Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

7 Maestro Musik Klasik

Leave a comment

Halo, Sahabat Viewers! Semoga Anda semua berada dalam keadaan sehat wal’afiat. Pada kesempatan ini, Seven Views akan mengenalkan 7 Maestro Musik Klasik. Penasaran? Mari kita telusuri bersama-sama.

Pengertian Maestro adalah Master atau Guru. Di dalam bahasa Italia ditulis dengan Ma’estro dan di dalam bahasa Spanish ditulis dengan El-Maestro yang digunakan sebagai penamaan ekstrem kepada master musisi. Istilah ini biasanya digunakan dalam konteks musik klasik eropa dan opera.

Ketujuh Maestro yang akan dibahas adalah Franz Liszt, George Gershwin, Ludwig van Beethoven, Maurice Joseph Ravel, Richard Strauss, Sergei Rachmaninoff dan Wolfgang Amadeus Mozart.

1. Franz Liszt

Franz Liszt (Ferenc Liszt) adalah seorang komposer, pianis, pengaba, dan guru musik asal Hungaria pada abad ke-19. Semasa hidupnya, Liszt menulis sekitar 700 komposisi musik, termasuk di dalamnya lagu gerejawi dan puisi simfonis. Selain itu, Liszt juga telah mengajar 400 murid dan memperkenalkan bentuk musik baru di era Romantisisme serta merupakan salah satu pianis terbesar dalam sejarah.

Franz Liszt lahir di Raiding, Hungaria pada 22 Oktober 1811. Dia menerima pelajaran musik pertamanya pada usia 7 tahun dari ayahnya, Adam Liszt yang merupakan seorang pemain piano, biola, cello, dan gitar. Pada tahun 1821, Liszt dan ayahnya pindah ke Vienna dan di sana ia belajar piano dari Carl Czerny dan belajar membuat komposisi dari Antonio Salleri. Pada 1 Desember 1822, Liszt mengadakan konser pertamanya di Vienna dan menjadi awal dari kesuksesan karier musiknya. Sejak itu, dia sering diterima oleh kaum bangsawan Austria dan Hungaria serta aktif membuat konser di berbagai negara Eropa.

Saat Liszt berusia 12 tahun, dia dan ayahnya pergi ke Paris untuk mendaftar di sekolah musik Paris. Namun, dewan penerimaan murid baru menolak Liszt dengan alasan dia adalah warga negara asing. Adam Liszt akhirnya meminta Ferdinando Paer untuk membimbing anaknya mengenai komposisi tingkat mahir dan di masa inilah Liszt menulis opera pertama dan satu-satunya yang ia ciptakan, yang diberi judul Don Sanche.

Pada tahun 1826, Adam Liszt meninggal dunia karena demam tifoid dan hal ini meninggalkan trauma bagi anaknya. Franz Liszt kehilangan ketertarikan terhadap musik dan mulai meragukan pekerjaan. Dia tinggal bersama ibunya dan lebih banyak membaca buku mengenai seni dan agama yang di masa mendatang memberikan pengaruh pada karya musiknya. Bahkan, di saat itu Liszt sempat berpikir untuk masuk ke seminari.

Franz Liszt mempunyai dua orang anak perempuan (Blandine dan Cosima) serta seorang anak lelaki (Daniel). Setelah pernikahan tersebut, Franz semakin banyak menghasilkan berbagai komposisi dan karya musikal. Pada tahun 1838, dia semakin banyak bepergian menggelar konser dan pada akhir 1839, kedua pasangan tersebut berpisah.

Franz Liszt

Ketenaran Liszt makin tersebar di Eropa karena dia sering menyumbangkan keuntungan konsernya untuk amal dan gerakan kemanusiaan pada tahun 1947, Liszt bertemu dengan Putri Carolyne zu Sayn-Wittgenstein ketika sedang berada di Kiev. Putri Carolyne mempengaruhi Liszt untuk berhenti menggelar tur keliling dan lebih berkonsentrasi dalam mengajar serta membuat komposisi sehingga Liszt dapat memiliki waktu lebih banyak di rumah. Konser terakhirnya diadakan di Elisavetgrad sebelum Liszt pindah ke Weimar, Jerman. Di masa inilah dia membuat kreasi bentuk musik baru yang disebut puisi simfonis, suatu karya musik orkestra yang menggambarkan puisi, cerita, lukisan, atau sumber non-musikal lainnya. Puisi simfonis ini seperti opera, tidak dinyanyikan namun tetap menyatukan musik dan drama. Karya Liszt ini menginspirasi murid-murid untuk datang kepadanya dan karya radikal tersebut mendapatkan tempat di Eropa. Selain itu, peninggalan Franz Liszt yang paling penting adalah permainan piano solo, termasuk B minor Piano Sonata, Années de Pèlerinage dan etude.

Pada Desember 1859, Franz kehilangan putranya Daniel dan pada September 1862, anak perempuannya yang bernama Blandine juga meninggal dunia. Di sekitar tahun 1860-an, pesaing Liszt, yaitu Johannes Brahms menerbitkan suatu manifesto melawan Liszt dan komposer modern yang menandakan suatu masa Perang Romantisisme. Pada tahun yang sama, permohonan Liszt untuk menikahi Putri Carolyne ditolak oleh Gereja Katolik karena bukti perceraian Putri Carolyn yang tidak lengkap. Akibat begitu banyak kekecewaan yang diterimanya, Liszt hidup menyendiri dan pada tahun 1863 pindah ke suatu apartemen di biara Madonna del Rosario, di luar Roma dan dikenal sebagai Abbé Liszt.

Franz Liszt terus membuat komposisi baru dan mendirikan Royal National Hungarian Academy of Music di Budapest. Akademi tersebut kini dikenal sebagai Liszt Academy of Music dan merupakan salah satu sekolah musik ternama di dunia. Sejak tahun 1869, Liszt bepergian ke Weimar, Budapest, dan Roma terus menerus sepanjang tahun. Mendekati akhir hidupnya, Franz mulai kehilangan tenaga dan penglihatannya sehingga dia jarang tampil di depan umum. Dia sempat kembali ke Weimar dan hidup didampingi oleh Lina Schmallhausen sebelum akhirnya meninggal akibat pneumonia pada 31 Juli 1886. Jenazahnya dimakamkan di Bayreuth.

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s