Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Dasar dan Tujuan Hidup Seorang Muslim

Syukurlah, belakang ini sudah muncul teknokrat-teknokrat Muslim yang dijiwai oleh semangat Al-Quran untuk membuka tabir rahasia konsepsi Islam di lapangan teknologi modern. Semakin lama semakin menunjukkan kebutuhan dari umat itu sendiri. Dengan demikian, jika ada tujuan hidup, kita juga memerlukan alat untuk mencapai tujuan tersebut. Supaya tujuan fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah tercapai, apa alat yang harus kita pakai?

Kita lihat Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 111 memberikan jawaban :

Coba kita simak ayat ini sejenak, akan nampak dengan jelas bahwa ayat ini hakikatnya merupakan satu transaksi yang nyata dan benar antar manusia dan Allah. Transaksi jual-beli sudah terjadi, dan itu langsung dengan Allah. Tertuang dalam pernyataan Al-Quran. Dalam ayat ini, Allah sebagai Pembeli dan Manusia sebagai Penjual. Manusia yang dimaksud adalah mereka yang beriman kepada Allah (Muslim). Barang dagangannya adalah Anfus (diri) dan Amwal (harta). Harganya adalah Surga. Itu sudah tanda-tangan pernyataan bahwa kita siap siap jual-beli dengan Allah, apalagi kita sudah berbaiat. Baiat atau janji yang selalu kita ucapkan dalam Shalat. Seperti yang tersirat dalam Al-Quran Surat Al-An’am Ayat 162

Dalam sehari semalam, seorang muslim telah membaca baiat ini sebanyak 5 kali. Kita ulang dan kita ulang terus menerus setiap hari. Lalu kenapa kita tidak konsisten/istiqomah dalam memegang baiat itu?

Dalam konteksnya dengan persoalan, maka alat hidup kita itu ada dua. Pertama adalah anfus. Ini adalah bentuk jamak (plural/banyak) dari mufrod (single/tunggal) kata nafsun (diri). Yang dimaksud dengan diri adalah kepribadian. Kepribadian di sini bermakna kekayaan yang kita miliki dalam kepribadian diri kita. Artinya : tenaga, pikiran, konsep, gagasan, wewenang, ide, pangkat, jabatan, kemampuan dan keahlian. Semua hal tersebut adalah arti dari kata anfus.

Sedangkan amwal, merupakan bentuk jamak dari mufrod kata maa lun (harta). Pengertian di sini ialah segala bentuk-bentuk materi yang berada di bawah kekuasaan kita. Artinya : rumah, uang, tanah, kebun, pabrik dan peternakan. Semua hal tersebut adalah arti dari kata amwal. Nah, baik anfus atau amwal, untuk jangka pendek harus jadi rohmah dan untuk jangka panjang harus bisa menjadi penunjang untuk menggapai ridho Allah.

Kalau pangkat yang kita miliki malah jadi menjauhkan diri dari ridho Allah, berarti itu bukan nikmat melainkan adzab. Seseorang yang punya pangkat, tapi ia tidak melakukan kebaikan malah melakukan kejahatan atau setidak-tidaknya ia berdiri di belakang kejahatan. Ia malah melindungi hal-hal kemungkaran. Dalam kelas kekap, ia melindungi orang yang korupsi. Dalam kelas teri ia jadi backing tukang pukul. Itu sudah menyalahi. Pangkat tidak ia gunakan untuk mencapai tujuan (baik dunia atau akhirat).

Lalu tentang amwal (harta), seseorang yang memiliki harta yang banyak akan disidang di akhirat lebih lama daripada orang yang hartanya sedikit. Lain halnya dengan orang yang berilmu, yang akan ditanya, “Ilmumu kau gunakan untuk apa?” Sedangkan orang yang punya harta akan ditanya, “Hartamu, kau dapat darimana dan kau belanjakan kemana?” Darimananya (asal) dan kemananya itu harta akan ditanyakan kepadamu. Depan dan belakang.

Sebab ada orang yang hartanya didapat dari jalan yang halal tapi dibelanjakan di jalan yang haram. Ia kerja, peras keringat, banting tulang setengah mati tapi begitu dapat duit ia malah beli untuk taruhan/togel. Muter-muter kertas untuk cari kode. Atau hartanya didapat dari jalan haram lalu dibelanjakan di jalan yang baik. Ada orang yang menang judi lalu ia nyumbang untuk pesantren. Hal ini keliru.

