Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Untukmu, Ramadhan (Cerita Pertama)

Bagian 5 – Putaran Memory

Tokoh : Rama

Andai kita bisa memilih kenangan yang kita inginkan seperti memutar lagu favorit atau semudah mengambil kue-kue imut dan lucu di toples Lebaran.

Kali ini kenanganku membawaku kembali ke beberapa tahun ke belakang. Kenangan ini muncul karena Via bertanya tentang statusku.

“Oh, Via kira sudah nikah. Abisnya sudah pas sih.”

“Maksudnya sudah kayak bapak-bapak?”

Via tertawa renyah. Aku kan belum setua itu. Kalau aku bercermin, aku selalu yakin aku masih muda dan ganteng.

“Haha.. gak juga sih. Dari tadi ngobrolin kerjaan terus nih. Ayo cerita yang lain dong, A. Biar ngantuknya gak dateng.”

“Tentang apa?”

Via terlihat sedang berpikir. Lalu…

“Tentang apa ya. Mungkin tentang perempuan yang pernah singgah di hatinya A Rama.”

Duh ini cewek, kok frontal banget yah. Tapi memang dari tadi aku dan dia saling tukar cerita tentang pengalaman bekerja di kantor masing-masing. Sekarang topiknya berubah. Tentang perempuan yang datang di kehidupanku. Aku sih tidak keberatan untuk cerita. Lagian dari pengalaman aku bolak-balik naik bus dan ngobrol ngalor-ngidul seperti ini, aku dan teman seperjalanan di bus tidak pernah bertemu lagi. Jadi, nothing to lose lah. Lagian dari awal aku dan Via saling bertukar cerita karena kami berdua ingin membunuh kebosanan selama perjalanan mudik ini.

“Baiklah,aku akan cerita. Ya, walau agak berat sih, karena aku harus memutar kembali memory masa lalu. Nanti gilran kamu ya yang cerita.”

Via mengacungkan jempolnya.

“Sip lah!”

#

Semasa hidupnya, Bapak pernah berwasiat kepadaku agar aku segera menikah. Katanya, Bapak ingin melihat aku menikah dan bisa bermain dengan cucunya nanti. Namun sayangnya hal itu tidak terjadi. Bapak sudah terlebih dahulu meninggalkanku. Beliau sudah meninggal sekitar 4 tahun yang lalu.

Sepeninggal Bapak, keluarga mendukungku untuk segera mewujudkan keinginan Bapak tersebut. Aku juga menginginkan untuk menikah. Tapi hingga saat ini calon pendampingku itu belum juga aku temukan.

Ceritanya ada teman Ibu yang bernama Bi Enok yang ingin memperkenalkanku dengan anak tetangganya. Mendengar kabar gembira itu, Ibu segera menelpon dan menyuruhku pulang ke rumah. Bi Enok pun mengatur waktu pertemuan antara aku dan calonku itu. Tepat jam 4 sore, aku pergi ke rumah Bi Enok ditemani oleh tante, kakak ipar dan seorang penunjuk jalan.

Namanya adalah Poppy. Cantik, tinggi dan masih berusia 24 tahun. Dia berkerudung, jadi seorang guru di Ciamis dan rumahnya terletak di dekat rumah Ibu. Jarak perjalanan 15 menit. Semua kriteria itu pas dan sesuai dengan keinginanku, terutama keinginan Ibu.

Sampai di rumahnya, aku disambut oleh Ibu, tante, kakak dan saudaranya yang lain. Kami bicara banyak hal satu sama lain antara keluargaku dan keluarganya. Hari itu adalah acara perkenalanku dengan Poppy. Aku pun meminta nomor telpon dia agar aku bisa PDKT dengannya. Jika melihat respon dari keluarganya, mereka setuju jika aku menikah dengannya.

Tapi, ternyata tidak semua yang kamu inginkan sesuai dengan harapan. Setelah aku mendapatkan nomor telponnya, aku segera menghubungi Poppy. Dia membalas chat seperlunya bahkan dengan tulisan yang sangat pendek. Seperti Ya, nggak, oh, lagi ngajar dan lain-lain. Awalnya aku berpikiran bahwa dia memang sedang sibuk atau hadphonenya dicas. Namun, aku sadar bahwa perempuan ini memang tidak mau denganku. Aku sudah berpengalaman berkenalan dengan beberapa perempuan yang pernah dekat denganku atau yang pernah jadi pacarku. Aku tahu, mana perempuan yang benar-benar suka sama aku atau yang cuek bahkan yang sama sekali tidak mau memberikan respon kepadaku. Aku tahu itu. Oleh karena itu, ia aku tinggalkan. Aku harus meninggalkan yang meragukan. Harusnya Poppy bilang saja terus terang kepadaku bahwa dia memang tidak mau atau seandainya dia sudah punya pacar, langsung saja katakan.

Nih, ya bagi semua perempuan yang sedang menjalani perjodohan oleh orang tuanya, jika kamu memang tidak suka dengan laki-laki yang dijodohkan kepadamu, kamu harus bilang kepada si laki-laki itu dan keluarganya bahwa kamu memang tidak mau. Jangan bersikap kekanak-kanakan yang diam, tidak merespon dan ditelpon juga tidak diangkat.

