Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Untukmu, Ramadhan (Cerita Pertama)

Bagian 6 – Kapan Kawin?

Tokoh : Via

Seperti janjinya, bus jurusan Jakarta-Tasik ini berhenti di rumah makan. Kami diberi waktu setengah jam untuk istirahat, makan, solat atau buang hajat.

Menghirup udara malam tidak pernah sehebat ini. Ada aroma kebebasan yang masuk ke dalam tubuh. Rasa pegal dan pantat yang kesal karena berjam-jam hanya duduk di kursi bus, kini mulai berelaksasi.

Setelah ke kamar mandi dan solat, aku bergegas menuju tempat makan. Jam 9 malam. Wuah.. aku tak percaya, baru sekarang bisa makan dengan benar. Para penumpang lain pun sedang asyik melahap lauk pauk khas Sunda.

Masakannya sederhana saja. Hanya ada nasi dan goreng ayam dadakan. Lalu kita tinggal pilih menu pendampingnya seperti tahu, tempe atau berbagai jenis pepes. Kalau sambal dan lalapan tidak usah ditanya. Di sini free. Semua pengunjung bisa mengambil sambal dan lalapan sesuka hatinya.

Pesanan aku sudah datang. Pelan-pelan aku mulai memotong bagian sayap ayam, mengambil dagingnya sedikit dan mencampurnya dengan nasi hangat. Atau mencocol lalapan ke sambal terlebih dahulu kemudian baru mengambil nasi dan ayam. Bagaimana pun cara kamu makan, Insya Allah tetap enak.

Dari tadi aku celingak-celinguk mencari seseorang. Kemana sih A Rama? Mataku berkeliling, menyapu seluruh ruang di rumah makan ini. Sementara itu tangan masih mengepal nasi dan mulut masih mengunyah suapan sebelumnya. saat aku berbalik arah lagi, eh orang yang aku cari sedang menuju kemari.

“Wuih, lahap benar makannya, Neng!”

“Abis makanannya enak sih.”

Aku ngeles. Makanannya memang enak kok, tapi kebetulan lagi lapar jadi malam ini aku makan banyak. Aku berusaha mencari pembelaan untuk diriku sendiri. Malu lah, nanti aku akan diingat sebagai perempuan si tukang banyak makan oleh A Rama. Eh tapi, apa aku akan diingatnya gitu? Kegeeran banget ya.

“Rumah Makan Ponyo ini sudah terkenal sejak dulu, Via. Tempatnya tidak hanya di Nagrek saja. Sudah 43 tahun lho usaha rumah makan ini berjalan.”

“Wow serius?”

“Iya beneran. Selain ayam goreng, disini menu favorit lainnya yaitu sop buntut. Tapi sayang, sudah habis pas buka puasa tadi. Tadinya aku juga mau mesan sop buntut. Ternyata belum rezekinya aja. Jadinya makan ayam goreng deh.”

Lalu seorang perempuan berkerudung abu-abu datang menghampiri kami. Ia memberikan pesanan makanan punya A Rama.

#

Suara klakson bus mengagetkanku. Abang Kondektur berteriak memanggil-manggil para penumpang agar kembali masuk ke dalam bus. Tidak butuh waktu lama, bus sudah terisi kembali.

Alhamdulillah, kenyang banget. Kapan ya terakhir makan kayak gini? Oh iya, mumpung perut sudah terisi dan energi sudah on lagi, aku masih punya janji untuk cerita kepada teman seperjalananku ini.

Rasanya tidak adil kalau hanya dia saja yang bercerita tentang cerita cinta dari masa lalu. Aku juga jadi tertarik untuk menceritakan keluh kesahku ini. Yang kebetulan, kejadiannya baru aku alami.

Walau baru kenal, tapi aku tidak keberatan. Dia orangnya asyik kok. Lagipula nantinya kita tidak akan bertemu lagi. Dari pengalaman aku naik transportasi umum dan bertukar cerita dengan teman seperjalanan, tidak pernah terjadi sekali pun kepadaku kalau aku bertemu dengan mereka di kemudian hari.