Nabi mengajarkan bahwa Allah itu baik dan hanya menerima hal yang baik-baik. Tidak bisa seseorang mencuci kain dengan air najis. Kainnya akan tetap kotor.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, semuanya kembali kepada kita sendiri yang harus pandai-pandai dalam membagi orientasi. Suatu saat kita tenggelam ke dalam urusan dunia dan seluruh isinya untuk mencapai tujuan jangka pendek. Tapi di saat yang lain, kita harus memfanakan diri dalam artian merenungi diri bahwa hidup ini tidak akan lama, ada akhirat yang harus dihadapi. Kita butuh bekal untuk sampai kesana. Bekal ibadah yang kita lakukan selama hidup di dunia untuk mencapai tujuan jangka panjang yaitu akhirat dan ridho Allah.

Kehidupan ini bukan berjalan tanpa batas. Umur ini bukanlah suatu karunia tanpa pertanggungjawaban. Suatu saat nanti, baik kamu setuju atau tidak, rela atau terpaksa, pada akhirnya kita akan sampai pada garis finish kehidupan di dunia. Yang memang merupakan sebuah perjalanan panjang. A walking tall. Satu jalan yang demikian jauhnya.

Bila ajal datang dan senja kehidupan telah tiba, kita tidak dapat menghindarinya. Datangnya ajal tidak dapat kita sangka. Namun saat ia datang, tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menolaknya. Kehadirannya tidak pernah kita harapkan tetapi satu kali kematian datang bertamu, maka hal itu pasti akan terjadi. Dan itu pasti akan kita temui. Alangkah malangnya, jika saat itu datang, saat kematian menjemput dan kita tidak mempunyai satu prestasi ibadah sebagai bekal untuk akhirat. Naudzubillahi min dzalik!

Lalu apa artinya prestasi dunia? Apa artinya tujuan jangka pendek kalau kita kehilangan tujuan jangka panjang? Rumah kita yang besar, pangkat kita yang tinggi, harta kita yang banyak, bisakah semua itu membantu kita saat nanti dikumpulkan di Padang Mahsyar?

“Malaikat, jangan gebukin saya! Rumah saya harganya 2 milyar. Sudahlah, Malaikat. Kita damai saja. Itu mobil Roll Royce saya, ambil buat kamu.”

Kata Malaikat, “Saya tidak butuh hal seperti itu.”

Hanya prestasi ibadah yang dapat menyelamatkan kita pada kondisi di akhirat nanti. Untuk mencapai itu semua kita butuh teman hidup. Teman hidup dalam arti sempit adalah pasangan (suami/istri) yang taat kepada Allah dan hidup berdua secara rukun, harmonis, selaras dan seimbang. Sedangkan dalam arti luas, teman hidup adalah orang lain yang memiliki satu pemahaman yang sama, satu aqidah, satu keyakinan, baik itu dari suku atau bangsa manapun dan satu pandangan hidup yang sama. Islam tidak kenal teritorial. Maka tidak ada itu Islam Jepang, Islam Cina, Islam Indonesia. Muslim adalah muslim. Apa pun warga negaranya. Apa pun warna kulitnya. Apa pun bahasanya. Muslim diikat oleh aqidahnya terhadap Islam.

Dan ada lawan hidup, yaitu iblis (dalam segala bentuk dan implementasinya) dan setiap orang yang pandangan hidupnya tidak sama dengan kita. Bagi muslim yang punya aqidah Islam maka lawannya adalah orang yang tidak memiliki aqidah Islam, yang tidak mengesakan Allah dan tidak mengimani Nabi Muhammad sebagai Rasulullah. Secara ideologis itulah lawan kita. Maka yang teman, jadikanlah teman. Yang lawan, jadikanlah lawan. Jangan teman dijadikan lawan dan lawan dijadikan teman. Itu seperti kopiah dipakai di kaki dan bakiak naik ke jidat. Jangan salah cari teman. Jangan salah cari lawan. Akibatnya kita yang akan susah di masa yang akan datang.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Wabillahitaufiq wal hidayah. Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh

Tausyiah lainnya dari K.H Zainudin MZ ada di sini.

Advertisements

Comments are closed.