Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Pergi Untuk Kembali

Leave a comment

Part 1 – Pergi

“Pak, lihat elang itu!”

Seorang bocah tengah menunjuk seekor elang yang terbang berputar-putar di bukit sana.

”Apakah Lingga juga bisa terbang?”

Tatap bocah itu penuh harap. Ayahnya masih menggambar sketsa hotel pesanan kliennya. Si bocah menatap polos ayahnya. Sang ayah menyimpan pensil yang sedari tadi menari-nari di atas kertas kerjanya. Ia bangkit memperhatikan ‘si penerbang ulung’ yang ditunjuk oleh anaknya.

“Lingga, suatu saat nanti kamu pun bisa terbang seperti elang itu. Bebas tanpa beban. Hanya saja untuk mencapai itu kamu perlu tekad yang kuat juga hati yang ikhlas.”

Sang ayah menunjuk dada anak tercintanya. Bocah itu diam tapi tetap mendengarkan. Matanya menyala dengan semangat ksatria.

“Anakku, saat kamu tumbuh dewasa akan sangat banyak rintangan yang akan kau hadapi. Cepat atau lambat semuanya akan terjadi. Terbanglah seperti elang itu. Gapai semua cita-citamu setinggi-tingginya. Tapi saat kau terbang jangan lupa darimana tempatmu berasal. Karena jika itu terjadi, kamu akan jatuh. Jika kamu telah jatuh, bangkitlah. Kepakkan kembali sayapmu. Janganlah berputus asa di saat kamu merasa sendirian dan sepi. Karena akan selalu ada harapan jika kamu sendiri berharap.”

Si bocah masih diam. Melihat itu ayahnya menepuk bahu si bocah.

“Tenang saja, nanti kamu juga akan mengerti.”

Ponsel sang ayah berbunyi. Panggilan dari sahabat lamanya.

“Baik, aku akan segera ke sana.”

Ia menutup ponselnya.

“Ayo nak kita pulang. Ayah harus menemui teman-teman ayah.”

╠  ^_^  ╣

Dedaunan itu terbang ringan melayang ditiup sang Bayu. Udara siang di desa masih cukup segar untuk dihirup gratis oleh banyak makhluk di sana. Herlambang tengah menuangkan teh untuk dua orang sahabatnya. Lima tahun terasa sangat lama bagi tiga sekawan itu. Lulus kuliah mereka masing-masing bekerja. Dan reuni kali ini akan begitu berarti untuk mereka.

“Bagaimana kerjaanmu, Du?” Herlambang memulai perbincangan.

“Seperti yang kau tahu aku bagai tak punya jiwaku sendiri, Hana selalu saja tidak puas dengan pekerjaanku.” Pandu mengambil cangkir tehnya. Pelan ia minum teh hijau asli kesukaannya.

“Kamu sih tipe suami takut istri, istrimu mendominasimu kan?”

“Begitulah, Her. Tapi aku kan cinta Hana.”

Cinta ya cinta. Begitu adanya. Sampai sebagian manusia buta karenanya. Tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya saja kebanyakan manusia membutakan dirinya sendiri karenanya. Pandu menikahi Hana karena ia bermodal cinta plus tampangnya. Dirinya yang masuk kalangan bawah, kukuh pertahankan cintanya. Hingga sang mertua luluh merelakan putrinya dinikahi Pandu. Keluarga kaya itu bertambah satu anggota, Pandu Winata.

“Apa kau tak risih dengan tingkah Hana padamu akhir-akhir ini?” Kali ini Jefry mengambil inisiatif.

“Sudahlah kawan, aku tak mau bicarakan dia di momen ini. Jarang-jarang kan kita ngumpul kayak gini.”

“Oke deh. Oya tahu nggak hasil rancangan hotelku diakui Mr. Smith.”

“Oya?”

Mereka bertiga asyik larut dalam perbincangan siang di sebuah kedai. Kedai tua itu memang tempat favorit mereka sejak kecil. Topik yang mereka perbincangkan pun ngalor-ngidul mulai dari rancangan Herlambang, showroom baru Jefry, dan cerita tentang keluarga masing-masing.

Raja siang semakin menebarkan aura panasnya. Membuat semua orang ingin berteduh santai di pohon rindang atau sekedar minum es campur di kedai tua Pak Galang. Tiga sekawan itu masih saja melepas rindu menggebunya. Entah berapa cangkir teh yang mereka minum. Selang beberapa menit meja kayu itu bergetar bersumber dari handphone empunya yang dengan sigap segera menyambarnya. Ia pamit menjauh dari meja kedua temannya. Terdengar seperti percakapan majikan kepada babunya. Ia mengangguk-anggukkan kepala seakan lawan bicaranya berada tepat di depan hidung besarnya. Tak lama ia kembali berkumpul.

“Hana,” Pandu bicara duluan. Ia tahu temannya akan menanyakan siapa yang menelponnya. Sesaat setelah duduk ia bereskan barang-barangnya. “Hana minta aku pulang karena kerjaanku belum rapi katanya.”

