Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Chapter 16 – Marvin Quaari Bobby Rancfe IV

Leave a comment

Tokoh : Bob

Cermin yang terpasang di dinding kamar itu memantulkan cerminan diriku seutuhnya dari telapak kaki hingga ubun-ubun kepala. Cerminnya cukup besar dan mewah. Bingkainya dilapisi oleh ukiran kayu eboni yang kuat dan kokoh dan disangga oleh tiang Titanium sebesar betis kaki pelayan aku dari Ghoul, sebuah desa yang penduduknya berpostur besar dengan kulit hitam legam.

Aku bangga dengan diriku. Terutama dengan semua pencapaian yang telah aku raih. Wajah rupawan keturunan dari Ayahku yang seorang bangsawan di Kerajaan Quaari dan Ibuku dari kerajaan Rancfe di sebelah utara Kota Nicnic.

Jarak dari kota kelahiranku Rancfe ke kota Nicnic berkisar 7245 mil. Jaraknya cukup jauh tetapi itu bukan masalah bagiku karena aku sendiri yang memilih kota Nicnic ini sebagai cikal bakal kerajaanku sendiri. Jika dibandigkan dengan ketiga saudara kandungku, aku lebih memilih kota yang jauh dari Ayah dan Ibuku sementara mereka diberikan tanah dan properti yang letaknya berdekatan dengan Rancfe. Alasannya karena aku tidak suka diatur oleh Ayah dan Ibu. Jika jaraknya dekat, mereka berdua akan sering datang kepadaku tetapi kota Nicnic ini adalah kota kecil yang miskin dan kusam. Ibu takkan tertarik datang kesini walaupun ia bisa menggunakan jet pribadinya menuju kota Nicnic.

Semenjak kedatanganku ke kota ini aku sudah seringkali ditentang oleh warga Nicnic karena perusahaan yang aku dirikan adalah dari hasil menggusur lahan warga dan sebagian lagi membeli paksa bangunan kuno dan tua dari mereka. Kemudian aku renovasi dan aku bangun berbagai macam fasilitas di Nicnic. Semua rencanaku berjalan mulus karena para pejabat, aparat keamanan dan birokrat di kota Nicnic sudah aku suap dan aku memberikan semua kebutuhan mereka dengan uang dan harta yang berlimpah.

Warga Nicnic boleh membenci aku sepuasnya dan semau mereka tetapi aku tidak peduli. Pertama, mereka tidak bisa menyentuh aku secara langsung karena aku punya banyak bodyguard dan para petinggi dari kota Nicnic yang sepenuhnya ada di pihak aku.

Aku telah membangkitkan perekonomian kota Nicnic ini. Kota Nicnic tidak lagi menjadi kota pelabuhan melainkan kota sejuta kenikmatan. Terbukti dengan kasino-kasino yang ku dirikan selalu dikunjungi para turis dari luar kota bahkan luar negeri. Sekarang kota ini jauh lebih bersih dari sebelumnya walaupun semua itu aku rancang dari berbagai macam cara licik dan kotor. Well, sekali lagi aku tak peduli akan hal itu.

Kedua, warga Nicnic bebas mencaci aku sepuasnya. Tapi aku tahu jauh di dalam hati mereka, sebenarnya mereka itu bangga dan berterimakasih kepadaku. Kenapa? Berkat aku, karena adanya aku, oleh sebab datangnya seorang penyelamat bernama Marvin Quaari Bobby Rancfe IV, mereke semua bisa hidup. Aku bangun lumbung pertanian dari bermacam-macam komoditi berkualitas seperti gandum, wortel, jagung, tebu, labu, stroberi, kapas, tomat, pinus, kentang dan padi. Lalu dari peternakan, aku bangun peternakan sapi, kambing, ayam dan lebah. Tidak cukup hingga di situ, aku juga mendirikan banyak pabrik seperti pabrik tekstil, baju, gula, kertas, roti dan makanan ringan. Warga Nicnic juga aku berikan fasilitas olahraga seperti lapangan tenis, basket dan sepakbola. Semuanya untuk mereka. Aku yakin mereka senang dengan keberadaanku. Jika ada yang tidak suka, aku tidak perlu memikirkannya. Yang terpenting bagiku adalah bisnisku berjalan dengan lancar dan uang berdatangan tanpa henti masuk ke dalam brankas-brankas kesayanganku. Wow, I love my life.

