Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Kapan Nikah?

“Kapan nikah?”

“May.”

“Serius bulan Mei lo mau nikah?”

“Iya. Maybe yes, maybe no.”

“Yee.. semprul. Kirain beneran.”

Itu adalah contoh pertanyaan yang ‘default’ yang sering kita dengar. Dan jawaban Maybe Yes, Maybe No mungkin adalah jawaban ‘pelarian’ atau ngeles yang paling umum diucapkan oleh seseorang karena ia sendiri belum tahu kapan akan menikah.

Pertanyaan kapan nikah sering sekali ditanyakan kepada orang yang sudah ‘dewasa’. Misalnya Rudi bertanya kepada Kamil kapan ia menikah? Padahal dari aspek umur dan pekerjaan, Kamil sudah pantas untuk menikah tapi ia masih saja belum menikah. Bahkan pertanyaan ini bisa muncul dari siapa saja dan di waktu apa saja. Random. Bahkan seseorang bisa bertanya kepada dirinya sendiri. Bahkan Rudi yang masih lajang pun bertanya, “kapan saya nikah?”

Ini adalah pertanyaan dari orang yang sedang galau. Jawaban dari kapan nikah adalah segera. Apa yang terjadi setelah mendengar kata segera? Setelah itu akan semakin jelas apa yang harus dilakukan. Yaitu orang yang mau dinikahinya harus sudah ada. Artinya kalau kamu mau menikah kamu harus punya calon suami/istri terlebih dahulu.

Kemudian, kalau ada yang mau dinikahi pun belum tentu ia mau dan setuju. Jika setuju maka pertanyaan selanjutnya adalah kapan tanggal nikahnya? Nah, kapan juga menentukan kemampuan. Kemampuannya ada gak? Apakah ia sudah punya biaya untuk pernikahannya?

“Tapi kan saya belum bekerja.”

Oleh karena itu jawaban yang paling baik untuk menjawab pertanyaan kapan nikah adalah dengan menjawab pertanyaan kapan kamu siap untuk nikah?

“Tapi kalau saya siap dan gak ada yang dinikahi, percuma dong!”

Ini adalah pernyataan dari orang yang pesimis. Kasihan sekali orang seperti ini. Siap saja dulu.

“Tapi kalau saya sudah berusaha dan Tuhan tidak merestui saya sukses, gimana?”

Berupaya saja dulu. MIsalnya Rudi curhat kepada temannya yang lain, Randy. Ia bertanya, “Kapan ya saya nikah?”

Randy bertanya balik kepadanya, “Kamu sendiri kapan siapnya untuk nikah?”

Nah, Rudi tidak boleh ngeyel dengan selalu menyangkal (seperti contoh di atas). Karena kalau sampai dia ngeyel, berarti dia telah mengindikasikan kondisi kehidupannya yang lemah. Harusnya dia yang memutuskan sendiri. Dia bisa saja berkata dengan percaya diri bahwa dia telah siap untuk nikah, bukan malah mencari-cari alasan. Dia bisa berjanji kepada dirinya sendiri. Misalnya, “Aku akan menikah nanti pada umur 28 tahun.”

Nah,itu adalah sebuah keputusan. Sekarang dari umur 28 tahun, hitunglah secara mundur. Misalnya, hari ini kamu berusia 24 tahun, maka masih ada waktu 4 tahun untuk mempersiapkan segala hal untuk pernikahan.

Mari kita coba hitung mundur, bukan soal ekonomi seseorang tetapi tentang pasangan hidupnya. Kita bicara tentang teori kemungkinan.

MENIKAH ← PERSIAPAN ← PASANGAN

Siapakah perempuan yang katanya mencintaimu dan kamu juga mencintainya dan ia ingin menikah denganmu? Misalnya, Rudi suka/naksir dengan beberapa teman perempuannya. Ia masih ragu untuk memilih yang mana. Masing-masing memiliki daya tarik tersendiri. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Tapi Rudi harus tegas untuk memilih satu di antara perempuan yang diam-diam ia taksir. Ada Dini, Silvi, Luna dan Zahra. Rudi harus tahu, perempuan mana yang sebenarnya ia sukai dan menyukainya juga. Rudi mesti teliti menyeleksi calon pasangannya dengan baik. Latar belakangnya, pendidikannya, kesehatannya, keluarganya dan lain-lain. Dari keempat perempuan ini, Rudi punya peluang 25% untuk berhasil karena Rudi mengenal mereka. Dan 75% lagi ada di tangan salah satu di antara mereka.

