Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

MSM 1 – Tak Ada Gunanya Aku Hidup

Leave a comment

— DINI —

Teman-teman yang satu shift kerja denganku sudah mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Beberapa teman melambaikan tangannya berpamitan pulang. Sementara yang lainnya berjalan santai menuju kantin sekedar untuk melepas penat dari pekerjaan yang membutuhkan kesabaran yang ekstra.

Aku bangun dengan malas dari kursi kerjaku. Aku tak ingin pulang. Tapi aku juga tak mau duduk terus di sini. Dengan langkah gontai dan lemas aku keluar dari ruangan kerja. Melirik kembali sebentar ke dalam ruangan. Dimana Ira? Sepertinya tadi aku melihatnya masih di dalam ruangan dan sedang fokus mendengarkan keluhan dari para customer. Atau mungkin Ira sudah keluar bersama teman-teman yang lain.

Sambil berjalan menuju area parkir motor, aku membuka handphone. Dan seperti yang aku duga, banyak pesan Whatsapp dari Andre yang berisi ajakan untuk balikan, permintaan maaf, bahkan ada pesan yang bernada ancaman. Aku sungguh tak mengerti dengannya. Ia terus-menerus mengirimi pesan yang membuatku tidak nyaman.

Aku mengabaikan pesannya. Tak ada satu pun yang aku balas. Bagiku hubungan kami sudah berakhir. Aku tidak ingin melihatnya lagi.

“Teh Ni, tunggu sebentar!”

Tanti keluar dari dalam kantor dan menghentikan langkahku. Ia menerima telpon dari Satpam, katanya ada orang yang sedang mencariku dan sekarang ia menungguku di lobby gedung.

Siapa ya? Siapa yang bertamu di saat jam pulang kantor? Aku mengarahkan kakiku untuk melangkah menuju lobby. Perasaan apa ini? Kok aku mendadak tidak tenang. Apa mungkin Andre yang datang ke sini?

Aku mempercepat langkah kakiku. Rasa penasaran bercampur prasangka ini sekarang meliputi pikiran. Nafasku tidak beraturan. Aku berusaha menepiskan semua pikiran buruk itu. Tapi….

“Hai, Dini.”

Andre bangun dari sofa merah di ruang lobby gedung kemudian ia menghampiriku.

“Mau apa kau kemari?”

“Untuk jemput kamu pulang lah. Kau sudah baca WA-ku kan?”

“Tidak, aku tak mau pergi bersamamu.”

Aku membalikkan badan dan segera pergi dari lobby tetapi Andre menangkap tas di tangan kiriku dan menariknya lalu tangan kanannya menarik tangan kiriku. Genggamannya kuat sekali, terlalu kuat. Aku merasa kesakitan.

“Lepaskan aku, Ndre.”

“Akan aku lepaskan asal kau mau pulang bersamaku.”

Aku memukul-mukul tangannya sekuat tenaga. Aku tak sudi pergi dengannya. Andre tidak melepaskan genggamannya. Sekarang ia melingkarkan tangan kanannya di pundakku dan memapahku ke luar gedung. Aku diam mematung dan tidak mau bergerak sedikit pun. Andre mengerahkan semua tenaganya dan ia menyeretku keluar gedung.

“Tolong, tolong.”

Andre menarik-narik tubuhku, bahkan ia tega menjambak rambutku. Aku merintih menahan sakit. Aku ingin lepas dari kendalinya. Lebih tepatnya aku ingin lepas dari hubungan apa pun dengannya. Aku sungguh telah melakukan kesalahan. Aku telah salah memilihnya sebagai calon suamiku. Karenanya aku memutuskan ikatan dengannya. Tetapi ia tidak mau melepasku.

Orang-orang yang mendengarku berteriak melihatku dari kejauhan. Beberapa dari mereka berkasak-kusuk membicarakanku. Beruntungnya Pak Ramon dan rekannya datang kemudian berusaha menarik tubuh Andre. Sekarang giliran Andre yang diseret oleh Satpam.

Aku terjatuh ke tanah dan terdiam sebentar. Kulihat tanah yang kering dan berdebu itu tiba-tiba menjadi basah. Ternyata air mataku sudah menetes tanpa kusadari. Kepalaku sakit dan berbagai macam pikiran yang membebaniku seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyiksaku lebih jauh.

Aku tak suka dengan keadaan ini. Lelaki itu sudah bertindak terlalu jauh. Aku berdiri lalu mendekati Andre yang sedang meronta-ronta karena dibekuk oleh satpam. Tanpa pikir panjang aku tampar pipi Andre sebanyak 3 kali. Aku tampar sekeras mungkin.

“Cewek kurang ajar! Beraninya kau menamparku.”