Jadi, aku anggap malam ini adalah malam curhat. Curhat kepada stranger. Really, really stranger. Orang asing yang baru aku temui hari ini.

“Oia, A. Masih mau dengerin ceritaku gak? Tadi kan keburu kepotong sama istirahat.”

“Kalau Via tidak merasa keberatan dan mau bercerita, silakan saja. Aku mau dengerin. Lumayan kan bisa mengisi waktu sampai kamu turun di Leles.”

Aku tersenyum. Menceritakan kondisi dan keadaanmu yang patah hati kepada orang lain memang bisa membuatmu lega. Bahkan sebelum ceritanya dimulai. Kalau kamu lagi galau dan sakit hati, jangan dipendam sendirian. Kamu harus bercerita kepada orang yang kamu percaya.

Hmm.. ngomon-ngomong tentang percaya, apakah sekarang aku sedang menaruh kepercayaan pada orang asing ini? Entahlah, aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Dan sekarang hatiku berkata kalau aku harus mulai bercerita kepadanya.

#

Hari itu memang pantas mendapatkan piala hari paling rumit sedunia bagiku, karena hari itu menyaingi semua kisah dramatis dan menyedihkan di film-film.

Tepatnya dua hari setelah puasa Ramadhan dimulai, aku mempunyai rencana buka bersama bareng Daniel, pacarku. Tetapi ia menolak ajakanku dengan alasan ada acara keluarga. Aku tidak terlalu ambil pusing. Jika hari ini tidak bisa, masih ada hari esok untuk bukber.

Bukber boleh batal sama Daniel, tapi tidak dengan yang lain. Aku menghubungi Alexandra. Ternyata ia juga tidak bisa ikut bukber denganku.

Namun ada hal aneh yang kurasakan. Ketika tadi saat kita telponan, aku mendengar suara seseorang di belakangnya. Suara lelaki. Siapa ya? Setahuku Alexandra tidak punya pacar. Ah bisa saja teman kerjanya.

Kok aku jadi penasaran gini ya. Aku pun iseng buka instagram dan search namanya. Ada postingan foto terbarunya. Ia sedang berada di Grand Indonesia bersama lima orang lainnya. Empat orang yang ada di foto itu, aku tidak mengenali mereka. Tapi, ini apa. Aku tidak salah lihat kan? Ada Daniel di situ.

Tadinya aku mau simpan handphoneku. Tapi ada sebuah rasa curiga yang enggan pergi dari hati. Aku buka lagi Instagram dan melihat fotonya satu per satu. Semakin aku scroll ke bawah, semakin aku kaget dan shock. Ada beberapa foto mereka berdua.

Tidak cukup sampai disitu. Aku membuka akun Instagram milik Daniel. Dia tidak sering upload foto tetapi ada satu foto yang menohok jantungku yaitu foto Daniel yang sedang memegang kue ulang tahun dan Alexandra mencium pipi kanan Daniel.

Aku ingat hari itu. Hari ulang tahun Daniel setahun yang lalu. Aku tidak bisa pergi menemuinya karena aku sedang melakukan perjalanan dinas bersama bos.

Sebagian isi hatiku menolak kenyataan ini. Bisa saja kan ini hanya ekspresi seorang teman biasa. Tapi sebagian hatiku bersikeras untuk menuntut kebenaran.

Walau bagaimana pun juga, Daniel adalah calon suamiku. Kita berdua akan melakukan acara lamaran setelah Lebaran tahun ini.

Aku segera meluncur menuju Grand Indonesia. Aku sudah tidak sabar untuk menemui mereka berdua.

#

“Kamu jadi bertemu dengan mereka?’

“Iya. Daniel kaget saat aku memergokinya sedang bemesraan dengan Alexandra.”

“Lalu, apa yang terjadi setelah itu?”

“Aku marah kepada mereka. Aku bahkan sempat menampar Alexandra. Keesokan harinya Alexandra menemuiku di rumah. Ia mengaku kalau selama ini ia dan Daniel telah menjalin hubungan kasih asmara.”

Kemudian aku melanjutkan kembali ceritaku kepada A Rama hingga selesai. Bercerita kepadanya terasa lega dan seakan satu per satu masalahku menjadi lebih ringan. Jika benar seperti itu, setiap saat aku galau karena suatu masalah, aku pasti akan mencarinya untuk bercerita.