Calon suami/istri itu bisa saja merupakan kenalan di lingkungan sekitarnya. Bisa di sekolah, tempat kerja, pengajian atau bahkan mungkin ia adalah tetanggamu. Di kasusnya Rudi, untuk memlih empat orang perempuan tadi, tentunya Rudi harus bergaul dan berkenalan dengan banyak orang. Dini adalah teman masa kecilnya yang tinggal bertetanggaan dengan Rudi. Sementara Silvi adalah rekan kerjanya di kantor. Luna adalah teman dari temannya dan Zahra merupakan anak dari teman pengajian ibunya.

Jadi, untuk mempunyai pasangan, baik laki-laki atau perempuan, ia harus memiliki link atau koneksi pertemanan yang luas. Jika satu ditolak cintanya, kamu bisa mencari lagi calon pasangan yang lain. Yang laki-laki harus tetap semangat jika ingin segera menikah. Ia perlu memberanikan diri untuk terus berikhtiar mencari calon istrinya. Bagi perempuan, kamu juga jangan putus asa. Calon imam atau kepala keluargamu itu tidak bisa datang dengan sendirinya. Ada proses yang harus dilewati yaitu pencarian. Kamu juga perlu mencari.

Ini baru tentang pasangan. Kita belum membahas tentang biaya pernikahan. Jika pasanganmu telah kamu temukan maka urusan biaya pernikahan bisa direncanakan.

Apakah yang dilakukan Rudi itu sikap seorang playboy? Bukan. Karena dia tidak sedang main-main. Rudi sedang berikhtiar mencari pasangan terbaik untuk dijadikannya istri di kemudian hari. Lalu, jika Rudi ditolak oleh Dini, apakah Rudi harus marah? Tidak. Ia tidak boleh marah. Artinya jodohnya itu bukan Dini. Hilang satu tumbuh seribu. Rudi mesti move on dan melanjutkan usaha berikutnya. Bahkan jika dari 4 perempuan yang menurutnya sudah pilihan terbaiknya dan ternyata tidak ada satu pun yang menerimanya, Rudi perlu belajar untuk berbesar hati. Menerima dengan lapang dada bahwa cintanya tidak berlabuh kepada salah satu di antara mereka. Rudi perlu memperbaiki diri dan mencari pasangan lain.

Beda lagi ceritanya jika Rudi ternyata sudah berhasil menemukan calon istrinya. Jika akhirnya Rudi menemukan sang pujaan hati, yang mau menikah dengannya maka ia harus memikirkan biaya untuk pernikahannya. Jika ia akan menikah dalam 4 tahun lagi, maka ia membutuhkan rencana yang rinci. Misalnya dengan menabung dari gajinya untuk pernikahan. Atau ia bisa mulai bekerja sampingan seperti berjualan pakaian atau hal lainnya.

Bagaimana jika sekarang kamu masih belum punya calon suami/istri? Kamu bisa menukar urutannya menjadi :

MENIKAH ← PASANGAN ← PERSIAPAN

Kamu bisa menabung uang untuk pernikahanmu sedari awal bekerja. Kemudian, seiring waktu berputar, kamu bisa menemukan calon istri/suami dan akhirnya bisa menikah.

Jadi pertanyaan kapan nikah itu hanya bisa dijawab dengan mantap dan yakin jika kamu sudah punya rencana dalam mempersiapkan pernikahan atau jauh lebih lagi kalau saat ini kamu sedang melakukan persiapan tersebut.

Jangan banyak alasan dengan mengatakan tidak punya pasangan atau tidak punya pekerjaan. Keduanya harus kamu dapatkan dengan melakukan pencarian yang sungguh-sungguh. Sebagai seorang muslim, menikah merupakah sunnah Rasul yang semestinya diikuti oleh kita sebagai pengikutnya. Menikah memiliki banyak manfaat dan sejalan dengan fitrah manusia. Manusia memiliki nafsu syahwat yang perlu dikendalikan. Jika tidak pandai mengaturnya maka kehancuran akan datang menghampirimu.

Pertanyaan kapan nikah bisa sangat menggalaukan. Namun jika disikapi dengan benar, kamu akan menghadapinya dengan serius. Kenapa? Karena pernikahan itu bukan main-main. Pernikahan merupakan ikatan sakral antar lelaki dan perempuan yang saling mengikat janji. Bukan pacaran yang bisa seenaknya putus-nyambung.

Kesimpulannya, untuk menemukan pasangan, kamu harus kenal dengan banyak orang. Jangan mengunci diri dari pergaulan. Pilih=pilihlah teman yang baik. Kedua, persiapan pernikahan tidak terlepas dari biaya. Kamu harus memikirkan hal ini dengan matang. Ketiga, janganlah lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar bisa mendapatan pasangan terbaik.

Butuh motivasi lainnya? Silakan baca di sini.

(Terinspirasi dari Channel Youtube – Mario Teguh)

Advertisements

Comments are closed.