Andre berusaha melepaskan diri dan berniat mengejarku tetapi Pak Ramon tidak membiarkannya begitu saja. Aku berlari sekencang mungkin dari halaman kantor.

Kerumunan orang semakin banyak dan aku merasa malu ditonton seperti ini. Aku berlari menuju belakang gedung. Kemudian masuk ke dalam toilet.

Aku lihat diriku di cermin. Kumal, kotor, rambut berantakan, baju kusut tidak karuan. Mataku juga sembab dan sedikit bengkak. Kenapa aku sampai bisa mengalami hal seperti ini? Diseret di depan umum, dipermalukan dan disakiti. Yang kurang ajar itu kau, Andre.

Aku keluarkan barang-barang dari tas. Aku mencari sesuatu yang tajam. Yang ada hanyalah alat kosmetik, beberapa buku kecil dan tisu. Ah, Ini bukan benda yang aku cari.

Lalu apa yang kau cari, Dini? Aku hanya ingin terbebas dari Andre. Orang itu freak. Awalnya saja baik tetapi lambat laun menjadi posesif dan terobsesi denganku. Aku menjadi takut berdekatan dengannya. Sialnya lagi, Mamaku malah mendukung Andre. Baginya Andre adalah calon mantu terbaik untuk keluarga kami.

Memangnya aku mau balikan sama Andre? Oh, tidak. Aku tidak akan mau. Jika dia tidak melepaskanku dari jeratannya dan tidak ingin aku dekat dengan lelaki mana pun, maka dia juga tidak boleh memilikiku lagi. Jika aku tiada, ia tidak akan mengejarku lagi.

Ya, kurasa ini adalah jalan satu-satunya. Toh, tak ada gunanya aku hidup. Tak ada yang menyayangiku lagi setelah Papa pergi untuk selamanya. Mungkin dengan ini aku bisa bertemu Papa di Surga.

Aku keluar dari toliet dan berpapasan dengan Sam. Ia hanya menganggukkan kepala. Sepertinya ia tidak tahu apa yang sudah terjadi denganku. Kupikir ia baru akan masuk kerja di shift jam 5 sore ini. Toilet ini memang berdekatan dengan area parkir.

Tetapi aku tidak akan mengambil motor dan pulang ke rumah melainkan pergi menuju atap gedung. Hatiku sudah tidak tenang sedari tadi. Tangga-tangga ini rasanya banyak sekali. Untuk menuju atap tidak ada lift atau tangga berjalan. Aku harus menaiki tangga-tangga biasa hingga lantai 7.

Peluh bercucuran dari pori-pori di wajah dan badanku. Aku menyeka wajah dengan tangan. Tinggal beberapa langkah lagi dan aku akan sampai di atap gedung.

***

Tak dapat kusangkal, hembusan angin di sini cukup membuatku merinding. Rambut-rambut halus di tengkuk dan leherku berdiri. Rasanya seperti melihat hantu.

Kuatur nafas agar bisa menghirup oksigen dengan benar. Aku masih tersengal-sengal saat membuka pintu tadi. Aku ingin menenangkan diri tetapi ternyata tidak bisa. Degupan jantung semakin cepat memompa darah ke seluruh tubuh. Mataku berkunang-kunang. Aku harus istirahat sebentar.

Aku duduk sambil membenamkan kepala di kedua paha. Aku dekap kedua kaki dan air mata mengalir tanpa bisa kuhentikan. Kenapa ini bisa terjadi padaku? Aku hanya ingin bahagia. Sulitkah itu terjadi?

Kemudian aku berdiri dan berjalan berkeliling. Aku merenungi kejadian demi kejadian yang telah terjadi akhir-akhir ini.

Dari sini tidak banyak yang bisa kulihat. Hanya ada beberapa gedung kantoran di sekitar gedung ini. Walaupun tidak sebanyak di Jakarta, tetapi sedikit demi sedikit Kota Kembang ini terus berkembang.

Tapi aku belum puas. Pandanganku masih terhalang oleh dinding tinggi yang memagari atap. Aku ingin melihat lebih jelas lagi.

Di sini tidak ada apa pun untuk bisa dijadikan pijakan untuk menaiki pagar yang terbuat dari dinding beton. Yang ada hanyalah saluran pembuangan AC yang berbaris rapi di sudut atap. Sepertinya aku bisa mencoba untuk menaikinya.

Dengan sepatu hak tinggi yang kupakai membuat usaha ini akan sia-sia. Aku pun melepasnya dan membiarkan kakiku telanjang tanpa alas. Aku berhasil menaikinya walau agak kesulitan saat mengangkat kaki. Rok pendek dan ketat ini membatasi jangkauan kakiku untuk bergerak lebih leluasa. Brek! Rokku sobek sedikit di paha sebelah kanan. Tapi tidak apa-apa. Yang penting aku sudah bisa berdiri dan tinggal selangkah lagi menuju pagar beton ini,

Tap!

