Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Jodoh Yang Direstui

Leave a comment

Apakah jodoh yang baik itu adalah yang direstui oleh orang tua? Belum tentu.

Jadi, tidak ada restu siapa pun (manusia) yang bisa membaikkan jodoh. Yang membaikkan jodoh itu adalah kita. Sebaik-baiknya kekasih/belahan jiwa, istri atau suami, kalau tidak kita jodohi maka tidak akan menjadi jodoh. Nah, menjodohi itu adalah perilaku sebagaimana seharusnya seorang jodoh yaitu mencintainya, menghormatinya, memperlakukannya dengan lembut dan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Laki-laki sejak kecil sudah dilatih untuk mendengarkan. Dimulai dari mendengarkan perkataan ibunya. Setelah dewasa, ia mulai mendengarkan kekasihnya atau bagi yang sudah menikah mendengarkan istrinya.

Istri yang tidak direstui oleh orang tua, bisa menjadi jodoh kalau kita menjodohinya dengan baik. Ada juga pasangan hidup yang direstui oleh orang tua tetapi menikah dalam keadaan pasangan yang tidak saling setia, kasar, pemarah, mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu satu sama lain atau yang AKU-nya lebih besar daripada KITA-nya (dalam artian ia egois/mementingkan diri sendiri). Jika hal tersebut terjadi maka keduanya tidak akan bisa bersatu.

feelings-and-emotions-respect-mother-4657

Kesimpulannya adalah jodoh itu bisa menjadi jodoh kalau si laki-laki menjodohi perempuan dan begitu juga sebaliknya. Tidak ada gunanya bagi kita untuk mensahabati seseorang jika dia sendiri tidak mau mensahabati kita. Kita setia kepadanya tetapi dia tidak setia kepada kita. Jadi, jodoh itu tidak bisa dibuat satu arah melainkan dua arah.

Lihatlah konsep dari Allah yang menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan. Berarti satu belah pasang yang baik, tidak mungkin berjodoh dengan satu yang tidak setia. Jadi harus dua-duanya baik.

Seni dalam jodoh adalah menemukan. Tugas kita jika ingin punya jodoh adalah menemukan jodoh itu. Misalnya, ada seseorang yang baik yang kita idam-idamkan untuk menjadi pasangan, tapi kok dia tidak tertarik dengan kita? Bisa jadi karena kita belum menjadi belahan yang baik baginya.

Apabila kamu sudah menemukan calon pasangan hidupmu, segeralah datangi orang tuanya dan dapatkan restunya, Jika direstui, Alhamdulillah. Kalau tidak maka buktikan kepada mereka bahwa kamu adalah yang terbaik untuk anaknya.

Jangan sampai setelah kamu menikah dan terjadi masalah, ibu kita berkata, “Kan Ibu dulu bilang apa kepadamu tentang dia?” Karena dalam pernikahan, tempat kembali adalah orang tua. Contohnya, jika sebelum kamu menikah, kamu bertengkar atau berdebat dengan orang tua agar bisa direstui untuk menikah, lalu ternyata setelah akhirnya kamu menikah dan terjadi masalah maka orang tuamu akan memastikan bahwa kamu dan pasanganmu itu tidak berpisah. Karena orang tua lebih malu jika anak dan menantunya bercerai. Ada stigma bahwa teman-temannya orang tua itu tetap sedangkan teman-teman kita itu silih berganti. Kita yang menikah bisa saja pindah rumah atau pekerjaan. Tetapi orang tua tetap tinggal di rumah, di lingkungan yang sama, dikelilingi orang yang sama, pengajian yang sama, tempat arisan yang sama, pergi ke pasar atau warung yang sama. Jadi pembicaraannya di area yang sama dan dengan orang yang sama pula.

Jadi tanggung-jawab untuk menjadikan pasangan itu indah dan harmonis sungguh besar. Bukan asal jatuh cinta lalu menikah. Gak cocok, ganti. Ini bukan bongkar pasang ban. Atau handphone yang baterainya tidak cocok lalu diganti lagi. Menikah adalah sebuah keputusan yang serius.

Perlu motivasi lainnya? Klik di sini.

(SUMBER : Channel Youtube – Mario Teguh)

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s