Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Dasar dan Tujuan Hidup Seorang Muslim

Tujuan Hidup Seorang Muslim

Kalau sudah ada landasan tempat kita bertolak, lalu kemana pantai yang akan kita tuju? Mau apa sih kita hidup ini? Berleha-leha, menjalani acara rutin, bangun tidur sampai tidur lagi kemudian besok begitu lagi sampai menunggu datangnya sang ajal atau adakah satu tujuan yang akan kita capai dalam kehidupan ini?

Apabila kita teliti, maka Al-Quran mengajarkan tujuan hidup setiap Muslim itu pada dasarnya ada dua. Pertama, kita sebut saja tujuan jangka pendek. Tujuan jangka pendek itu sasarannya adalah dunia yang kita tinggali sekarang ini. Bentuknya adalah horizontal. Targetnya adalah agar setiap pribadi Muslim menjadi rahmatan lil ‘alamin. Rahmah bagi lingkungannya. Inilah yang agama Islam sebut sebagai Hablu Minannas (hubungan antar sesama manusia), yang isinya adalah ilmu dan peradaban.

Jadi dunia dan seluruh isinya merupakan tujuan jangka pendek saja. Untuk mencapai tujuan jangka pendek (dunia dan seluruh isinya) maka unsur penunjangnya adalah :

  1. Pendidikan
  2. Pengalaman
  3. Nasib

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah ia menjangkau hidupnya. Semakin banyak pengalaman, semakin mudah menguasai dunia. Atau karena faktor nasib. Misal pendidikannya tidak seberapa, pengalaman pun kadang-kadang dangkal tapi karena nasihnya lagi hoki, nasibnya lagi bagus, akhirnya dia bisa naik ke panggung dan memegang peranan. Faktor nasib ini ada, tetapi tidak bisa dijadikan sandaran.

Oleh karena itu, jika kita ingin mudah mencapai dunia maka langkah pertama adalah bagaimana cara kita bisa menempuh suatu pendidikan. Kita harus mau untuk belajar dan mau bersekolah untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Pada zaman sekarang, orang-orang terangsang untuk hidup dalam pola Hardolin. Hardolin adalah istilah orang-orang Priangan (Sunda) yang merupakan singkatan dari Dahar, Modol, Ulin (Makan, Buang Hajat, Bermain). Ini adalah filsafat hidup yang jelek dimana pakaian mau bagus, makan mau enak, mau punya uang tetapi tidak mau bekerja. Akhirnya ia menjadi pengkhayal kelas berat dan tukang lamun kelas tinggi. Tiap hari hal yang lakukan tidak lepas dari tiga hal tadi.

Kadang-kadang ia mau kerja tetapi tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Ditambah lagi sempitnya lapangan pekerjaan. Ia tidak tahu mau kerja apa, karena minimnya pendidikan yang ia terima.

Para remaja Indonesia harus punya pendidikan yang baik. Walau kehidupan sedang sulit, jangan patah semangat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Bahkan orang-orang besar di luar sana banyak yang bermula dari seorang loper koran. Many great people start as newspaper boy.

Banyak orang-orang besar yang memulai pekerjaannya dengan berdagang koran. Putus sekolah bukan menjadi halangan untuk menggapai cita-cita yang mulia. Dan tidak sedikit orang-orang besar yang bukan lulusan perguruan tinggi tetapi ia bisa sukses. Artinya faktor kesungguhan seseorang dalam belajar berpengaruh pada masa depannya nanti. Baik ia sekolah atau tidak, jika tidak memiliki semangat untuk belajar maka ia tidak akan maju. Ia banyak membaca, bergaul atau belajar otodidak.

Bersyukurlah bagi mereka yang bisa mengenyam pendidikan formal. Bagi yang tidak sekolah, jangan jadikan kemiskinan dan kesulitan hidup menjadi alasan untuk berhenti belajar. Ilmu itu penting bagi kehidupan.

Ada pepatah mengatakan, lebih baik makan singkong beneran daripada makan roti tapi dalam mimpi. Artinya, jika perlu lebih baik sekolah sambil dagang koran, nyemir sepatu, markir mobil daripada Hardolin itu tadi. Tanpa prospek masa depan yang tidak ada artinya.