Akhirnya aku bisa menyeberanginya. Seperti dugaanku, sekarang aku bisa melihat dengan lebih jelas dan terang. Anginnya pun lebih kencang dan dingin. Dari atas sini, aku bisa melihat hiruk-pikuk orang-orang di sekitar gedung.

Di sebelah barat tempatku berdiri ada bangunan tua yang merupakan ruko. Di sana terdapat berbagai macam usaha seperti warnet, counter pulsa, warung makan dan beberapa toko lainnya. Di sebelah utara adalah bagian belakang kantor dan di bawahnya terdapat area parkir. Dan di sisi timur dan selatan berdiri gedung-gedung bertingkat.

Bisa melihat banyak hal baru tentunya membuatku senang. Senang karena aku bisa melihatnya dari sudut yang berbeda. Tapi aku juga sedih, karena mungkin situasi seperti ini tidak akan bertahan lama.

Langkah demi langkah aku berjalan menapaki pagar ini. Aku melakukannya tanpa memikirkan apa pun selain tujuanku untuk hidup. Sepertinya Papa memang ingin menjemputku sore ini. Aku melihat ke bawah dan hatiku bergetar. Astaga, tinggi sekali aku berdiri. Kakiku sedikit bergetar. Tapi aku abaikan. Aku terus berjalan memutari atap ini.

Tiba-tiba handphoneku bergetar. Aku segera mengambilnya dari tas lalu mengangkat telepon.

“Hei, cewek sialan! Beraninya kau menamparku di depan semua orang. Akan kulaporkan tingkahmu ini ke Mama. Biar tahu rasa,” suara Andrea melengking memekakkan telinga.

“Kau akan menyesali ini, Dini. Dengar, aku tidak akan pernah melepaskanmu begitu saja. Kau tahu, aku adalah lelaki paling cocok dan sesuai untukmu. Kau dengar itu? Hah!”

Aku tidak berkata apa-apa. Aku tutup teleponnya. Sesak di dada semakin terasa. Dan semakin lama, semakin sakit dan sempit. Aku sudah tidak bisa mengatur nafasku lagi. Aku juga sudah tidak mampu menahan emosi ini.

Aku lihat kembali handphone. Terdapat beberapa notifikasi pesan chat dari Andre. Orang ini benar-benar menyebalkan. Aku tidak ingin mendengar lagi suaramu. Aku tidak ingin melihat tampang mesummu. Aku tidak mau berada di dekatmu.

Jika itu yang kuinginkan sekarang, sebaiknya aku matikan saja nomorku. Ah itu tidak cukup, sekalian saja dengan handphonenya. Tanpa pikir panjang, aku lemparkan handphoneku ke bawah. Kudengar suara benturan keras seperti mengenai sesuatu. Aku condongkan tubuhku sedikit untuk melihatnya. Terrnyata lemparanku tadi mengenai kanopi di atas area parkir kemudian handphone itu melambung dan tergeletak pasrah di tanah. Dapat kupastikan handphonenya rusak.

Aku tidak peduli lagi dengan handphoneku. Bahkan dengan diriku sendiri. Aku berjalan kembali memutari pagar.

Tunggu apa lagi, Dini. Untuk apa kau hidup di dunia yang tidak menginginkanmu hidup di dalamnya. Mamamu juga membencimu. Teman-temanmu tidak ada yang mengerti kondisimu. Sudah, lepaskan semuanya. Sekarang meloncatlah ke bawah agar kau bisa segera menemui Papa di Surga.

Suara apa ini? Siapa yang bicara barusan? Apa mungkin aku sudah gila? Oh, sungguh aku tidak peduli dengan itu semua. Jika itu bisikan setan, mungkin aku akan menurutinya. Kata-katanya benar. Lebih baik aku pergi dari dunia ini.

Aku menghentikan langkah kakiku. Aku memejamkan mata sebentar. Aku mengumpulkan semua keberanian. Ini adalah jalan satu-satunya.

Aku membuka mata lalu bersiap-siap untuk terjun ke bawah.

“Dini, hentikan!” sebuah suara mengagetkanku.

Aku berbalik dan di pintu atap ada Gilang yang berdiri sambil menatapku. Ia berjalan perlahan ke arahku.

“Berhenti di sana, Lang. Aku tidak mau kau melihatku seperti ini. Kau harus pergi dari sini.”

***

Cerita selanjutnya dapat kamu baca di sini.

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s