Jodohku : Kamu

Flower of Heart adalah toko bunga yang aku rintis dan bangun dari nol sejak aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku di sebuah bank swasta. Alasanku cukup kuat. Saat itu Ibu sedang sakit jantung dan kondisinya semakin melemah. Adikku sedang kuliah dan tinggal dengan Uwa Robby. Sementara disini kami tidak punya saudara. Ibu hanya mempunyai aku dan aku hanya punya ibu. Dengan segenap hati dan pertimbangan yang matang, akhirnya aku mulai membangun usaha jual bunga. Toko ini dulunya kecil. Bangunannya menyatu dengan rumah. Garasi mobil yang tidak terpakai aku sulap menjadi toko bunga kecil namun cantik. Sisi baiknya, aku bisa merawat Ibu lebih intens di rumah. Sesekali Ibu membantuku menata letak pot-pot bunga, menyiraminya dan bahkan mau berkotor-kotoran untuk mengganti tanah di pot bunga yang sudah lama tidak diganti.

Kesenanganku terhadap bunga dimulai ketika Ayah menjadi penjual bunga keliling. Ayah sangat hapal sekali dengan berbagai macam bunga dan kategorinya. Selain Ayah, ada Husnul. Ia temanku di sekolah yang sangat suka dengan bunga. Kini baik Ayah dan Husnul telah berada di Surga-Nya. Amin. Hampir 2 tahun lebih aku melakukan usaha ini. Aku tetap tabah dan kuat menjalaninya walau Ibu sudah menyusul Ayah ke Surga. Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Setelah Hanna lulus SMA, ia kuliah di kampus yang ada di kotaku sekarang. Jadi kami berdoa dapat berkumpul menjadi keluarga kembali. Disini kami berdua tinggal dan hidup bersama. Saling menjaga dan menyayangi satu sama lain. Tanpa terasa air mataku meleleh saat menatap foto keluargaku. Ada Ayah, Ibu, Hanna dan aku. Aku mengusap-usap foto tersebut seolah-olah aku dapat mengusap lembut wajah kedua orang tuaku.

Tangis dan lamunanku berhenti saat Rita mengetuk pintu lalu masuk ke ruang kerjaku. Dia memberitahu ada tamu perempuan sedang menunggu di ruang utama. Tamu itu adalah seorang penulis dari Think Top Magazine.

Aku segera menemuinya. Ketika aku menjabat tangannya aku tertegun dan terpesona. Subhanallah.. cantiknyaaa…

“Perkenalkan, saya Rocky.”

“Saya Reisya.”

Aku masih terkesima dengan kecantikan parasnya. Apakah ia benar-benar karyawannya Adam? Aku kira yang akan datang kesini adalah penulis senior yang sudah berumur tapi ini sama sekali berbeda. Dia cantik, putih, imut dan mempesona.

Halaman Berikutnya >>