Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Untukmu, Ramadhan (Cerita Pertama)

Bagian 4 – Memecah Sunyi

Tokoh : Via

Suhu di Jakarta hari ini membuatku merasa terperangkap di dalam oven. Ingin rasanya minum es jus atau es kelapa muda. Tapi, aku kan sedang berpuasa. Aku masih menyesal tadi pagi, hanya minum air saja. Padahal semalaman aku tidak tidur. Menjelang imsak, selera makanku tidak kunjung tiba. Alhasil, segelas air putih yang mengisi perutku.

Makanya tidak heran, kalau sekarang badanku lemas. Udara di luar yang panas semakin membuat ubun-ubunku mendidih karena banyak masalah. Mungkin Tuhan sengaja memberiku panas agar aku siap menerima sapaan dingin.

Kota tujuanku adalah Garut. Tepatnya di daerah Leles. Di sana udaranya masih bersih, sejuk dan dingin. Mungkin keputusanku untuk pulang tidak seburuk yang aku kira.

Tadi malam aku bertengkar lagi dengan pacarku. Mantan pacar, tepatnya. Rencananya, lebaran ini keluarganya akan datang ke rumahku untuk membicarakan pernikahan. Sesuatu yang sangat aku idamkan.

Daniel telah berpacaran denganku sejak aku mulai bekerja di kantor pajak. Kami berkenalan pada saat acara ulang tahun teman SMA-ku. Daniel datang bersama grup band-nya. Tampan, enerjik dan menarik. Tidak butuh lama, sekitar 2 bulan setelah itu kami pun memutuskan untuk berpacaran. PDKT yang singkat tidak membuatku gamang atau ragu kepada Daniel. Dia sopan dan penuh perhatian. Semua hal yang diinginkan perempuan ada pada dirinya. Selain sebagai penyanyi, dia juga memiliki usaha kuliner yang terkenal di Jakarta.

Aku sudah beberapa kali mengenalkan calon suami kepada Papa. Lulus kuliah, aku sudah dilamar oleh seniorku dulu di kampus. Tapi Papa tidak merestui kami dan akhirnya kami pisah. Belakangan aku tahu, kalau dia ternyata sudah punya istri.

Kedua kalinya saat berumur 22 tahun. Saat aku bekerja menjadi asisten akuntan, ada klien yang menaruh hati padaku. Aku pun sempat mengenalkannya kepada orang tua. Mama sudah sangat setuju. Tapi Papa baru setengah hati menerima.

Si klien ini kemudian berubah status menjadi pacar dan lambat laun dia mengatakan ingin serius menjalin hubungan denganku. Aku senang bukan kepalang. Teman-temanku sudah menikah lebih dulu daripada aku. Apalagi Mama sudah curhat ingin gendong cucu. Papa sebenarnya belum rela tetapi Mama meluluhkannya.

Singkat cerita lamaran sudah berlangsung dan aku tinggal menunggu hari pernikahan tiba. Semua keluarga dan teman sudah mengetahui rencana suci ini.

Tetapi lagi-lagi, rencana tinggallah rencana. Pernikahan kami gagal karena ternyata pacarku itu ditangkap polisi dengan tuduhan penggelapan uang dan investasi bodong. Sudah banyak korban yang telah ditipu oleh dirinya.

Keluargaku malu. Terutama Papa. Dia bahkan memarahiku habis-habisan. Menyebutku tidak pandai mencari calon suami, tidak teliti dan sebagainya. Aku hanya bisa menangis sesunggukan di kamar. Aku tidak mengira hal ini terjadi padaku.

Setahun telah berlalu. Di usia ke-23 aku bertemu dengan Daniel. Dia telah mampu mencuri hatiku, ia juga bertemu dengan Mama dan Papa. Respon dari keduanya bagus. Aku optimis kalau Daniel adalah jodohku.

Aku melihat sebuah foto di galeri handphone. Ada 4 orang di foto itu. Aku, Daniel, Alexandra dan Laura. Foto itu diambil ketika aku baru bertemu dengannya di acara ulang tahun Laura. Sementara itu, perempuan satu ini. Oh.. aku tidak tahu lagi harus menyebutnya apa. Dulu ia memang sahabatku sejak kuliah. Akrab dan sama-sama suka musik. Kita sering pergi ke party dan gila-gilaan bersama. Dia adalah tempatku untuk mencurahkan hati dan begitu pun sebaliknya.

Alexandra, oh Alexandra. Aku masih tidak percaya kau telah merebut Daniel dariku. Ingin rasanya aku hancurkan kaca jendela bus ini dan melemparkan handphone serta semua kenangan pahit antara aku, Daniel dan Alexandra.

Tidak terasa, bulir-bulir air mataku turun perlahan membahasahi pipi. Sesak dan perih rasanya kalau harus mengingat hal ini.

Dan kenangan itu segera buyar saat suara adzan Magrib dari handphone pria di sebelahku menyala. Aku kaget dan segera menyeka air mata.

Si pria itu tersenyum sambil menawariku makanan untuk berbuka puasa. Aku berterima kasih kepadanya karena akhirnya rasa lapar dan hausku sudah hilang.

Kami berkenalan. Dia menyalamiku dan mengenalkan dirinya. Namanya adalah Rama. Awalnya dia bertanya kepadaku memakai bahasa Sunda. Tapi suer deh, aku tidak mengerti. Mama memang orang Sunda. Orang Garut asli. Tapi sejak kecil aku tinggal di Inggris bersama Papa dan Mama lalu baru pindah ke Jakarta saat aku kuliah di Univeritas Indonesia.

