Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Untukmu, Ramadhan (Cerita Pertama)

Bagian 2 – Malas Pulang

Tokoh : Via

Aku berharap tidak ada GrabBike atau Gojek yang datang ke rumah kontrakanku ini. Di hari dimana orang-orang sibuk memikirkan mudik ke kampung halamannya, aku terpaku di kamar. Maunya hanya diam dan tidak ingin pergi. Walaupun tas dan koperku ini sudah diisi dengan baju dan oleh-oleh tetapi tetap saja rasanya aku tidak mau pergi.

Sebelumnya aku sudah bergembira saat aplikasi Grab sedang error karena banyaknya order di hari ini. Begitu pun dengan aplikasi Gojek yang tidak bisa aku akses. Aku menyebutnya sebagai sebuah pertanda. Ya, sebuah tanda kalau aku memang tidak boleh pulang.

Tapi ternyata kegembiraanku itu segera sirna. Teleponku berdering dan aku angkat. Ternyata dari driver Grab. Dia berkata kalau dia sudah ada di depan rumah kontrakanku. Menurutnya, orderan aku sudah masuk sesaat sebelum aplikasi Grab error.

Dengan langkah gontai dan lemas, aku mengambil tas selempang dan menggeret koper hingga ke halaman rumah. Driver Grab segera mengambil koper dan menyimpannya diantara jok motor dan stang.

“Ke Cililitan ya, Neng?”

“Iya, Bang. Hari ini pasti macet deh. Tahu jalan alternatif biar bisa cepet sampai kesana?”

“Oh tenang saja, Neng. Saya tahu.”

Si driver Grab memberikan helm dan masker. Meski terasa malas, akhirnya aku mengambil keduanya dan memakainya. Sederhana tapi masker ini cukup ampuh menahan debu-debu Jakarta yang terbang liar dan tak pilih kasih. Mereka bisa berasal darimana saja dan bisa menempel dimana saja.

#

Setengah jam kemudian aku sudah berada di pool Primajasa. Gilaaa.. penuh banget orang. Ini pool atau terminal sih. Setelah membayar ongkos Grab, aku segera berlari mencari bus jurusan Garut.

Tapi..

Oh tidak. Aku sudah tiga kali keluar-masuk bus jurusan Garut tetapi semuanya penuh. Gimana ini? Hari ini aku harus pulang. Bisa-bisa si Papa marah kalau aku tidak pulang. Eh sebentar. Aku ada ide nih.

“Halo, Pah. Via udah di pool. Tapi penuh banget. Via gak jadi mudik ya. Ya?”

“Namanya juga arus mudik, V. Pasti penuhlah. Pokoknya kamu harus pulang. Kalau gak sekarang pun, tunggu aja bus yang nanti malem atau naik yang besok subuh.”

“Tapi Pah, Via gak mungkin nunggu selama itu.”

“Papa tidak mau tahu. Kamu sudah janji sama Papa. Kamu ingat kalau janji adalah utang kan?”

Lalu telepon itu terputus. Duhh. Papa aku memang orang paling keras kepala di dunia. Dan kurasa sifatnya ini menurun kepadaku.

Sepertinya aku memang harus pulang. Aku sudah janji sama Papa. Bukan tentang janji pulang hari ini saja tetapi sebuah janji yang telah kami sepakati bersama beberapa tahun yang lalu.

#

Aku masih mondar-mandir di sekitar bus yang berjejer rapi ibarat tentara yang sedang berupacara. Peluh yang membasahi pipi dan badan tidak aku hiraukan. Yang terpenting saat ini adalah bisa mendapatkan kursi di bus.

Seorang kondektur menghampiriku yang tengah kebingungan. Ia memberitahuku kalau aku bisa naik bus jurusan Tasikmalaya kalau bus jurusan ke Garut sudah penuh. Berdasarkan informasi dari dia, bus jurusan Tasikmalaya semuanya dialihkan jalurnya menuju Garut. Jika hari biasanya bus ini menuju Tasikmalaya melalui rute Nagrek lalu mengambil jalur kiri ke arah Limbangan, maka hari ini bus ini akan berjalan melalui lajur kanan ke arah Garut, Singaparna dan berakhir di Tasikmalaya.

Aku baru ingat, kalau setiap arus mudik seluruh bus arah selatan selalu dialihkan menuju lajur kanan Nagrek. Artinya aku bisa naik bus ini.

#

Oh.. lega rasanya bisa dapat tempat duduk di bus. Karena destinasi akhir bus adalah Tasikmalaya, aku tidak boleh ketiduran. Bisa-bisa nanti rumahku kelewatan. Ini tidak boleh terjadi.

Hanya berselang dua menit, seorang ibu-ibu setengah baya yang sedang menggendong anak mendekatiku. Ia sedang kebingungan mencari tempat duduk. Ia datang bersama suaminya. Dia bercerita kalau ia, suami dan anaknya ingin duduk di kursi yang aku tempati. Alasannya karena si anak selalu rewel kalau naik bis. Terkadang si anak ingin digendong oleh ibunya dan di lain waktu ingin digendong oleh bapaknya.

Aku berdiri dari kursiku dan melihat ke sekeliling. Dari deretan depan hingga belakang, baik bagian kiri dan kanan semuanya sudah terisi. Hanya ada satu kursi di belakang yang kosong.

Dengan berbekal belas kasihan dan aku tidak mau ribet apalagi harus ribut hanya gara-gara masalah kursi, aku mempersilakan ibu tersebut duduk. Aku tidak mau ambil pusing. Masalah yang sedang aku pikirkan sekarang saja sudah begitu runyam. Aku tidak mau menambahkan suram di kepalaku.

Hanya butuh beberapa langkah, aku sudah duduk di kursi yang berada di dekat jendela. Kursi di sebelahku hanya diisi oleh sebuah tas ransel Eiger berwarna hitam. Seorang bapak di kursi seberang mengatakan kalau si empunya kursi sedang turun ke warung untuk membeli makanan untuk berbuka puasa.

Astagfirullah! Aku lupa, aku juga belum beli makanan dan minuman.

Saat aku hendak bangun, tiba-tiba bus ini menyala dan sang supir segera menjalankan bus. Seorang lelaki berlari dari luar dan segera naik ke bus ini. Ternyata ia adalah orang yang duduk di sebelahku.

Ia tersenyum padaku dan aku membalasnya dengan sebuah senyuman palsu. Senyuman basa-basi saja. Tapi aku tergoda, mmmh.. tersihir oleh kresek yang ia bawa. Dari kresek transparan itu terlihat dengan jelas barisan Molen, Lemper, dan Bakwan yang sungguh menggiurkan. Si lelaki ini juga membawa tiga buah botol minuman dingin yang terlihat menyegarkan.

Duh…godaan, godaan. Ini kali ya efek dari tidak sahur. Atau lebih tepatnya lagi efek tidak tidur dan tidak makan apa-apa sejak kemarin. Bawaannya lemas dan malas.

Aku berusaha menahan diri.

Harusnya aku tidak perlu nangis semalaman hanya karena si cowok jejadian itu.

Lalu aku mendengar sebuah suara khas. Sebuah suara dari tubuh. Itu adalah suara keroncongan perutku. Oh wahai perut, bersabarlah. Masa sih gara-gara bakwan, kamu kalah.

Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.

Aku memang lapar.

Halaman Berikutnya >>

Advertisements

Comments are closed.