Lelaki tinggi dan beraroma parfum cokelat ini terdiam. Aku pun ikut-ikutan diam. Dalam hening, aku bisa mendengar degup jantungku lebih kencang. Raut wajah A Rama menyiratkan sebuah perasaan iba kepadaku. Mungkin ia baru bertemu dengan orang yang sama-sama pernah patah hati.

Degupan jantungku ini terus terdengar. Adrenalinku terpompa saat aku bercerita dengan penuh emosi. Sebentar lagi puasa akan berakhir. Berarti kurang lebih sudah hampir satu bulan aku merasakan gejolak emosi yang campur aduk antara marah, kesal, sedih dan kecewa.

“Sebentar lagi mau sampai Leles. Sebaiknya kamu siap-siap.”

What? Masa sih sudah mau sampai? Aku mulai menata kerudung lalu membuka tas mencari bedak. Touch up sebentar saja. Menepuk-nepuk pipiku yang chubby ini. Lalu mengambil cermin kecil dan memastikan wajah terlihat cantik dan tidak ada satu pun belek atau bahkan upil yang menggelantung bebas di sekitar muka blasteranku ini.

Tak berapa lama suara Abang Kondektur terdengar. Ia meneriakkan LELES berulang kali sebagai tanda kepada penumpang yang akan turun di Leles agar segera bangun dari kursi bus lalu berjalan perlahan menuju baris terdepan bus.

Perjalanan mudik kali ini luar biasa berharga bagiku. Jarang-jarang aku bisa merasakan pengalaman seperti ini. Dan jarang sekali aku bertemu teman seperjalanan yang asyik diajak ngobrol.

Aku melirik ke belakang ke arah kursi tempat aku duduk tadi. A Rama memberikan senyuman kepadaku.

Aku jadi berpikir, apakah mungkin aku bisa bertemu dia lagi? Atau kami berdua hanya akan menjadi teman perjalanan yang bertemu sekali lalu berlalu dan tidak pernah bertemu lagi?

Aku berbalik kembali ke arah depan. Hanya tinggal beberapa meter lagi bus ini akan sampai di tempat tujuanku. Tapi lagi-lagi, hatiku merasa berat.

Ah, ini hanya perasaanku saja. Dasar gadis baper. Aku mengutuk diriku sendiri. Sudahlah, Via. Lupakan saja. Toh semua lelaki sama saja kan. Brengsek. Kurang ajar dan nyebelin.

Duh, kok aku jadi latah ngatain orang sih. Tapi memang benar seperti itu kan. Contohnya Daniel dan mantan pacarku sebelumnya, Riko. Mereka berdua sama saja.

Dug! Dug! Dug!

Detak jantung ini tak bisa lagi diajak berkompromi. Keringat dingin mengalir dari pori-pori kulit bagian atas. Dari wajah dan punggung. Serasa basah semuanya.

Perasaan apa ini?

Aku melirik kembali ke belakang. Lho dia kok gak ada? Apa selama ini aku bicara sama hantu?

“Leles, Leles!”

Abang Kondektur berteriak. Ia mengagetkanku. Aku kembali melihat ke depan. Tangan kiriku bertugas memegang tas selempang dan tangan kananku bertugas menjinjing koper.

TAP!

Tiba-tiba saja ada yang menerkam tangan kananku. Spontan aku teriak. AW! Aku berbalik dan ternyata A Rama sudah berdiri di sampingku. Tangannya yang kekar memegang pergelangan tanganku. Lalu aku merasakan ada sesuatu yang kemudian ia selipkan di genggaman tanganku.

“Hati-hati di jalan, Via. Jika sempat, tolong hubungi nomor ini agar aku bisa tahu nomormu.”

Aku hanya mengangguk perlahan dan sedikit menyunggingkan senyuman. Padahal hati ini bersorak sorai bergembira dengan momen seperti ini.

