Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Untukmu, Ramadhan (Cerita Pertama)

Bagian 1 – Mudik

Tokoh : Rama

Tadi malam ibuku menelpon dan menanyakan kabarku di Jakarta. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Terakhir aku pulang ke rumah adalah 6 bulan yang lalu. Waktu itu aku pulang untuk menghadiri acara pernikahan sepupuku.

Bukannya aku tidak rindu sama ibu, tetapi aku terlalu sibuk bekerja di kota ini. Sibuk mencari pekerjaan baru, lebih tepatnya. Dan momen mudik di bulan puasa ini menjadi sangat pas dan mendorongku untuk segera pulang.

Yang aku inginkan sebenarnya bisa pulang setiap bulannya ke kampung halaman. Namun, hal itu sepertinya belum bisa aku lakukan dengan baik. Alasan minta cuti dari kantor yang susah atau tiadanya ongkos untuk pulang menjadi jawabanku kepada Ibu setiap kali beliau menanyakanku kapan aku pulang.

Dan hari ini aku bisa pulang kampung. Jadwal cuti bersama dari pemerintah sudah keluar. Aku hitung, ada 10 hari yang bisa aku gunakan untuk liburan. Aku senang sekali karena pada akhirnya aku bisa segera pulang ke rumah.

Aku sangat rindu rumah karena di kota Jakarta ini aku tidak merasa betah. Sulit rasanya tinggal di kota yang ‘keras’ dan dipenuhi dengan beragam budaya, adat dan karakter penduduknya yang berasal dari seantero Nusantara.

Apalagi semalam, ibuku mewanti-wanti agar aku segera pulang. Harus pulang alias wajib. Ibu bercerita tentang acara pertemuannya dengan Uwa Jaya. Uwa Jaya adalah kakak kandung dari almarhum Bapak. Ibu memintaku pulang agar aku bisa mengantarnya menemui Uwa. Katanya ini penting. Penting banget.

Aku mengiyakannya. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Ibu. Dan sekarang ibu memintaku untuk mengantarnya, tentu akan aku lakukan sepenuh hati. Saat ini, Ibu adalah satu-satunya orang tuaku. Bapak telah 4 tahun meninggal dunia. Jadi, apa pun perintah dari Ibu akan aku turuti. Tentunya selama yang beliau perintahkan adalah hal yang baik dan sesuai dengan tuntunan agama, pasti akan aku patuhi.

Saat ini, aku sudah berada di dalam Bus Primajasa. Aku sengaja datang langsung ke pool-nya yang berada di Cililitan di sebelah kantor Badan Kepegawaian Negara. Sudah 30 menit aku menunggu di dalam bus ini. Para penumpang berdatangan satu per satu. Hampir seluruh kursi sudah terisi.

Di sebelahku masih kosong. Kira-kira jam berapa bus ini akan berangkat ya? Aku melihat jam tangan. Masih jam 2 siang. Sudah dapat dipastikan kalau nanti aku akan berbuka puasa di perjalanan. Ah, aku sebaiknya membeli makanan dan minuman dulu untuk buka puasa.

“Pak, tolong titip kursi saya ya. Saya mau ke warung sebentar.”

Seorang bapak-bapak kurus dengan kumis tebal yang duduk di kursi di deretan kiri itu menganggukkan kepala. Ia sedang asyik memainkan kapal-kapalan bersama anaknya yang kutaksir sekitar umur 8 tahunan.

Aku simpan tas ranselku di kursi bus lalu segera turun dari bus dan bergegas menuju warung. Pada high season di arus mudik seperti ini, jumlah penumpang bus selalu lebih banyak daripada hari biasa. Di pool ini saja sudah penuh oleh bus dan para penumpang yang terus berdatangan tiada henti. Tiga hari sebelum lebaran sudah termasuk hari-hari yang padat. Tidak hanya di dalam bus, di jalan pun akan ramai dan padat oleh kendaraan bermotor. Macet menjadi menu langganan mudik setiap tahunnya.

Halaman Berikutnya >>

Advertisements

Comments are closed.