Papa asli orang Inggris. Ia seorang mualaf. Papa baru mengucapkan syahadat dan yakin masuk Islam setelah Mama mendukung dan mengajarinya banyak hal tentang Islam. Papa tidak bisa menikahi Mama jika bukan orang Islam. Empat bulan sebelum melangsungkan pernikahan Papa bersyahadat dan menjadi seorang Muslim.

Aku tidak pernah mengerti kalau Mama sedang berbicara menggunakan bahasa Sunda. Saat ia menelpon kepada saudara-saudaranya yang di Garut atau bertemu ibu-ibu pengajian yang sebagian besar berdarah Sunda.

Saat Rama bersalaman denganku, aku merasa seperti tersengat listrik. Logat bahasanya yang khas Sunda serta dengan mimik muka yang polos membuatku ingin tertawa. Bukan menertawakan suku darimana ia berasal. Tapi aku tetawa karena Rama mengingatkanku akan Mama. Cara mereka berdua berbicara itu sama. Bahkan saat Mama tinggal di Inggris pun, percaya atau tidak, logat Sundanya masih kental.

“A, sudah lama tinggal di Jakarta?”

Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.

“Sudah tiga tahun. Tapi aku sudah tidak tahan lagi.”

“Lho, kenapa?”

“Di sini keras, Via.”

“Haha.. siapa suruh datang Jakarta?”

Rama mengangguk tanda setuju. Aku tahu dari raut mukanya kalau ia terlihat tidak nyaman di Jakarta. Di mukanya seolah tergambar bagaimana ia telah berusaha berjuang di kota ini. Aku memang bukan paranormal atau cenayang, tapi entah kenapa aku selalu bisa tahu mana wajah para pendatang yang sukses di Jakarta dan mana yang tidak.

Jika Rama seorang yang sukses, tentunya ia akan tampil percaya diri dan berpakaian serba mahal dan yang pasti ia tidak akan naik bus. Aduh, aku jadi sok tahu kayak gini sih.

“Iya, aku kesini karena tidak punya pilihan lain waktu itu.”

Sekarang giliran aku yang mengangguk-angguk seperti mainan hewan yang terpasang di dashboard mobil. Turun naik tiada henti. Lalu ia melihat jari jemariku. Ia sedang mengecek sesuatu. Aku tahu maksudnya.

“Via, pergi sendiri ke Garut. Gak dianter sama suami?”

“Boro-boro suami, A. Pacar aja gak punya sekarang.”

Pertanyaan ini agak membuatku sebal tapi aku pun jadi penasaran.

“Kalau A Rama pulang mau jengukin istrinya.”

“Iya.”

Deg! Yah, aku salah kira. Seperti sedang asyik terbang di awan lalu jatuh tersungkur mencium tanah.

“Iya, aku mau menjenguk istri dari almarhum Bapak, yaitu Ibuku.”

Lalu ia tertawa. Dalam hati, aku juga tertawa. Sepertinya adegan mencium tanah itu harus aku rewind.

“Ah, si Aa ini bisa aja.”

“Aku belum menikah. Aku masih dipusingkan oleh urusan pekerjaanku yang bikin aku mumet dan lieur (pusing).”

Walau di luar macet dan bus jalannya tersendat-sendat, aku tidak merasa bosan. Penumpang di sebelahku ini terus saja mengajakku ngobrol. Jadinya aku tidak mengantuk dan sedikit demi sedikit giliran aku yang curcol alias curhat colongan kepada orang yang baru saja aku temui.

Kok bisa ya?

Bus Primajasa ini terus berjalan. Kadang–kadang kencang, kadang-kadang pelan. Kondisi jalanan di tol ini ramai dan padat. Aku baru sadar kalau sebanyak ini yang mudik, berapa jumlah orang yang tersisa di Jakarta ya? Mungkin orang-orang asli Jakarta selain merayakan Lebaran, mereka juga sedang menikmati jalanan ibu kota yang lengang dengan sedikit kendaraan yang berlalu-lalang.

Kemudian Abang Kondektur Bus memberikan kami pengumuman. Ia mengatakan bahwa bus belum bisa istirahat selama di jalan tol Cipularang. Kalau misalkan berhenti, nanti makin malam makin macet. Bus baru akan istirahat setelah keluar tol yaitu di Cileunyi. Nanti sopir akan berhenti di restoran atau tempat makan. Ada banyak restoran yang berjejer sepanjang Cileunyi hingga Nagrek.

Para penumpang sebagian mengiyakan dan yang lain merasa keberatan. Tapi sepertinya itu adalah pilihan yang cukup adil. Apalagi di beberapa rest area yang telah dilewati bus, aku melihat banyak kendaraan yang bahkan untuk masuk dan parkir mobil harus mengantri. Sudah bisa dibayangkan bagaimana antrian orang-orang yang mau berbuka puasa di restoran-restoran yang berada disana.

“Jangan khawatir, Via. Aku masih punya roti dan minuman.”

Aku tersenyum lebar. Duh jadi malu. Tapi senang juga sih. Pelajaran hari ini adalah kalau mau bepergian jauh, kamu harus membawa perbekalan makanan dan minuman yang cukup.

Bus kembali melaju. Aku dan Rama sedang asyik berbincang-bincang tentang pekerjaan dan pengalaman selama bekerja di perusahaan masing-masing.

Halaman Berikutnya >>

Advertisements

Comments are closed.