Semenit kemudian, bus itu melaju dan meninggalkan debu yang beterbangan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Aku segera membuka genggamanku. Ternyata sebuah kartu nama. Tanpa pikir panjang, aku keluarkan handphone dan melihat namanya : MUHAMMAD RAMADHAN KARIM AL-JABBAR.

Wuih.. panjang sekali namanya. Eh tapi namaku juga kan panjang. Hehe.. Aku save dengan nama A RAMA saja biar lebih pendek.

Aku kembali membuka layar handphone. Kali ini aku mencari nama Papa dan menelponnya menanyakan jemputan.

“Tunggu di sana. Sebentar lagi Mang Diman jemput kamu.”

Sementara menunggu jemputan, aku duduk di sebuah kursi yang berada di pinggiran jalan. Jam 1 pagi jalanan masih sangat ramai. Arus mudik memang selalu seperti ini setiap tahunnya.

Aku menghela nafasku dalam-dalam. Merasakan setiap hembusan nafas dan oksigen yang masuk menelusuk memasuki ruang di dalam paru-paru. Segar sekali. Pagi yang dingin dan menyejukkan.

Peristiwa sebulan yang lalu, janjiku kepada Papa tiga tahun yang lalu, dan pertemuan dengan A Rama hari ini, kalau dipikir-pikir semuanya serba cepat. Iya waktu serasa berlalu begitu cepat.

Hal yang terjadi sebelumnya memang tidak bisa aku ulang. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana aku bisa menghadapi masalah di depan. Terbayang wajah Papa yang akan menagih janjiku. Sedangkan aku belum mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari Papa dan keluargaku.

Sebuah pertanyaan yang hanya berjumlah dua kata. KAPAN KAWIN? Lalu apa pun jawabanmu maka orang yang bertanya akan mengajukan pertanyaan berikutnya, lagi dan lagi.

Andai saja Daniel tidak bikin ulah, tentu aku dengan tegas akan menjawab, “Aku akan menikah bulan sekian, tanggal sekian.”

Sekarang, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Apalagi janjiku kepada Papa untuk menikah di usia maksimal 26 tahun sirna sudah. Oh, akankah aku bernasib seperti Siti Nurbaya yang harus menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya? Apa kata teman-temanku nanti?

Selain aku akan dibully, aku sendiri enggan melakukannya. Tapi sekarang, mau tidak mau aku harus menghadapinya.

Di tengah kekalutanku, tanpa aku komando, tanganku membuka kembali handphone dan mencari nama lelaki yang tadi duduk di dekatku.

Aku buka aplikasi Whatsapp dan menutupnya kembali. Dua menit kemudian aku melakukan hal yang sama. Lalu di usaha yang ketiga aku memberanikan diri untuk mengirim chat kepadanya. Aku menyapanya dan mengatakan untuk menyimpan nomor teleponku. Lalu ia membalas.

Terima Kasih. Akan aku simpan nomornya. Kamu, hati-hati di jalan yah. Semoga selamat sampai rumah dan bisa berani menghadapi Papa-mu. 🙂

Jleb! Kok ia bisa tahu sih apa yang aku pikirkan sekarang? Namun ada sedikit rasa senang menggelayut di pikiranku. Perlahan sebuah semangat mengalir dari senyuman di bibir lalu beralih dan menyebar ke seluruh tubuh.

Ya, aku harus berani menghadapi masalahku sendiri.

A juga hati-hati ya.

Chat pertamaku dengan A Rama itu berulang-kali aku lihat di sepanjang perjalanan ke rumah.

#

Dan akhirnya aku sampai di rumah. Papa dan Mama datang berhamburan bersama seluruh keluarga besar. Bak artis ibu kota yang mau jumpa fans, aku disambut begitu hangat dan penuh dengan keramahan sekaligus keharuan.

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa sampai di rumahku. Lalu bagaimana denganmu, A Rama? Jam berapa kamu akan sampai di rumah? Macet lagi kah ke sana?

Oh, aku harus segera mencari kasur. Aku benar-benar butuh istirahat. Otakku sudah dijejali berbagai macam pikiran. Sebagian berisi kenangan pahit dan sebagian lagi adalah sebuah harapan baik.

Temukan keindahan Pearl lainnya di sini.

 

Advertisements

Comments are closed.