Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Wasiat Bapak

Leave a comment

Namaku Lyra dan aku adalah seorang presenter. Hari ini tema untuk acara Night With akan menghadirkan seorang arsitek terkenal di Jakarta. Dia adalah anak muda yang sukses dan telah menginspirasi banyak orang. Namun, malam ini tema yang akan dibahas bukan tentang cerita kesuksesan dan perjalanan karirnya melainkan tentang cerita dia dengan ayahnya. Kenapa? Karena minggu ini masih ada dalam suasana Father’s Day. Produser aku ingin mengangkat tema ini. Menurutnya, cerita tentang karir dari narasumber terlalu mainstream dan dia ingin sesuatu yang lain. Maka dipilihlah tema Hari Ayah untuk acara Talkshow malam ini.

Sekitar pukul 8 malam, Mas Ihsan telah hadir di studio. Kami akan melakukan siaran langsung setengah jam kemudian. Para kru sedang melakukan persiapan dan pengecekan terakhir serta briefing. Aku melihat Mas Ihsan sebagai sosok yang ramah, santun dan hmmm… tampan. Agak deg-degan sih duduk di dekatnya. Perasaan yang lama itu perlahan satu per satu muncul di bayanganku.  Tapi aku harus profesional. Perasaan ini harus aku tahan. Harusnya aku tidak mengajak dan mengundangnya ke acara ini. Andai saja si bos gak milih dia, pasti aku gak akan segugup ini. Aku malu bertemu dengannya lagi dan lagi. Kejadian waktu itu, pertengkaran waktu itu, sikap egois aku, dan semua permasalahan yang pernah kami hadapi bersama-sama, semuanya campur aduk di dalam pikiranku saat ini. Oh my god, please help me. Bantu aku agar aku tidak lagi luluh di hadapannya. Aku takut, aku kembali menyakiti perasaannya. Aku khawatir, aku tidak bisa mengontrol diri. You can do it, Ra. Yes, you can. Kamu tahu kan kalau Mas adalah orang baik. Dia juga bisa profesional.

Dan acara pun dimulai. Kamera telah menyala dan menyorot ke arahku.

“Selamat Malam, pemirsa! Kembali lagi bersama saya Lyra di acara Night With. Malam ini kita akan menghabiskan malam bersama seorang arsitek terkenal di Jakarta. Dia sudah hadir bersama kita. Namanya adalah Mas Ihsan.”

Aku menyalaminya. Mas Ihsan masuk ke set panggung dan duduk di sofa di samping aku. Kami melakukan perbincangan kecil tentang latar belakang pendidikan dan karirnya. Sepuluh menit kemudian aku mulai mengajaknya berbicara tentang sosok ayah yang sangat dicintainya.

“Permirsa, acara Night With Ihsan akan membahas tentang cerita Mas Ihsan dengan ayahnya. Namanya adalah Yayat Permana. Dia adalah seorang ayah yang hebat. Sifatnya yang ramah dan penyabar membuatnya kuat menghadapi segala cobaan hidup. Sosok Ayah dalam dirinya adalah salah satu motivasi dan pembakar semangat bagi anak-anaknya. Terutama si bungsu yang bernama Ihsan Abdul Hamid. Kini ia telah dewasa dan sekarang melanjutkan hidup tanpa seorang ayah.”

Mas Ihsan memandangiku dengan erat. Duh.. please jangan kayak gitu lihatnya dong, Mas. Aku jadi ge-er. Aku harus bisa menguasai diri. Lalu dia pun tersenyum. Dan itu cukup membuat aku gugup. Walau bagaimana pun juga aku harus memulai acara ini.

“Mas, hal apa sih yang paling Mas ingat dari Bapak?”

“Hal yang paling saya ingat tentang Bapak adalah Bapak itu orangnya sabar, lemah lembut, bijaksana namun ia juga bisa tegas bila diperlukan. Pesan dari Bapak yang paling saya ingat yaitu agar saya tidak memelihara rasa dendam karena hal itu bisa merusak hati dan jiwa kita. Sudah saya ketahui dengan jelas bahwa gara-gara rasa dendam ini, keluarga besar saya menjadi goyah dan banyak konflik antar sesama keluarga. Bapak juga pernah mengatakan pada saya untuk segera menikah. Untuk hal yang satu ini saya sedang berusaha mewujudkannya. Beliau mengatakan hal ini saat sedang dirawat di RSUD Tasikmalaya. Kondisinya lemah dan memprihatinkan. Hidung dan tangan Bapak dipasangi inpus, tidur tidak bisa nyenyak, Bapak juga memakai pampers untuk orang dewasa. Saya saja yang melihatnya merasa sedih dan terharu, lalu bagaimana dengan Bapak yang merasakan penyakitnya. Penyakitnya yang paling utama adalah diabetes. Penyakit gula ini sudah lama beliau derita. Dalam dua tahun terakhir ini beliau sering bolak-balik ke rumah sakit untuk diperiksa atau bahkan rawat inap.”

“Jadi itu adalah wasiat atau pesan dari Bapak? Untuk tidak boleh memelihara rasa dendam.”

Mas Ihsan menganggukkan kepala. Mendengarnya aku terharu sekali. Aku jadi ingat Papa di rumah. Semoga beliau sehat dan baik-baik saja di sana. Kemudian Mas Ihsan melanjutkan ceritanya.

“Saya juga ingat waktu itu Bapak (dalam kondisi lemah) menelpon dan mengatakan bahwa ia sedang membutuhkan uang untuk pengobatan. Sayangnya saya sedang tidak memilikinya pada hari itu. Alhamdulillah, keesokan harinya saya mendapatkan rezeki dan segera transfer ke rekening Bapak. Andai waktu dapat diputar, saya ingin kembali ke masa itu dan mengirimkan uang yang lebih banyak untuk pengobatan Bapak karena saya tahu uang yang saya kirim pada waktu itu tidaklah banyak.”

“Insya Allah, semua hal yang telah Mas lakukan telah dirasakan dan dianggap baik oleh beliau. Amin. Oke, selanjutnya, Mas bisa ceritakan kepada kita dimana Bapak dilahirkan?”

“Bapak lahir di Kampung Jaman, Urug Tasikmalaya pada tanggal 14 Juni 1949.”

My Father

Aku melihat para penonton yang di studio asyik mendengarkan cerita dari Mas Ihsan. Aku mencoba mengingat-ingat nama kota itu. Tasikmalaya itu setelah Bandung dan Gaurt. Kalau dari Jakarta lumayan jauh. Suatu saat nanti, aku ingin menyempatkan diri pergi ke sana, lagi.

Mas Ramsay, Floor Director aku memberikan kode untuk rehat sejenak karena iklan. Aku pun segera menutup segmen pertama ini. saat break, aku menawari Mas Ihsan segelas minuman dingin untuknya. Orange juice adalah favoritnya. Sepertinya dia kehausan karena gelas berisi jus itu habis dalam sekali teguk. Dia tertawa kecil lalu menyeka bibirnya dengan tissue.

Kami pun melanjutkan acaranya.

Halaman Berikutnya >>

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s