Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Untukmu, Ramadhan (Cerita Pertama)

Bagian 3 – Buka Puasa

Tokoh : Rama

Alarm di HP berbunyi menandakan sepuluh menit lagi adzan Magrib akan segera berkumandang. Aku terbangun karena alarm itu. Saat kubuka mata ternyata bus ini masih di Jakarta. Sekarang masih mengantri masuk ke dalam tol.

Aku mendongakkan kepalaku ke atas untuk mengintip jalanan dari kaca depan bus. Mau masuk tol saja macet sekali. Antrian kendaraan mobil dan bus-bus di masing-masing gerbang tol terlihat mengular panjang. Mudik tahun ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu macet. Bahkan para pemudik sudah tidak mau mengeluhkan hal ini. Yang pemudik inginkan adalah sampai di tempat tujuan dengan utuh dan selamat. Kalau saat mudik dan tidak macet rasanya bukan mudik kira-kira seperti itulah guyonan para pemudik, termasuk aku.

Kadang aku berpikir kapan ya bisa mudik ke Tasik dengan cepat. Rencana pembangunan jalan tol dari Cileunyi menuju Tasik dan Banjar masih belum terealisasi. Aku harap proyek itu bisa segera terlaksana.

Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Alhamdulillah, akhirnya adzan Magrib. Seluruh penumpang bus segera membuka bekalnya masing-masing lalu berbuka puasa. Menyegerakan berbuka puasa merupakah salah satu dari sunnah Rasulullah. Mudah-mudahan puasaku hari ini diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Namun saat kulirik ke sebelah kananku, perempuan ini hanya diam saja.

“Maaf, Teh. Teteh puasa?”

Iya mengangguk.

“Atos adzan, Teh. Ayeuna waktosna buka.” (Sudah adzan, Teh. Saatnya berbuka puasa)

“Aku tadi tidak sempat beli makanan.”

Mendengar hal itu aku segera menawarkan gorengan dan sebotol air mineral. Meski pada awalnya ia menolak dengan halus, aku tetap memaksanya agar ia mau menerima. Memberi makan kepada orang yang puasa itu bisa mendapatkan pahala. Semoga saja niatku memberinya makanan untuk berbuka bisa beroleh pahala. Amin.

Kulihat dia lahap sekali makan Molen, Lemper dan Bakwan. Memang sih hanya gorengan tapi aku mensyukurinya. Dia pun terlihat senang saat mengunyah dan memakannya.

Tidak terasa aku dari tadi lama memperhatikannya. Merasa dipandangi terus, dia agak memalingkan pandangannya ke arah jendela. Sadar akan hal itu, aku juga segera berpaling. Aku meneruskan makan menu yang sama dengan si perempuan.

Dug! Dug! Dug! Suara beduk di dalam hati ini perlahan terdengar. Ada apa ini? Kok aku degdegan. Sekali lagi aku lirik dia. Ohh.. cantiknya. Subhanallah

Aku berusaha mengontrol diri. Seakan diingatkan oleh alam sadar bahwa hal penting yang saat ini harus aku hadapi adalah mencari pekerjaan baru. Bukan tanpa alasan. Aku sudah tidak tahan lagi bekerja di perusahaan yang tidak memperhatikan hak-hak karyawannya. Tiga tahun aku rasa sudah cukup bagiku untuk bekerja disana.

Contoh kecilnya saja seperti masalah pembayaran THR. Rekan-rekan kerjaku sudah mendapatkannya 10 hari sebelum lebaran. Bagaimana denganku? Aku juga sudah mendapatkan THR. Bedanya, aku hanya mendapatkan satu pertiga dari nominal THR yang seharusnya didapatkan. Saat aku tanya ke HRD, mereka bilang memang terjadi kesalahan. Itu saja. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kata maaf sama sekali. Bahkan saat aku bertanya kembali, si manajer malah sewot dan marah. Oh, aku baru ingat, di sini kalau bertanya sesuatu yang berhubungan dengan kesalahan perusahaan maka si penanya yang akan dimarahi dan seolah-olah dialah yang salah. Ya, salah. Harusnya dia tidak mempertanyakan haknya.

Aku hanya bisa mengelus dadaku. Seakan tanganku punya kekuatan magis untuk bisa menenangkan diri dan bersabar hanya dengan sekali elusan tangan di dada. Baru kemarin sore, uang gajian dan sisa THR aku terima. Tentu, aku mensyukurinya. Alhamdulillah, ini adalah rezeki bagiku.

Jika rekan kerja yang lain sudah belanja kebutuhan lebaran seminggu yang lalu maka aku baru bisa melakukannya esok hari. Satu hari sebelum lebaran. Bisa kamu bayangkan bagaimana kondisi mall, pasar dan toko-toko di satu hari sebelum lebaran? Penuh. Aku sendiri pesimis bisa membeli baju di tengah-tengah lautan manusia.

Ironis memang. Hari-hari terakhir Ramadhan, masyarakat lebih ramai berada di pusat perbelanjaan daripada di masjid. Sebuah fenomena yang hanya bisa ditepis dan diabaikan bagi mereka yang benar-benar tahu akan kemuliaan bulan Ramadhan. Bagi orang yang beriman, mereka tahu jika Ramadhan akan segera pergi sehingga mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk beribadah, memperbanyak istigfar, tilawah Al-Quran dan i’tikaf di masjid.

Bulan Ramadhan selalu membuatku ingat akan diriku. Bahkan semua orang Islam yang beribadah di bulan ini seolah memanggil-manggil namaku. Konon, menurut cerita dari almarhum Bapak, namaku ini dibuat karena aku lahir di bulan puasa, dua puluh delapan tahun yang lalu.

”Mas, terima kasih yah makanannya.”

Perempuan di sebelahku itu membuyarkan lamunanku.

“Oh iya. Sami-sami. Teteh uih ka tasik oge?” (Oh iya. Sama-sama. Teteh pulang ke Tasik juga)

Si perempuan berkerudung ungu itu hanya bengong dan mengeryitkan dahi.

“Maaf, Mas. Aku tidak terlalu ngerti bahasa Sunda.”

“Oh gitu. Aku kira semua orang yang mudik ke Tasik itu ngerti bahasa Sunda. Haha…”

Aku jadi malu pada diriku sendiri. Tapi kalau dilihat dari wajahnya, si perempuan ini memiliki paras keturunan Sunda. Ah, mungkin saja dia hanya mau berlibur. Atau dia orang asli Jakarta yang memang tidak bisa berbahasa Sunda. Eh, kok aku malah menebak-nebak gini sih.

“Jam segini baru masuk tol Cipularang ya.”

Aku mengangguk-angguk. Ini akan menjadi perjalanan mudik yang panjang. Bakalan bosan kalau hanya duduk, diam, tidur. Aku sebaiknya mengenalkan diri saja agar suasana bisa mencair.

“Arus mudik seperti ini, bermacet-macetan kayak gini, itu ngeselin ya, Teh”

“Banget. Eh, jangan panggil teteh dong, Mas. Aku kan lebih muda daripada Mas.”

Duh, aku jadi berasa tua ya. Haha..

“Oke. Teteh juga jangan panggil Mas atuh. Aku lebih senang dipanggil Aa, akang, atau panggil pakai nama saja. Kan saya dari Sunda. Nama saya Rama, dan…”

Aku mengulurkan tangan kananku kepadanya. Si perempuan itu menyambutnya. Kami saling bersalaman.

“Panggil saya, Via.”

Halaman Berikutnya >>

Advertisements

Comments are closed.