Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 15 – Ruangan Rahasia

Leave a comment

Tokoh : Marlo

Udara terasa semakin dingin. Hawanya, suasananya bahkan kondisi di Istana Bob menjadi sangat dingin. Al sedang bertarung dengan Riff si badut lintah. Ia menggunakan kekuatan airnya untuk membekukan para zombie dan melawan si Riff.

Aku mengendap-ngendap di lantai yang licin dan dingin. Aku berusaha menyembunyikan tubuhku diantara reruntuhan puing-puing dari atap. Dari sini dapat kulihat Al sedang berhadapan langsung dengan Riff. Al mengeluarkan jurusnya, “Ice Arrows!”

Riff berusaha menghindar dan lari ke luar istana. Beberapa anak panah es mengenai kaki dan punggungnya. Tanpa banyak bicara, Al segera mengejarnya. Sementara itu aku melihat Trigger sedang terkapar lemah di antara meja bundar besar dekat lemari-lemari raksasa yang sebagiannya telah hancur. Dengan segala tekad, aku kumpulkan keberanianku untuk mendekatinya. Aku berjalan secara perlahan dan hati-hati. Aku khawatir, Trigger akan berubah jadi Zombie.

Ketika aku sudah berada di sampingnya, aku dapat melihat kondisi tubuh Trigger yang mengenaskan. Tangan kirinya penuh dengan luka bekas gigitan dan cakaran hewan buas. Tangannya masih bersimbah darah. Dadanya biru-biru dan kuraba tulang iganya ada yang patah. Sementara wajah dan lehernya terkoyak dan kaki kanannya sudah putus.

Samar-samar kudengar ia bicara dengan terbata-bata. Aku membungkukkan badanku dan mendekatkan telingaku ke mulutnya.

“La..la..larii.., Mar.. Lo! Kau tak a.. a..man di sin ni.”

Trigger menganguk-anggukkan kepalanya dan memoyongkan bibirnya kepadaku berulang kali. Aku tidak tahu apa maksudnya.

“Hmm..hm… la.. ri.. be laka.. seri.. ga..”

Aku masih tak mengerti ucapannya. Namun sayup-sayup kudengar ada suara geraman dari belakangku. Ketika aku lihat, disana ada satu.. dua.. oh bukan.. ada empat ekor serigala yang mulutnya bercucuran darah dengan mata merah.

“Grrrhh.. augh!”

Oh My God! Ini nyataa.. aku segera bangun dan berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh sedikit pun.

“Grrrhh…augh… augh.. augh!”

Serigala-serigala itu mengejarku.. Oh tidak!. Seseorang, tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Aku berlari sekuat tenaga menghindari kejaran serigala-serigala menyeramkan itu. Nafasku masih tersengal-sengal saat kulihat ada seseorang yang berlari dari arah yang berlawanan denganku. Ia menuju sebuah ruangan melalui pintu rahasia yang tersembunyi di balik lukisan perempuan cantik bertopi putih yang menempel di dinding ruangan. Sesaat setelah orang itu masuk, aku segera berlari menuju pintu yang hampir menutup.

Jleg! Pintu rahasia itu pun tertutup. Ruangan yang aku masuki sangatlah gelap dan pekat. Aku berjalan perlahan dengan hati-hati. Aku meraba dinding-dinding misterius itu. Perlahan namun pasti aku sudah berjalan masuk lebih dalam lalu beberapa meter di arah depan, aku melihat sebuah cahaya remang-remang. Mungkin saja itu lampu emergency atau sebuah obor yang dibawa oleh pria tadi.

Aku mempercepat langkahku. Aku sangat penasaran dengan pria itu. Aku rasa aku kenal dia. Tapi dimana ya? Dia siapa? Ah, itu urusan belakangan. Yang penting aku sudah kabur dari serigala dan zombie-zombie itu. Setidaknya aku dapat memperpanjang masa hidup aku yang kurasa akan berakhir suram. Semoga prasangka ini hanyalah sebuah dugaan semata.

secret_chamber

Ruangan yang kumasuki mempunyai luas sekitar 10 x 5 meter persegi. Di dalamnya terdapat banyak rak buku dan meja kerja yang terbuat dari kayu jati yang besar dan kokoh. Ketika kuraba dan kuketuk dindingnya, dapat kurasakan ada besi diantara lapisan beton. Atau sepertinya bahan pelapis ini terbuat dari baja. Apapun itu, yang pasti benda ini digunakan sebagai pelindung ruangan ini.

Aku mencari-cari sebuah saklar untuk menyalakan lampu. Agak susah juga mencarinya dalam kondisi ruangan yang agak remang-remang. Cahaya yang masuk hanya berasal dari celah-celah ventilasi yang terletak di pojok atas ruangan di arah sebelah barat.

Kurang lebih satu menit aku mencari, ternyata saklar lampu kutemukan berada di belakang lemari paling kanan, Tap! Saklarnya kutekan dan seketika ruangan itu terang dinaungi cahaya lampu LED putih yang menyilaukan jika melihatnya.

Ok, ruangan sudah terang. Sekarang aku bisa melihat seluruh isi ruangan yang luas ini dengan jelas. Sekarang yang menjadi perhatian aku adalah orang tadi. Dimanakah ia bersembunyi? Aku menyusuri seluruh bagian ruangan, dari pojok ke pojok. Berkeliling dua kali. Tapi ia tidak ada. Kira-kira dimana? Jujur saja, ruangan ini cukup nyaman dengan AC yang diatur suhunya dengan pas sehingga tidak terlalu panas atau dingin. Yah, ini lebih baik daripada kondisi di luar sana yang membuatku merinding. Aku duduk di lantai yang beralas karpet tebal dan empuk bermotif bunga matahari besar dan menawan. Aku selonjorkan kakiku dan kurebahkan badan. Enak sekali rasanya. Seolah-olah aku lupa dengan kejadian yang seharian ini aku alami.

Daftar Isi : First Battle

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s