Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Dasar dan Tujuan Hidup Seorang Muslim

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh!

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, sesungguhnya gaya hidup seseorang sangat ditentukan dari bagaimana cara ia memandang hidup ini. Dengan kata lain, bagaimana seseorang memandang hidup, begitulah ia akan hidup. Oleh sebab itu, untuk mengubah keadaan seseorang maka harus diawali dahulu dengan mengubah cara pandang ia tentang kehidupan. Itulah sebabnya dalam Al-Quran Surat Ar-Ra’d Ayat 11 Allah berfirman :

Mengubah keadaan atau mengubah sesuatu dalam diri seseorang itu tidak lain adalah Rule of Thinking atau State of Mind (cara berpikir/cara memandang kehidupan). Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang Dasar dan Tujuan Hidup Seorang Muslim di dalam kehidupan.

Dasar dan Landasan Hidup

Seorang muslim mendasarkan/menyandarkan kehidupannya kepada Islam. Tentang hal ini, Allah menuntut muslim agar masuk ke dalam Islam itu secara keseluruhan. Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 208, Allah berfirman :

Artinya seorang muslim harus masuk Islam itu tidak separuh-separuh/sebagian-sebagian melainkan harus seluruhnya. Mendasari hidup dengan Islam artinya seorang muslim menjadikan Islam sebagai Way of Life (Pedoman/Jalan Kehidupan), Rule of Thinking, State of Mind di dalam memecahkan setiap permasalahan hidup. Sehingga tidak ada satu permasalahan hidup yang bagaimana pun kecilnya, yang tidak tersentuh oleh nilai-nilai ajaran agama Islam.

Dengan mendasari hidup kepada Islam, seorang muslim memiliki keyakinan yaitu :

  1. Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia
  2. Islam adalah agama bagi seluruh manusia
  3. Islam adalah agama terakhir yang diturunkan kepada rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad Shollalohu Alaihi Wassalam
  4. Islam adalah agama yang benar

Pertama, Islam sebagai dasar hidupnya adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Allah Subhanahu Wataala adalah pencipta manusia. Allah Subhanahu Wataala yang menurunkan agama Islam. Oleh sebab itu, seluruh konsepsi Islam ini, sudah diukur sedemikian rupa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh manusia.

Secara logika, bisa kita katakan sebuah Pabrik Mobil di Jerman membuat mobil yang dinamakan Mercy. Seiring dengan itu, dikeluarkanlah buku petunjuk bagaimana cara penggunaannya. Misalnya petunjuk itu berisi : Mobil ini bernama Mercy, kecepatan maksimal sekian ratus kilometer/jam, daya angkutnya sekian ratus kilogram, kalau rusak memperbaikinya di sini, spare part-nya dapat dicari di sini. Karena pabrik itu yang membuat mobil, lalu pabriknya juga yang mengeluarkan buku petunjuk, tentu buku itu sesuai benar untuk mobilnya. Dan logika mengatakan, tidak bisa kita mempunyai mobil Mercy yang rusak lalu memperbaikinya dengan buku petunjuk dari pabrik mobil Fiat. Tentu saja mobil akan rusak acak-acak dan tidak karuan karena tidak sesuai.

Ini artinya, jika manusia ingin baik dan ingin mencapai kebahagiaan maka ia harus mengikuti petunjuk yang dikeluarkan oleh Dzat Yang Menciptakan Manusia yaitu Allah Subhanahu Wataala. Dan petunjuk-petunjuk itu telah turun dalam sebuah konsepsi bernama Islam yang sesuai dengan fitrah manusia.

Kedua, seorang muslim berkeyakinan bahwa Islam adalah agama bagi seluruh manusia. Bersifat universal. Walaupun Islam diturunkan di negara Arab tetapi Islam bukanlah agama bagi bangsa Arab saja. Keyakinan ini perlu ditegakkan kembali, oleh karena akhir-akhir ini muncul pendapat-pendapat yang menganggap seolah-olah agama Islam itu agama import. Persilakan saja kalau memang itu merupakan keyakinannya. Tetapi menganggap agama sebagai barang import, sungguh merupakan satu kekeliruan yang sangat besar.

Di negara Arab, sebagian besar penduduknya menganut agama Islam. Itu benar. Tetapi Islam bukanlah hanya Arab. Kita bisa menjadi seorang muslim yang baik tanpa perlu menjadi orang Arab. Dengan kata lain, kita bisa menjadi muslim yang baik dengan tetap menjadi warga negara Indonesia.

Al-Quran memang diturunkan di tanah Arab dan berbahasa Arab, namun tidak ada satu pun ayat di dalam Al-Quran yang berisi seruan yang ditujukan semata-mata hanya untuk orang Arab, misalkan Ya Ayyuhal Arrobiyyun (Wahai Orang-orang Arab) tetapi berisi seruan Ya Ayyuhan Nas (Wahai Para Manusia) atau Ya Ayyuhalladzina Amanu (Wahai Orang-orang Yang Beriman).

Ketiga, seorang muslim berkeyakinan bahwa Islam adalah agama terakhir yang diturunkan kepada rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad Shollalohu Alaihi Wassalam. Dasar-dasar keyakinan ini melembaga dalam pribadi seorang muslim. Segala aspek kehidupan dari hal terkecil hingga yang luas, dari kita bangun tidur hingga tidur lagi, semua kegiatan manusia selama 24 jam sehari, tidak ada satu pun yang tidak tersentuh oleh nilai-nilai Islam.