Dan pendidikan memang sesuatu yang pahit. Banyak hal yang mesti dikeluarkan, dikorbankan seperti waktu dan uang. Tetapi tanpa pendidikan kita tidak akan bisa menjangkau dunia dan menggapai cita-cita. Kita hanya akan tersisih di pojok-pojok kehidupan.

Jangan bilang, “Ah manusia kan rezekinya sudah dijamin oleh Allah. Ayam saja ada rezekinya.”

Tentu saja. Tetapi jangan lupa, cara ayam mencari rezeki dan manusia mencari rezeki itu berbeda. Kalau ayam cari rezeki, dari tahun 0001 sampai 2017 bahkan sampai kiamat nanti, ia hanya bermodalkan patuk dan ceker ayam. Asal ia bisa matuk dan nyeker (mengais-ngais makanan di tanah), ayam bisa makan.

Beda halnya dengan manusia. Manusia harus mencari lapangan pekerjaan untuk mencari rezekinya. Sekarang lapangan pekerjaan itu sulit. Misalkan ia sudah dapat pekerjaan, ia juga dituntut untuk memiliki keahlian. Untuk memperoleh keahlian, harus memiliki pendidikan. Belum lagi ia harus berhadapan dengan saingan-saingan.

Setiap tahunnya, banyak orang yang mencari kerja. Ratusan bahkan bisa ribuan orang mencari pekerjaan. Ini adalah kenyataan. Semakin ke depan, mencari pekerjaan akan semakin sulit. Tingginya tensi ekonomi, persaingan hidup yang makin tajam, merajalelanya pola pikir industrialis yang membuat manusia menjadi individu (tidak peduli ke orang lain/mementingkan diri sendiri). Kehidupan akan terasa semakin berat. Oleh karenanya, tanpa bekal pendidkan, kita akan sulit untuk menjangkau dunia.

Yang kedua adalah pengalaman. Sehingga orang-orang mengatakan bahwa Experience is the best teacher. Pengalaman adalah guru yang paling bijaksana, paling baik. Dengan pengalaman, kita akan semakin dewasa. Dan orang sering mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Jangan takut gagal kalau nantinya hal itu bisa membawa kita ke dalam pola hidup yang lebih dewasa, lebih tegar dan lebih sanggup menghadapi kesulitan-kesulitan.

Dan faktor ketiga adalah nasib. Kadang-kadang orang pendidikannya tidak ada. Kadang-kadang pengalamannya tidak seberapa tetapi karena nasib ia bisa berhasil. Misalnya Engkongnya itu Komandan Hansip maka ia bisa naik jadi anggota Hansip. Itu karena faktor nasib saja. Hal-hal seperti ini memang terjadi di masyarakat kita. Tetapi jangan jadikan faktor nasib sebagai sandaran.

Misalnya seseorang ditanya, “Lo ntar kalo gede mau jadi apa?”

Ia menjawab, “Gue mah nasih aja dah. Jadi orang, syukur. Jadi gembel, ya nasib.”

Tidak bisa kita menjalani hidup dalam suatu alur spekulasi. Tidak bisa kita mengikuti skenario hidup dengan sikap untung-untungan. Kehidupan memang banyak ketidakpatian tetapi setidaknya kehidupan seseorang itu bisa dirancang, direncanakan, ditargetkan dan dianalisa kemungkinan-kemungkinannya. Walaupun tidak bisa dipastikan tetapi bisa diperhitungkan.

Sebagai manusia yang terikat oleh casuality (hukum sebab-akibat), maka sewajarnya kita bisa memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan itu. Kira-kira dalam rentang waktu 5, 10, atau 15 tahun ke depan, bagaimana kesulitan-kesulitan hidup yang dapat kamu hadapi? Sejauh mana persaingan dalam hidup? Sebanyak apa tenaga kerja dibutuhkan? Sejauh mana skill menunjang ke arah itu? Kalau tidak kita pikirkan, kita akan tersisih di sudut-sudut kehidupan. Kita akan sering menjadi penonton daripada menjadi pemain. Padahal kita ingin menjadi pemain, kita ingi aktif, kita ingin mempunyai peranan, karena oleh agama Islam kita dituntut untuk menjadi rahmatan lil alamin. Menjadi rahmah di lingkungan dimana kita tinggal. Mewarnai lingkungan bukan cuma diwarnai oleh lingkungan itu sendiri.

Halaman Berikutnya >>

Advertisements

Comments are closed.