavirus, disingkat sebagai MERS-CoV atau Mers-CoV.

Ebola Virus

Dalam penelitian telah teridentifikasi empat tipe virus ebola, yakni:

  1. Ebola Zaire, dimana virus ini ditemukan di Zaire tahun 1976 yaitu tempat pertama kali terjangkitnya virus ebola. Virus ini bisa menyerang manusia.
  2. Ebola Sudan, dimana tipe ini pertama kali ditemukan di bagian barat sudan pada akhir tahun 1976 dan menyerang kembali pada tahun 1979. Virus ini bisa menyerang manusia.
  3. Ebola Reston, dimana virus ini merupakan variasi dari virus Ebola yang ditemukan pada primata Afrika yang didatangkan dari Amerika. Virus ini hanya dapat menyerang primata seperti monyet, kera, dan simpanse.
  4. Ebola Ivory Coast yang ditemukan pada tahun 1995 di daerah pantai Ivory Afrika Barat di hutan Tai. Virus ini bisa menyerang manusia.

Virus ini sebenarnya bukanlah virus baru. Virus ini ditemukan  pada tahun 1976. Wabah virus ini menyerang di kota Nzara, Sudan, dan Desa Yambuku, Republik Demokratik Kongo. Nama Ebola berasal dari Sungai Ebola, yang mengalir berdekatan dengan Desa Yambuku, karenanya virus tersebut diberi nama virus Ebola.

Tepat 37 tahun lalu, seorang pekerja toko di Nzara, Sudan, tiba-tiba sakit. Lima hari berselang, ia meninggal dunia. Dengan kematiannya, dunia tanpa sadar menyaksikan dampak dari virus Ebola pertama, 27 Juni 1976. Virus ini kemudian menjadi wabah di seluruh area tersebut. Dilaporkan terjadi 284 kasus, setengah di antaranya membuat korban sekarat. Dokter yang merawat para korban baru menyadari bahwa virus ini terjadi ketika ada kontak yang cukup dekat. Seperti di Rumah Sakit Maridi, Sudan, 33 dari 61 suster yang merawat pasien penderita Ebola, akhirnya meninggal karena ikut terjangkit virus tersebut.

Halaman Berikutnya >>

Comments are closed.