Tentang Poppy aku belajar bahwa perempuan ini mau menemuiku karena orang tua yang menyuruhnya. Padahal ia sendiri sebenarnya tidak mau. Di hadapanku dan orang tuanya dia bilang mau berkomunikasi denganku dan menerima silaturahim dari keluargaku tapi pada kenyataannya dia tidak mau.

#

“Wow, ternyata cewek seperti itu memang ada ya. Yang pura-pura. Via jadi ingat akan hal yang sedang terjadi sekarang.”

“Emang kamu kenapa?”

“Ah gak seru kalau sekarang. Lanjutin aja dulu ceritanya. Nanti Via janji akan cerita. Masih adakah?”

Aku mengiyakan. Tentu saja masih ada. Karena sampai sekarang, aku sudah beberapa kali gagal dalam menjalin hubungan.

#

Namanya Sri. Kami sama-sama dipertemukan oleh orang tua yang punya harapan baik untuk anak-anaknya. Usianya 3 tahun lebih tua daripada usiaku. Sri adalah seorang bidan di sebuah rumah sakit. Sri seorang yang tomboy, cuek, keras kepala tapi sayang sama anak-anak.

Setelah aku bertemu dengannya, aku berharap dia memberikan respon yang baik. Aku menghubunginya dan menanyakan kabar dia. Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Aku ingin tahu banyak tentang dia. Aku ingin mengetahui sifat, karakter dan kesukaannya. Aku ingin tahu tentang dia. Aku ingin tahu tentang perempuan yang nantinya akan jadi calon istriku. Namun, tidak semua hal berjalan seperti yang aku inginkan. Sri mengabaikan semua BBM aku hampir seminggu lebih. Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya perempuan ini mau gak sih aku deketin? Kalau lihat respon dari orang tuanya, mereka setuju dengan perjodohan ini. Aku berpikir, Sri sama saja dengan Poppy.

Singkat cerita, sebulan telah berlalu dan hari Sabtu itu adalah acara pengajian untuk 40 harian wafatnya Almarhum Bapak. Aku pun pulang untuk menghadirinya.

Ketika aku sedang berada di bus menuju Tasik, tiba-tiba saja Sri menghubungiku. Intinya, dia melakukan pengabaian itu untuk mengetes aku. What? Tes? Kamu pikir aku ini anak SD yang mau ikut ujian? Kalau memang dia suka atau minimal menghargai usaha dari orang tuanya yang ingin menjodohkan dia denganku, harusnya dia merespon aku. Aku tidak muluk-muluk. Aku juga tidak datang ke rumahnya saat itu untuk langsung mengajaknya nikah. Tidak. Tidak seperti itu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku ingin mengenalnya terlebih dahulu. Tapi, bagaimana kamu bisa mengenal seseorang, jika dia sendiri tidak mau dihubungi? Jelas, aku menyimpulkan bahwa ia tidak suka dengan aku.

Sri mengatakan jika ia susah menerima seseorang yang baru ia kenal untuk jadi calon suaminya. Semua perempuan juga akan bersikap seperti itu. Masalahnya adalah apakah perempuan itu sendiri mau atau tidak untuk memberikan kesempatan kepada laki-laki agar bisa mendekatinya? Jika didekati saja tidak mau, jika dihubungi saja tidak mau, jika diajak bicara saja tidak membalas dengan baik, lalu apa yang tersisa untuk dilakukan?

Katanya, selama ini ia pikir-pikir, apakah ia ingin melanjutkan hubungan perkenalannya denganku atau tidak. Lama sekali ia berpikir hingga semuanya terlambat. Ya, terlambat. Ia muncul kembali setelah aku memutuskan untuk mencari calon istri yang lain.

#

“Kok, A Rama malah pergi sih. Padahal Teh Sri-nya kan udah mau?”

“Harusnya seperti itu ya? Aku itu kalau sekali disakiti tidak mau lanjutin. Soalnya dulu jauh sebelum ada Poppy atau Sri, aku pernah berjuang mati-matian dan berkorban banyak untuk seorang perempuan. Mau aku disakitin pun aku tetap sayang. Tapi dia tidak melakukan hal yang serupa. Karena sebenarnya dia tidak cinta aku dan memilih orang lain untuk menikahinya. Ternyata saat kami berpacaran, ia sudah ‘berhubungan’ atau selingkuh dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Dia tidak salah. Dia berhak memilih lelaki mana saja untuk menjadi suaminya. Hanya aku yang bodoh. Kenapa dulu sangat percaya dia. Untuk cerita perempuan ini, aku tidak mau berbagi ya.”

“Iya, A. Gak apa-apa. Via ngerti. Sesuatu yang sangat menyakitkan kadang sudah tidak bisa diceritakan. Bukan karena tidak mampu bercerita tetapi karena hati sudah enggan untuk mengingat lukanya. Itu sama seperti yang baru saja aku alami.”

Aku memandangi wajah Via. Raut mukanya yang sebelumnya ceria kini berubah menjadi layu dan pucat.

Halaman Berikutnya >>

Advertisements

Comments are closed.