Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Lupa Membaca Niat Puasa

2 Comments

Saya lupa berniat puasa pada waktu malam. Kemudian saya teringat setelah fajar bahwa saya belum berniat. Apakah puasa saya sah?

Niat merupakan sesuatu yang mesti ada dalam puasa. Puasa tidak sah tanpa adanya niat. Mayoritas ulama mensyaratkan agar setiap hari mesti berniat puasa, sebagian ulama mencukupkan satu niat saja pada awal malam bulan Ramadhan untuk niat satu bulan secara keseluruhan. Waktu berniat adalah sejak tenggelam matahari hingga terbit fajar. Jika seseorang berniat melaksanakan puasa di malam hari, maka niat itu sudah cukup, ia boleh makan atau minum setelah berniat, selama sebelum fajar.

Imam Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Siapa yang tidak menggabungkan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.

Tidak disyaratkan melafalkan niat, karena tempat niat itu di hati. Jika seseorang sudah bertekad di dalam hatinya untuk melaksanakan puasa, maka itu sudah cukup. Meskipun hanya sekedar bangun pada waktu sahur dan berniat akan melaksanakan puasa, itu sudah cukup, atau minum agar tidak merasakan haus pada siang hari, maka niat itu sudah cukup. Siapa yang tidak melakukan itu pada waktu malam, maka puasanya tidak sah, ia mesti meng-qadha’ puasanya. Ini berlaku pada puasa Ramadhan. Sedangkan puasa sunnat, niatnya sah dilakukan pada waktu siang hari sebelum zawal (matahari tergelincir).

Sumber :

Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar – Fatawa al-Azhar, juz. IX, hal. 266 [Maktabah Syamilah],

###

Dari Buku 30 Fatwa Seputar Ramadhan
Fatwa diambil dari tiga ulama besar Al-Azhar; Syekh ‘Athiyyah Shaqar, Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi dan Syekh DR. Ali Jum’ah
Pekanbaru, 1 Rajab 1432 H / 3 Juni 2011 M.
Penyusun dan Penterjemah.
H. Abdul Somad, Lc., MA.

Pelajari ilmu tentang puasa di sini.

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

2 thoughts on “Lupa Membaca Niat Puasa

  1. Yang aku heran kadang ada orang orang yg memperdebatkan nggak sah kalau niat tidak dilafadzkan.

    Setau saya niat itu tidak harus mengucap (dalam hati) nawaitu dan seterusnya. Cukup dalam hati dan nggak harus nawaitu ckup niat dalam hati bahwa esok hari mau berpuasa.

    Bagaiamana pendapat anda tentang pandagan saya mengenai hal ini?

    • Di akbir post sudah dijelaskan bahwa melafadzkan niat itu ada di hati. Coba baca ulang dan lebih teliti.

      Masalah niat bukan hanya orang umum saja yang berbeda pendapat. Dari contoh lafal niat sholat saja ada ikhtilaf dari 4 Imam Madzhab. Sebagai orang awam kita ikut ke oendapat Imam yang kita yakini.

      Kalau untuk urusan agama, mukmin mesti mengikuti fatwa bukan menurut ‘saya’.

      Dalam bukunya ini Ustadz Abdul Somad telah menerjemahkan dari fatwa para syekh besar Al-Azhar yang keilmuan agamanya mumpuni dan tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s