“Yaelah Pandu, kapan kamu bisa keluar dari perusahaan istrimu sendiri. Sekali-kali seharusnya dia jadi istri yang baik selain sebagai bos yang galak.” Jefry menghela nafas, “ seharusnya dari dulu kamu gak milih dia.”

Pandu hanya diam. Tasnya siap ia angkat. Andai saja aku juga bisa keluar dari rutinitas yang menjenuhkan ini. Andai pula kalian tahu sebenarnya ia baik. Andai saja waktu itu…

“Malah melamun.” Herlambang menepuk bahu Pandu “ Sana pergi sebelum Dewi Hera-mu itu mengutuk jagoan kita ini jadi kodok got.”

Pandu tersenyum simpul. Bisa-bisanya mereka meledekku siang bolong gini. Setidaknya kalaupun ia pergi ia telah dapatkan sesuatu yang berharga, sebuah persahabatan yang hangat.

Selepas satu temannya pergi, mereka berdua pun beranjak dari kedai tua itu menuju lokasi yang sama. Rumah kedua sahabat itu berdekatan. Saat ini mereka ingin segera pulang. Masakan istri selalu buat kangen suami. Si pembuat masakannya juga, tentunya.

╠  ^_^  ╣

Dapur mungil itu mengepulkan asap beserta wangi sedapnya masakan para istri. Aulia sedang sibuk merapikan sup babat di meja makan. Lestari masih saja asyik memasak di sana. Sesekali ia cicipi masakannya. Siapa tahu keasinan. Lestari tahu betul suaminya tidak akan menyentuh makanan sedikit pun jika keasinan.

Di luar sana anak-anak mereka sedang bermain. Rumah mereka sangatlah berdekatan. Seorang bocah tujuh tahun melempar lawan mainnya dengan bola karet. Lawan mainnya itu balik melempar si bocah. Tawa lepas gadis cilik membaur bersama angin saat bocah itu mengelus-elus kepalanya yang terkena lemparan bola si gadis cilik.

“Ga, sakit ya?” Gadis cilik itu masih melepas tawa kemenangannya.

“Ya sakit dong, Agni.“

Bocah itu mengambil bola karet di sampingnya Ia melempar ke arah Agnia tapi tidak kena. Gadis cilik itu menjulurkan lidah mengoloknya. Lingga, si bocah itu mengejar-ngejar Agnia. Mereka keluar dari halaman rumah, pindah kejar-kejaran menuju jembatan di atas sungai dekat rumah mereka

Suara deru mobil terdengar dari kejauhan. Kedua ibu muda itu menyambut suami mereka. Herlambang keluar membawa teh hijau ditenteng di tangannya. Aulia meraihnya. “ Dari Pak Galang ya, Kang?” Herlambang mengangguk. Sementara Jefry dan Lestari masuk ke dalam rumah.

“Di mana anak-anak, Ma?” Tanya Herlambang

Lestari menunjuk halaman rumahnya ragu, “ Tadi mereka disana tapi kok….”

Para orang tua itu keluar memastikan anak-anaknya ada. Mereka mengelilingi rumah masing-masing sampai ke halaman belakang tapi nihil. Tiba-tiba saja terdengar teriakan anak kecil dari arah sungai.

Lingga masih bergelantungan cemas pada batang-batang jembatan. Agnia mencoba menariknya tapi tenaganya belum cukup kuat untuk mengangkat Lingga. Ketika orang tua mereka sampai dan…

Aaaaaaarrgh…….!!!

Lingga jatuh ke sungai. Herlambang sontak terjun ke bawah sana. Dia berusaha meraih Lingga. Jefry masih saja terkesima. Sesaat ketika Lestari menyadari sesuatu, ia berteraik kencang “Jef, Mas Herlambang gak jago renang!” Jefry pun turut meluncur ke dalam sungai deras itu. Agnia masih diam terpaku. Melihat sobatnya hanyut. Tatapan polosnya seakan setuju akan aksi diam tuannya. Aulia berusaha menenangkan Lestari yang sedari tadi menangis tersedu.

Arus sungai saat itu sangat deras. Lingga menjerit-jerit. Tangannya meronta-meronta ke atas. Entah berapa banyak air yang telah masuk ke dalam mulutnya. Herlambang terus menyusul. Sesekali ia juga tak seimbang hingga terbawa arus. Tekadnya yang kuat mengalahkan rasionya sendiri yang berkata Herlambang kamu itu payah dalam berenang. Namun Herlambang tak mengindahkannya. Ia terus berenang sebisanya, terus berenang dan berenang. Akhirnya Herlambang berhasil meraih anaknya. Jefry sudah ada di belakangnya. Jefry mengulurkan tangan meraih Lingga ke tepi sungai. Bocah cilik itu bernafas sesak, terbatuk batuk kemudian pingsan. Ketika bocah cilik itu selamat di tepian sungai, sekarang giliran Herlambang yang akan dia raih. Tapi tanpa diduga arus sungai bertambah begitu derasnya. Uluran tangan Jefry tak sempat Herlambang raih. Dirinya hanyut pasrah dibawa arus sungai. Badannya bagaikan kapuk ringan yang bebas dihajar ribuan arus. Badannya juga lecet kena batu-batu kali. Jefry berenang menyusulnya tapi ia tak mampu bersaing dengan cepatnya sang arus pergi. Sepasang tangan menariknya ketika ia telah menepi.

