Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Jodohku : Kamu

Leave a comment

“Kalau jodoh gak kemana.” (pepatah)

Jodoh. Lima hurup. J.O.D.O.H. Apa yang terpikir di benakmu ketika mendengar kata itu? Pasangan? Ya. Soulmate? Bisa jadi. Atau teman sehidup semati dalam sebuah ikatan pernikahan? Benar. Apa pun persepsi kita tentang jodoh, semuanya berujung kepada hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan. Mereka berharap dapat bertemu, saling mencintai, membangun  keluarga dan membina sebuah bahtera rumah tangga.

Well, itu semua terdengar seperti sebuah cerita dongeng yang happy ending, dimana semua orang menginginkannya. Begitu juga dengan diriku. Sampai saat ini jodoh yang ditakdirkan untuk hidup denganku tak kunjung bertemu. Entah karena aku yang memang bodoh dalam hal percintaan atau mungkin aku payah dalam menghadapi perempuan.

Aku sudah beberapa kali menjalin ikatan percintaan alias pacaran. Dari sejak SMP hingga usiaku sekarang sudah ada 7 perempuan yang pernah dekat denganku. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Dua puluh tujuh tahun adalah usiaku di tahun ini. Sudah telat 2 tahun dari target yang aku impikan, Dulu aku ingin menikah pada usia 25 tahun seperti usia Nabi Muhammad menikah dengan Siti Khadijah. Pada usia tersebut Nabi merupakan seorang saudagar (pedagang) yang sukses dan memilik banyak unta sebagai asetnya. Beliau adalah seorang saudagar sukses dan seorang Al-Amin (orang yang dipercaya oleh masyarakat) bahkan sebelum ia diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Beliau memiliki akhlaq yang luhur dan pribadi yang luar biasa pintar dan santun. Jika dibandingkan dengan aku, pada umur 25 tahun aku belum punya apa-apa. Allahumma sholli alaa muhammad wa ala alii muhammad. Namun aku berharap dapat meneladani akhlaq beliau dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan diridhoi Allah. Amin. Umur 25, aku masih belum bisa membahagiakan diri aku sendiri, terlebih untuk orang tua dan keluargaku. Aku berpikir, mungkin karena alasan inilah Allah belum mempertemukan aku dengan jodohku.

Bicara tentang pernikahan dalam Islam ada hukum yang mengaturnya. Hukum pernikahan bersifat kondisional, artinya berubah menurut situasi dan kondisi seseorang dan lingkungannya. Pertama Jaiz, artinya boleh kawin dan boleh juga tidak, jaiz ini merupakan hukum dasar dari pernikahan. Perbedaan situasi dan kondisi serta motif yang mendorong terjadinya pernikahan menyebabkan adanya hukum-hukum pernikahan.

Kedua Sunnah, yaitu apabila seseorang telah berkeinginan untuk menikah serta memiliki kemampuan untuk memberikan nafkah lahir maupun batin. Ketiga Wajib, yaitu bagi yang memiliki kemampuan memberikan nafkah dan ada kekhawatiran akan terjerumus kepada perbuatan zina bila tidak segera melangsungkan perkawinan. Keempat Makruh, yaitu bagi yang tidak mampu memberikan nafkah. Dan kelima Haram, yaitu apabila motivasi untuk menikah karena ada niatan jahat, seperti untuk menyakiti istrinya, keluarganya serta niat-niat jelek lainnya.

Aku memposisikan diriku dalam hukum wajib, artinya aku sudah harus nikah. Aku khawatir, sangat khawatir aku tidak dapat menjaga hawa nafsu (syahwat) yang nantinya berujung kepada berbuat zina. Nauzdubillahi min dzalik (kami berlindung kepada-Mu dari melakukan hal tersebut).

Tahun ini aku sudah siap menikah. Baik secara lahir dan bathin. Namun satu hal yang belum aku dapatkan adalah pasangannya. Aku belum memiliki calon istri. Aku sudah mencoba berbagai hal untuk mencari pasangan hidup. Dimulai dari melirik teman kerja yang cantik, kenalan dengan beberapa teman dari teman, bahkan sampai ada yang jadi Mak Comblang. Ia memasangkan aku dengan temannya. Namun tidak ada satu pun yang akhirnya menjadi pasanganku.

Saat ini aku sedang duduk di sofa dekat ruang tamu sambil melihat-lihat album foto semasa sekolah hingga kuliah. Banyak sekali kenangan yang aku miliki selama belajar dan bermain bersama teman-temanku waktu itu. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat foto aku yang masih culun dan apa adanya. Di album itu ada foto teman SMA yang aku taksir dulu. Ah, memori masa muda kembali teringat di pikiranku.

“Hei, lagi ngapain sih Bang? Senyum-senyum sendirian gitu.”

Hanna menepuk lengan kananku. Ia meletakkan es jeruk yang aku minta tadi. Aku senyum kepada adikku itu. Minuman dingin itu segera aku seruput dengan rakusnya hingga habis dalam sekali tegukan.

“Ahh, nikmatnya. Minuman buatanmu enak, Honey. Buatin abang es jeruk lagi ya.”

Hanna mengambil gelas dari tanganku kemudian ia berjalan ke dapur. Sementara aku masih asyik dengan album foto di tanganku. Disadari atau tidak, aku kangen masa-masa sekolah di SMA. Hmm.. kapan ya aku bisa ketemu lagi. Aku ingin ada reuni. Tapi semua teman SMA aku yang satu kelas denganku di 3-A, sudah menikah. Hanya aku saja yang belum. Ya, only me. Oh.. poor you, Rocky. Kasihan sekali kamu. Rocky. Tapi aku tidak boleh menyerah. Pasti ada cara. Selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahn. Aku yakin itu. Come on.. berpikir, boy! Berpikirlah! Kira-kira apa yang harus aku lakukan?

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s