Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

MSM 3 – Pikiran Pendek

Leave a comment

–DINI—

Hari itu awalnya biasa-biasa saja. Semua orang pada umumnya membenci pagi-pagi hari Senin, tapi aku tidak. Bukan hanya Senin saja, semua hari aku suka, asal aku bisa keluar dari rumah. Lepas dari bayang-bayang Mama yang selalu membela Andre dibandingkan anaknya sendiri.

Aku senang datang pagi-pagi ke kantor, menyalakan komputer, membereskan meja kerja dan mengelapnya sampai kinclong. Work Station-ku berada di paling pojok sebelah kiri ruangan. Bersebelahan dengan Ira dan Kaka, teman kerjaku yang bawel dan heboh. Kalau ada mereka, rasanya beban dalam dadaku seakan terangkat dan hilang begitu saja. Biasanya sebelum mulai bekerja, kami mengobrol banyak hal. Biasanya tentang berita apa yang sedang hot, baik di tempat kerja atau di dunia maya. Selalu ada kabar baru dari Ira yang hobi menggunakan sosial media.

Dulu, saat pertama kali aku bekerja di sini, rasanya seperti masuk hutan rimba. Agen-agen Call Center yang lebih senior terlihat galak dan jutek. Tak mau memberikan tips atau solusi untuk setiap permasalahan yang aku hadapi. Tetapi itu hanya dugaan awal. Ternyata semakin aku kenali, mereka hangat dan very welcome terhadap kehadiran agen baru sepertiku.

Sekarang, aku malah tak mau pergi dari kantor ini. Di sini semacam area untuk kabur dari masalahku dengan Mama dan calon suamiku, Andre. Sewaktu Papa masih hidup, ia telah berjanji akan mengenalkan aku kepada anak dari teman karibnya semasa kuliah. Papa tidak berniat menjodohkanku. Ia berkata kalau aku bebas memilih lelaki untuk pasangan hidupku kelak. Tetapi setidaknya kata Papa, ia ingin mengajukan seseorang untukku. Keputusan tetap berada di tanganku, kata Papa.

Tak ada paksaan apa-apa dari keluargaku dan keluarga Andre. Semua tergantung padaku, apakah aku akan menerimanya atau tidak. Namun, Papa lebih cepat pergi daripada yang kuduga. Beliau wafat 4 tahun yang lalu. Dan sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya, ia berpesan kepadaku agar mau menikah dengan Andre. Ketika Papa meninggal, aku dan Andre ada di sana. Di ruangan rumah sakit, bersama dengan keluarga kami.

Sikap Andre berangsur-angsur berubah dari mulai perhatian biasa, intens hingga menjadi posesif dan berambisi untuk memilikiku. Aku bahkan merasa sudah tidak punya privasi lagi. Jadwal kerja dan libur pun sudah diketahui oleh Andre dan dia selalu mengikutiku. Mamaku yang memberitahunya. Awalnya aku woles saja. Tetapi lama-kelamaan aku jadi ill-feel. Terlalu mengekang. Itu yang aku rasakan dari Andre. Tidak boleh ini-itu. Padahal kami belum menikah.

Beruntungnya, aku mempunyai teman-teman yang baik hati. Selain Ira dan Kaka, ada temanku yang bernama Gilang. Dia cukup dekat denganku. Bahkan teman-teman menyangka kami telah pacaran. Aku merasa nyaman bersama dengan Gilang. Baik sebagai teman kerja atau teman pelarian perasaan. Ah lebay gak sih aku? Tapi mau bagaimana lagi. Gilang seakan oase yang aku temukan di padang pasir. Ia mengobati rasa hausku akan perhatian dan kasih sayang yang tulus dari seorang laki-laki.

Lalu tiba-tiba aku melihat diriku sedang berdiri di tepian pagar beton di atap gedung. Apa yang sedang kulakukan? Apakah itu memang diriku? Aku terlihat depresi dan murung. Diriku di sana akan meloncat ke bawah, sementara itu Gilang datang untuk menyelamatkanku.

“Aku tak akan melepaskanmu.”

Gilang tersenyum kepadaku dan tubuhnya terjun ke bawah. Tanganku hendak menggapainya tetapi ia terlanjur jatuh.

Ada apa ini? Ini mimpi kan?

###

Suara ira membangunkan tidurku. Aku membuka mata perlahan-lahan dan kudapati diriku berada di kamarku sendiri. Sepertinya aku tadi bermimpi sedang bekerja lalu bertemu Gilang dan anehnya aku lihat Gilang melayang-layang di udara kemudian terjatuh. Sepertinya aku memang bermimpi buruk.

“Kau sudah bangun, Dini. Syukurlah.”

Ira memelukku erat. Lalu air matanya membasahi punggungku. Ia kemudian menceritakan apa yang terjadi denganku sore tadi. Mendengar penjelasan dari Ira, aku jadi teringat kejadian tersebut, yaitu saat aku hendak bunuh diri tetapi Gilang datang menyelamatkanku.

“Dimana dia sekarang, Ra?”

“Ia sudah dibawa ke rumah sakit. Ada Dadan dan Ivan yang nemenin Gilang.”

Aku tak bisa menahan haru di mataku. Tetes demi tetes air mataku turun. Mataku berkaca-kaca. Betapa bodohnya diriku ini. Berpikiran pendek untuk bunuh diri. Lihat hasilnya. Aku malah membuat orang lain celaka karena ulahku.

Dibandingkan dengan Gilang yang terluka parah, aku hanya mengalami lecet di lutut dan punggungku terasa pegal. Aku sangat ingin menjenguknya di rumah sakit. Tapi Mama melarangku pergi ke sana. Aku sudah berulang-kali berkata kepada Mama bahwa Gilang telah menolongku dan aku ingin menemuinya. Aku ingin tahu kondisinya. Aku ingin berterima kasih kepadanya.

Mama tetap tidak mengizinkanku pergi. Aku hanya boleh pergi jika Andre yang mengantarku. Ira sudah berusaha membujuk Mama tetapi Mama tetap pada pendiriannya.

“Lang, aku harap kamu segera sembuh.”

Aku memeluk Ira. Tangisku semakin lama semakin keras dan deras.

###

Cerita selanjutnya dapat kamu baca di sini.

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s