Inilah pandangan hidup seorang muslim. Sebuah jawaban dari problema-probelema kehidupan yang dihadapinya. Ia merupakan seorang muslim yang Islam Oriented artinya berorientasi kepada nilai-nilai Islam. Halal kata Islam, halal ia katakan. Haram kata Islam, Haram ia katakan. Itu adalah Islam Oriented. Barometer dari perbuatannya tidak lain adalah nilai-nilai Islam itu sendiri.

Dan dengan mendasari hidup kepada Islam, seorang muslim memiliki keyakinan bahwa Islam adalah agama yang benar. Bahasa kerennya, Islam is the single one, the true religion behind the God. Satu-satunya. Keyakinan ini kelihatannya subjektif. Tetapi memang inilah pokok dari kehidupan orang yang beragama.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, kalau yang telah dijelaskan tadi adalah dasar dari kehidupan kita sebagai muslim, lantas apa yang menjadi landasannya? Kalau dasar hidup kita adalah Islam maka landasan hidup kita tidak lain adalah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam.

Dunia penuh dengan orang-orang besar. Dan setiap dari mereka itu mempunyai ajaran-ajaran yang pernah jaya, dikumandangkan, didengung-dengungkan, naik ke panggung sejarah untuk kemudian tenggelam.

Satu ajaran akan langgeng dan tahan lama apabila turun dari sumber yang serba Maha. Kalau ia turun dari manusia maka sifatnya hanya musim. Yang namanya musim itu tidak bisa diarang tetapi kalau sudah selesai musimnya maka akan habis dengan sendirinya.

Misalnya musim rambutan. Kalau ada musim rambutan, apakah bisa dilarang? Gak boleh, gak boleh ada musim rambutan, kata seseorang. Ya tidak bisa. Ia akan tumbuh terus. Tapi manakala musimnya habis, ya habislah. Begitulah ajaran dari agama yang nisbi, relatif dan temporer. Ia akan habis dengan sendirinya.

Al-Quran turun dari sumber yang serba Maha. Sedangkan sunnah adalah penjelasan dari ajaran Al-Quran yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran secara lebih detil. Melengkapi apa yang disebutkan dalam Al-Quran secara garis besarnya saja. Misalnya dalam Al-Quran disebutkan bahwa seorang muslim harus berwudhu/bersih-bersih/tharahah sebelum melaksanakan sholat. Maka di dalam sunnah nabi dijelaskan bagaimana lebih rinci tentang bagaimana tata cara berwudhu yang baik dan benar.

Baik Al-Quran dan Sunnah, kita sebut sebagai landasan yang primer. Untuk memahami keduanya, kita perlu ajaran/ilmu dari orang-orang yang ahli dalam bidang itu. Dalam hal ini kita sebut sebagai ulama (orang yang memiliki ilmu dan paham tentang islam). Dan ini merupakan sumber yang sekunder dari landasan hidup kita sebagai seorang muslim. Dua rel ini, Al-Quran dan Sunnah merupakan landasan dimana kereta api Islam berjalan.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, oleh karenanya marilah kita jadikan Al-Quran dan Sunnah ini sebagai imam dalam kehidupan kita. Bukankah Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam pernah memberikan pilihan, yang beliau sebutkan dalam sabdanya :

MAN JA’ALAL QUR’ANA AMAMAHU KHODAHU ILAL JANNAH WAMAN JA’ALAL QUR’ANA KHOLFAHU SAQQAHU ILANNAR

“Barang siapa  yang menjadikan Al-Quran sebagai imam dalam hidupnya, maka ia akan dimasukkan ke dalam surga. Dan barang siapa yang menjadikan Al-Quran sebagai makmum dalam hidupnya, maka ia akan didorong ke dalam neraka.”

Jika kita ingin menjadikan Al-Quran sebagai imam, artinya kita menjadi makmum. Resikonya, dimanapun makmum itu wajib mengikuti imam. Seperti dalam shalat, misalkan imam sedang takbir maka makmum pun harus takbir. Imam ruku, makmum ruku. Imam i’tidal, makmum i’tidal. Maka sejatinya sebagai makmum yang mengimani Al-Quran sebagai imam, seorang muslim senantiasa akan mengikuti semua ajaran yang berada di dalam Al-Quran.

(Penjelasan tentang Al-Quran Imam Kita dapat kamu baca selengkapnya di sini)

Al-Quran dan Sunnah adalah landasan tempat kita bertolak. Inilah yang mewarnai gaya kehidupan kita. Apa pun yang akan kita lakukan, tempat kita bertanya lebih dahulu adalah Al-Quran dan Sunnah.

Misalnya, saya akan melakukan pekerjaan ini, lalu apa kata Al-Quran tentang hal tersebut? Saya mau pergi ke tempat ini, apa kata Al-Quran? Saya mau berusaha dengan mengerjakan perusahaan ini, apa kata Al-Quran? Kenapa semua hal yang kita lakukan harus berpedoman kepada Al-Quran? Karena Al-Quran merupakan landasan hidup seorang muslim.

Ini yang dijelaskan sebelumnya tentang Rule of Thinking dan State of Mind seorang muslim yaitu berpegang teguh dan berlandaskan pedoman dari Al-Quran dan Sunnah.

Halaman Berikutnya >>

Advertisements

Comments are closed.