Aku memiliki semua yang aku inginkan. Selain semua kekayaan yang aku miliki, aku juga tinggal di sebuah istana megah dan indah di dekat lembah Atlas. Di sini aku tinggal dengan para staff, bodyguard dan pelayan-pelayanku. Aku bebas melakukan apa pun yang aku mau. Aku juga bisa bercinta dengan semua perempuan yang aku suka. Aku dapat minum whiskey dan vodka sepuasnya. Seperti yang aku bilang tadi, aku bahagia.

Namun lepas dari semua hal yang sudah raih, aku merasa ada yang hilang. Sesuatu yang tertinggal. Sebuah perasaan dimana aku ingin yang lebih. Lebih dari semua ini. Aku inginkan sebuah kekuatan. Sama seperti yang aku lihat di televisi bahwa ada seorang Profesor terkenal yang mempunyai kekuatan luar biasa. Aku ingikan itu. Ya, aku sangat menginginkannya. Aku sudah membayangkan diriku yang tampan, gagah dan pemberani ini memiliki kekuatan yang super duper dahsyat. Jika aku memilikinya maka tidak hanya kota Nicnic saja yang bisa aku kuasai tapi seluruh kerajaan di dunia ini akan tunduk dan patuh kepadaku. Hahaha…

Seperti sebuah pepatah mengatakan, “Pucuk di cinta, ulam pun tiba.” Saat kau menginginkan sesuatu dan sesuatu itu akhirnya datang kepadamu. Hal ini aku alami juga. Ketika aku sangat menginginkan sebuah kekuatan super, Leksroy – pelayan setiaku – datang memberikan informasi bahwa ada kepingan dari pusaka berharga bernama Eternal Crown terkubur di dalam istana ini. Leksroy mendapatkan informasi itu setelah ia membersihkan ruangan bawah tanah dan menemukan sebuah surat yang terselip di antara buku-buku tua yang sudah usang dan hampir seluruh tulisannya sudah tidak dapat dibaca lagi.

Dalam surat itu tertulis bahwa kepingan Eternal Crown tersimpan di salah satu dinding istana ini. Belakangan aku mengetahui jika istana yang aku tempati sekarang adalah bekas istana Kerajaan Wasolasifo yang sudah punah bertahun-tahun lamanya. Konon, kerajaan itu adalah salah satu kerajaan yang diberikan kepercayaan oleh Raja dari Segala Raja dari Hawk Kingdom untuk menyimpan kepingan Eternal Crown.

Dari semua informasi yang aku kumpulkan, mulai dari literatur, jurnal dan catatan sejarah di perpustakaan kota Nicnic serta dari artikel online, aku mendapatkan sebuah fakta yang mengejutkan yaitu walaupun hanya sebuah kepingan dari Eternal Crown, kamu dapat memiliki kekuatan yang luar biasa.

Tanpa pikir panjang, aku segera memanggil para ahli geologi, ahli komputer, ahli sejarah dan para teknisi untuk menemukan kepingan berharga itu. Aku tak menyangka di dalam istana tua ini terdapat sebuah misteri yang terpendam dan tidak ada orang yang mengetahuinya. Juga, aku senang karena istana tua yang sudah aku renovasi ini dapat menjadi jalan menuju kebangkitan seorang Bob yang baru.

Kurang lebih sekitar satu bulan akhirnya pencarian itu selesai. Kepingan Eternal Crown itu sekarang ada di dalam genggamanku. Bentuknya seperti tanduk kecil yang merupakan bagian dari sebuah mahkota raja. Aku menggenggamnya dengan perasaan puas dan bangga tetapi aku belum tahu bagaimana kekuatan dari kepingan ini bekerja. Ketika aku iseng melempar-lempar kepingan kecil itu tanpa aku duga benda itu jatuh ke lantai dan bum! Sebuah suara keras muncul dari hasil tubrukan kepingan mahkota dan lantai istana. Selain itu juga terpancar sebuah sinar putih menyilaukan  yang menyinari seluruh ruangan istana. Kejadian itu cepat sekali, hanya kurang dari sepuluh detik.

Piece of Eternal Crown

Enam minggu sudah berlalu sejak kejadian tersebut tetapi aku masih belum juga mendapatkan kekuatan dari kepingan mahkota ini. Aku bahkan mulai berpikir bahwa mungkin saja benda ini adalah palsu karena kekuatan superhero yang aku inginkan belum juga terwujud.

Beberapa kejadian aneh muncul setelah itu. Waktu aku sedang mengalungkan kepingan mahkota di leher aku. Aku bermain-main dengannya. Tiba-tiba saja aku mendengan seperti ada suara yang memanggil-manggil namaku berulang kali dan hal ini aku alami setiap hari bahkan dalam mimpi. Aku mulai ketakutan.