“Dia sudah hanyut, Kang” Aulia meyadarkannya.

Lestari merangkul Lingga dengan tangisan pilu merobek kalbu. Jefry mengatur nafasnya. Seharusnya aku tadi cepat turun. Seharusnya aku tidak terkesima duluan. Kenapa secepat ini, Kawan kau tinggalkan kami.

Lingga masih terdiam. Tanpa kata, nada ataupun dosa.

╠  ^_^  ╣

Seminggu kemudian mayat Herlambang ditemukan. Tim SAR kesulitan saat mencarinya. Kendala medan sungai yang sangat deras, di sisi kanan atau kiri tidak ada rumah yang memungkinkan penghuninya untuk ikut mencari. Letak geografis desa yang terjal dan berbatu menyulitkan mereka.

Pagi ini Herlambang akan dimakamkan. Semuanya telah siap. Lestari dengan kuat menahan air mata dan kesedihannya. Tak ubahnya dengan yang lain yang sedari tadi juga mengharu biru di tanah makam ini. Para penggali siap memasukkan jenazah ke liang lahat. Dengan lihai dan sigap mereka menguburnya. Do’a segera dipanjatkan. Di bawah bimbingan Pak Haji Maksum semuanya khidmat mengamini.

Kumpulan massa itu berangsur-angsur pergi. Meninggalkan sang mayat di sana. Lestari dipapah Aulia meninggalkan kuburan baru itu. Lingga masih saja menangis dipangku Jefry diikuti gadis cilik itu, Agnia.

Tujuh langkah terakhir para pengantar kubur menjadi tanda kedatangan dua malaikat penanya dalam kubur. Di alam sana kita tidaklah tahu seperti apa adanya. Kita hanya harus siap mengalaminya dengan bekal yang cukup untuknya.

╠  ^_^  ╣

Lestari berencana membawa Lingga pindah ke Jakarta. Tinggal bersama Oma Opa-nya. Dia ingin menenangkan dirinya. Ia terlalu takut dirinya akan sangat larut bersedih akan kepergian suaminya. Jefry dan Aulia mendukungnya.

“Yang terbaik untukmu akan kami dukung dan kami bantu.”

Lestari tersenyum kecil,” Terima kasih “

Sementara di luar sana, Agnia masih murung membayangkan sobat ciliknya pergi. Si bocah cilik pun sama. Ia malah menangis lagi dan lagi.

“Ingga, apa nanti kita bisa main lagi?”

Yang ditanya malah diam. Bocah cilik itu mengangkat wajahnya pelan.

“Iya, ntar kita main lagi kalo ketemu.”

Wajah Agnia sedikit bercahaya. Ia menggengam sesuatu sedari tadi. Ia ingat ayahnya pernah berkata Berikan sesuatu yang paling kamu sukai pada orang yang paling kamu sukai nanti ia akan senang. Gadis cilik itu kurang paham sepenuhnya yang ia tahu hanya berikan kalung elang miliknya itu untuk Lingga agar ia senang

“Ini Ingga, ambillah.”

Kalung Elang

Agnia memberikan kalung elang pemberian ibunya saat ia ulang tahun setahun yang lalu. Lingga malah bengong, bocah itu tahu sobatnya itu paling sayang kepada kalungnya.

“Tapi..” Lingga sedikit ragu

“Ambil saja, kamu kan ingin terbang seperti elang, bukan?”

Lingga mengangguk.

“Nanti Ingga balikin, Agni.”

Sesaat bocah itu berpikir. Dia juga ingin memberikan sesuatu untuk temannya. Ia berlari ke rumahnya. Ia ngobrak-ngabrik seluruh mainan dan pernak-pernik di dalam kotak besar di kamarnya. Setelah berhasil menemukan yang dicari, bocah itu segera keluar menemuinya lagi.

“Ini ambil. Buat kamu Agni. Kamu pasti pantas memakainya. Karena ini kan emang buat perempuan.”

Dia memberikan gelang bintang yang bagus kepadanya. Ia juga sempat memakaikannya di pergelangan gadis cilik itu. Tentu saja gelang itu kebesaran. Karena itu lebih cocok untuk remaja atau dewasa. Gelang itu hadiah dari Oma-nya si bocah ketika dia lahir. Oma-nya bermaksud memberikan gelang untuk kelahiran cucu yang ia duga perempuan. Agar kelak cucunya bisa memakainya. Ternyata yang lahir adalah Lingga. Tapi gelang itu tetap ia berikan. Oma yang aneh memberikan hadiah yang tak pas untuk bayi yang baru lahir. Tapi kini itu berguna. Setidaknya si bocah bisa menggunakannya sebagai hadiah untuk teman baiknya itu. Keduanya kini tersenyum. Menjadi senyuman manis. Lebih manis dari gulali yang sering mereka beli di warung Pak Diko.

Part 2 – Ingga Kembali

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s