Kejadian kedua terjadi saat aku sedang memberi makan keempat anjing peliharaanku di taman belakang istana. Ketika aku menunduk untuk memberikan mereke makanan, kalung kepingan mahkotaku terpampang dengan jelas di leherku. Keempat anjing itu melihatnya dengan lekat dan tanpa berkedip sekalipun. Mereka seakan-akan terhipnotis olehnya. Aku lepaskan kalung itu dan aku pegangi di tangan kanan. Anjing-anjing itu menuruti arah kemana pun kalung itu aku mainkan. Kepala mereka mengikuti irama dan goyangan dari tanganku. Aku merasa seperti seorang pelatih anjing profesional. Aku pun berjalan dan mereka pun berjalan. Di taman itu terdapat sebuah air mancur besar yang indah. Aku lemparkan kalung tersebut kesana dan dengan spontan anjing-anjing itu mengejarnya. Ketika mereka sibuk mencarinya. kalung itu sudah ada di dalam genggamanku kembali. Percaya atau tidak, kalung itu terbang kembali ke arahku. Sungguh menakjubkan. Aku tertawa terbahak-bahak menikmati sebuah pertunjukan kecil yang memukau ini.

Keterkejutanku tidak berhenti sampai di situ. Keempat anjing yang berada di kolam air mancur itu ternyata sudah meminum air yang sebelumnya sudah bercampur dengan kalungku. Dan secara perlahan-lahan tubuh mereka berubah menjadi lebih besar bahkan menyerupai ukuran seekor beruang kutub. Bulunya semakin tebal, taringnya besar dan tajam serta sorot tatapan matanya menjadi lebih liar. Melihat hal itu aku langsung lari terbirit-birit menuju kamarku. Dari kejauhan aku mendengar teriakan para bodyguard yang diterkam anjing-anjingku… oh bukan, lebih tepatnya adalah serigala jadi-jadian.

Seminggu sudah berlalu dan keempat mahkluk itu masih saja ada di luar istana. Semua pegawai dan pelayan aku larang keluar istana dan aku menginstruksikan agar para bodyguard berjaga-jaga lebih intens. Aku juga memperbolehkan mereka menggunakan semua jenis persenjataan yang ada di istana. Semuanya. Pedang, pistol, tombak, senapan, panah, bom bahkan meriam. Yang terpenting adalah keamananku terjamin serta hartaku tidak boleh ada yang hilang.

Belum sembuh rasa khawatir aku akan serigala-serigala raksasa itu, aku sudah dihadapkan dengan masalah baru yaitu ada banyak zombie yang berkeliaran di kota Nicnic dan mereka semua mengarah ke istanaku. Apa yang harus aku lakukan?

Seperti yang aku takutkan, mereka semua sudah berdatangan ke istanaku hari ini. Aku melihat dari jendela kamar, di luar sana ada begitu banyak zombie yang datang menyerbu kediamanku. Sialan! Mereka semakin mendekat. Aku harus segera menyelamatkan diri. Saat keadaan menjadi semakin genting aku memutuskan untuk pergi ke ruangan rahasia.

Ketika aku masuk aku merasakan ada orang yang mengikutiku dari belakang. Aku segera bersembunyu di balik lemari-lemari besar di ruangan ini. Sepertinya aku mengenali orang itu. Dia adalah salah seorang nelayan dari kota Nicnic yang waktu itu pernah datang ke istanaku untuk mengerjakan renovasi istana bersama dengan para warga Nicnic lainnya.

Aku segera keluar dan menghardiknya, “Hei! Apa yang kau lakukan di ruangan ini? Lebih tepatnya lagi, kenapa kau ada di istana mewahku, nelayan busuk?”

Orang itu bangkit dari permadani lembut milikku. Ia berdiri lalu tiba-tiba saja memukul perut aku sekuat tenaganya. Buk! Aku mundur tiga langkah dan tangan kiriku menahan rasa sakit yang kurasakan di daerah perut. Kurang ajar! Pukulannya kuat sekali untuk ukuran seorang nelayan tua yang kumal.

“Ini semua salahmu, Bob! Kau telah membawa bencana ke kota kami,” balasnya penuh emosi.

“Apa kau bilang? Ini salahku? Yang benar saja. Aku bahkan tidak tahu mengapa zombie-zombie itu datang ke sini.”

Daftar Isi : First Battle

(Untuk cerita Hawk Knights selanjutnya dipindahkan ke situs Storial dengan judul buku Hawk Knights 1 First Battle)

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s